Praktisi: Persoalan Pendidikan Perlu Komitmen Kepala Daerah dan Legislatif

Metro Merauke – Praktisi pendidikan di Merauke, Papua, Sergius Womsiwor berpendapat perlu komitmen kepala daerah dan legislatif membenahani dunia pendidikan di daerah.

Sebab, di tengah geliat kemerdekaan Republik Indonsia ke-76 tahun, salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan adalah Sumber Daya Manusia (SDM).

Kepala SMA Negeri I Merauke itu mengatakan, upaya peningkatan kualitas SDM mutlak segera dilakukan, untuk menciptakan kesejahteraan hidup jangka panjang.

Akan tetapi, jumlah anak putus sekolah di Meruake dari waktu ke waktu terus bertambah. Masalah ini dinilai butuh penanganan bersama. 

Menurut Womsiwor, semakin banyak kalangan masyarakat terlibat dan peduli pendidikan, maka akan dapat menyelamatkan generasi Papua.

“Saya mau mengetuk hati siapa saja yang diberikan jabatan, untuk berfikir bagaimana memberi hati untuk masyarakat Papua, yang hingga kini masih belum mendapat kesempatan mengenyam pendidikan,” kata Sergius Wonsiwor, Selasa (10/08/2021).

Menurutnya, hingga kini masih banyak anak putus sekolah di kampung-kampung di Kabupaten Merauke. Semisal di Kampung Baad, Distrik Animha. 

Di sana puluhan anak usia SMP putus sekolah disebabkan berbagai faktor, di antaranya karena keterbatas ekonomi keluarga mereka.

“Di Baad kita jumpai ada 40 anak. Itu baru satubkampung. Kita bisa asumsikan [situasi ini terjadi di Baad. Daerah] dengan akses jalan dan lampu lengkap. Apalagi di kampung-kampung lainnya kondisinya seperti apa,” ucapnya.

Berharap pada Pendidikan Inklusif 

Di tengah potret buramnya kondisi pendidikan di daerah, ada harapan besar lewat pendidikan inklusif yang telah kini dilaksanakan di Merauke.

Sistem pendidikan di seko­lah yang memberikan ke­sem­patan kepada anak ber­kebutuhan khusus belajar bersama anak pada umumnya di kelas yang sama ini, diharapkan dapat memajukan dunia pendidikan formal maupun nonformal.

Sergius mengapresiasi Kapolres Merauke lewat Kapolsek Bupul, Ipda Aris Untung yang peduli pendidikan. Berperan aktif menyelamatkan nasib generasi bangsa di daerah perbatasan.

Satu di antara upaya yang dilakukan Kapolsek Bapul, merangkul anak-anak putus sekolah dari sejumlah distrik untuk dapat mengenal baca, tulis dan berhitung. Anak anak ini dibiayai menggunakan gaji Kapolsek Bapul.

Sergius Womsiwor berharap, kegigihan Aris Untung memajukan SDM dapat diteladani dan menginspirasi pihak lainnya, terutama eksekutif dan legislatif. 

Kendala Dalam Dunia Pendidikan 

Katanya, satu di antara kendala pendidikan adalah mengenai makan dan minum anak-anak. Untuk itu, dibutuhkan pola pendidikan yang dikemas dalam model yang berbeda.

Akan tetapi, diperlukan perhatian pemerintah untuk mendorong pembiayaan program pendidikan anak putus sekolah. Misalnya lewat dana kampung atau sumber anggaran lainnya.

“Saya pikir DPRD bisa luangkan waktu, duduk diskusi dengan mengundang berbagai pihak terkait untuk memajukan pendidikan anak Papua,” harapnya.

Ia menegaskan, dibutuhkan komitmen kepala daerah dan legislatif mengatasi masalah pendidikan. Kedua pihak ini mesti berani mengambil terobosan demi kemajuan SDM Papua.

“Siapapun harus perjuangkan ini. Saya tetap optimis, dengan pemerintahan ini (Romanus Mbaraka-H.Riduwan) dapat membantu berlangsungnya pendidikan inklusif untuk memajukan SDM asli Papua,” kata Sergius Womsiwor. (Nuryani/Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *