Pameran PON XX Merauke Libatkan Ratusan Pengusaha Lokal

Metro Merauke – Pameran Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) dalam rangkaian hajatan PON XX Papua klaster Kabupaten Merauke melibatkan sedikitnya 164 pengusaha lokal Merauke.

Sebanyak 99 lapak dibuka dalam pameran tersebut. Ada beraneka ragam barang jualan, mulai dari jajanan khas, makanan hingga hasil kerajinan tangan mama-mama Merauke seperti noken dan riasan.

Pameran yang berlokasi di Jalan Brawijaya, tepatnya di depan kantor bupati, dibuka oleh Bupati Merauke Romanus Mbaraka pada Selasa (5/10/2021) malam.

Bupati Merauke, Romanus Mbaraka mengatakan pemerintah daerah membuka pameran dalam rangka menggeliatkan ekonomi masyarakat selama hajatan PON Papua berlangsung di daerah tersebut.

Pameran ini dibuka dengan maksud untuk memudahkan kontingen serta tamu undangan PON XX dalam mencari dan membeli oleh-oleh khas Merauke.

“Kebijakan membuka pameran ini untuk mengangkat produktivitas masyarakat, dan diharapkan bisa menambah pendapatan ekonomi masyarakat,” kata Romanus.

Selain itu, kata bupati, dengan memusatkan tempat pembelanjaan hasil kerajinan masyarakat, pemerintah daerah setempat bermaksud meminimalisir penyebaran Covid-19 selama hajatan PON.

“Sengaja kita pusatkan, sehingga mereka (kontingen PON) tidak berkeliling mencari oleh-oleh. Dengan terpusat begini, bisa lebih terkontrol,” ujarnya.
Romanus menambahkan bahwa dari data yang ada, diperkirakan sekitar 7.800 orang yang hadir di Merauke dalam rangka mengikuti maupun menyaksikan hajatan PON di wilayah tersebut.

“Dengan kedatangan atlet, ofisial dan tamu undangan itu, kita harapkan terjadi peningkatan ekonomi masyarakat,” imbuhnya.

Stand pameran UMKM di Merauke

Salah satu mama Merauke penjual hasil kerajinan tangan, Fransiska Saveria Dou mengatakan bahwa ia memanfaatkan momen PON untuk memasarkan hasil karya tangan sejak 30 September 2021.

“Kalau di pameran, ini baru hari kedua. Sebelumnya saya sudah jualan sejak tanggal 30 kemarin.
Pendapatan dari jualan sangat lumayan, terutama di pameran ini,” kata Fransiska.

Barang yang dipasarkan berupa noken berbagai jenis, sandal rajut, dompet rajut, tas batik Papua, baju Papua, minyak kelapa murni, dan aksesori seperti gantungan kunci, gelang, kalung dan cincin.

“Noken itu macam-macam, ada noken dari kulit pohon genemo, noken dari benang polester dan noken Asmat. Tidak semua diproduksi sendiri, ada yang dipesan dari luar,” ujarnya.

Fransiska mengharapkan agar pemerintah daerah membangun tempat permanen bagi mama-mama Papua, sehingga mereka dapat menjual berbagai hasil kerajinan tangan.

“Selama ini kami sewa tempat, kalau bisa pemerintah bangun tempat khusus begitu, sehingga kami mama-mama Papua bisa jual hasil kerajinan tangan,” pintanya. (Eman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *