Legislator Papua: Pergantian Pimpinan OPD Pemprov Papua Tebang Pilih

Metro Merauke – Sekretaris Fraksi Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) DPR Papua, Natan Pahabol berpendapat pergantian pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi atau Pemprov Papua, terkesan tebang pilih.

Pernyataan itu dikatakan anggota komisi bidang pendidikan, kesehatan dan olahraga DPR Papua tersebut, berkaitan dengan pergantian tiga pimpina OPD di lingkungan Pemprov Papua, Jumat (20/08/2021).

Menurut Natan Pahabol, yang patut dipertanyakan mengapa hanya tiga pimpinan OPD yang diganti. Mereka adalah, Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah, Christian Sohilait, Kepala Biro Pengadaan Barang dan Jasa, Yorem Wanimbo serta Direktur RSUD Jayapura, Aloysius Giay.

“Kalau pergantian ini berdasarkan hasil evaluasi dan sebagai peringatan untuk pimpinan OPD, mengapa hanya tiga pimpinan OPD yang diganti? Inikan terkesan tebang pilih,” kata Natan Pahabol, Sabtu (21/08/2021).

Katanya, apabila Gubernur Papua, Lukas Enembe benar benar melakukan evaluasi menyeluruh, mestinya ada sejumlah kepala OPD yang diganti. Sebab, mereka juga dianggap tidak maksimal dalam melaksanakan tugas selama ini.

“Buktinya dalam LKPJ (laporan keterangan pertanggung jawaban) Gubernur Papua tahun anggaran 2020, ada Silpa (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) senilai Rp 3,21 triliun,” ucapnya.

Sekretaris Fraksi Gerindra DPR Papua, Natan Pahabol

Natan Pahabol mengatakan, Aloysius Giay selama ini merupakan salah satu salah satu pioner, dalam lingkup OPD Pemprov Papua. 

Bekas Direktur RSUD Abepura dan Dinas Kesehatan Papua itu dinilai, mampu menterjemahkan visi misi Gubernur Papua sejak periode pertama hingga kini.

Katanya, salah satu prestasi Aloysius Giay adalah membenahi RSUD Jayapura, yang sebelumnya dianggap carut marut.

“Saat menjabat Kepala Dinas Kesehatan, Aloysius Giay mencetuskan program Kartu Papua Sehat untuk orang asli Papua. Program ini menolong banyak orang asli Papua hingga ke kampung kampung,” ujarnya.

Setelah menjabat Kepala Dinas Kesehatan Papua, gubernur kemudian mempercayakan Aloysius Giay sebagai Direktur RSUD Jayapura. 

Katanya, Aloysius Giay yang dipercaya menempati tiga jabatan berbeda selama dua periode Gubernur Papua, Lukas Enembe menjabat, menandakan kalau yang bersangkutan punya kapasitas dan kinerja yang baik.

“Kalau sekarang ia diganti karena dinilai tak maksimal, indikatornya apa? Padahal kini Aloysius Giay sedang berupaya membenahi RSUD Jayapura. Mulai dari sisi pelayanan, sumber daya manusia, hingga infrastruktur,” kata Natan Pahabol.

Gubernur Papua Diingatkan Tidak Mendengar Pembisik di Sekitarnya

Natan Pahabol mengingatkan Gubernur Papua, Lukas Enembe agar tidak selalu mendengar para pembisik di sekitarnya, saat akan mengambil keputusan.

Ia juga meminta para pembisik ini, agar memberikan informasi yang benar kepada gubernur. Jangan memanfaatkan kondisi gubernur yang kini kurang sehat, untuk kepentingan mereka.

“Jangan menjatuhkan reputasi orang lain yang selama ini kinerjanya baik,” kata Natan Pahabol.

Ia berpendapat, pendidikan dan kesehatan di Papua mesti ditangani oleh orang yang benar benar paham masalah.

Karenanya, pergantian pemimpin di dua OPD itu menurut Natan Pahabol, maksimal dilakukan lima tahun sekali. Mereka mesti diberi kesempatan membuktikan kinerjanya.

“Gubernur harus menempatkan orang yang tepat diposis yang tepat. Jangan menempatkan orang hanya sebagai uji coba,” ucapnya.

Katanya, apabila ada pimpinan OPD yang selama ini kinerjanya terbilang baik dan melakukan kesalahan, gubernur mesti memperingatkan dan membinanya. Bukan langsung mengganti yang bersangkutan.

Natan Pahabol yang berasal dari daerah pemilihan Yahukimo, Yalimo, dan Pegunungan Bintang ini juga berpendapat, Gubernur Papua belum merata dalam menempatkan pejabat di lingkungan pemerintah provinsi.

Hingga kini ada sejumlah daerah yang terkesan diabaikan, dalam penempatan pejabat di provinsi, termasuk wilayah pemilihannya. 

“Pada periode kedua kini, belum ada sama sekali pejabat di Pemprov Papua yang berasal dari Dapil V Papua. Padahal, saat pemilihan gubernur pada 2018 silam, beliau mendapat suara terbanyak dari Dapil V,” ujar Natan Pahabol. (Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *