Wakil Ketua DPR Papua: Insiden Merauke Mirip Kasus George Floyd

Metro Merauke – Wakil Ketua I DPR Papua, Yunus Wonda menyatakan perlakuan berlebihan dua oknum TNI Angkatan Udara (AU) di Merauke, Papua mirip kasus yang dialami warga kulit hitam Amerika, George Floyd pada Mei 2020 silam.

Ketika itu seorang polisi Minneapolis, Amerika, Derek Chauvin menekan leher George Floyd dengan lututnya. Menyebabkan korban kesulitan bernafas, dan akhirnya meninggal dunia.

Dalam insiden di Merauke beberapa hari lalu, dua oknum TNI AU berupaya mengamankan seorang tuna wicara yang bersitegang dengan seseorang di salah warung pinggir jalan.

Korban di bawa ke trotoar, ditelungkupkan dan seorang di antara oknum itu menginjak kepala korban dengan sepatu laras. 

“Yang bersangkutan kan tidak normal. Kalau ditarik keluar saja tidak apa apa. Tapi dibawa ke pinggir jalan, ditelungkupkan dan kepalanya diinjak. Posisi ini beda tipis sekali dengan yang [dialami George Floyd], yang terjadi di Amerika,” kata Yunus Wonda, Rabu (28/07/2021).

Katanya, insiden itu memperlihatkan perlakuan tidak manusiawi. Apalagi korban adalah penyandang disabilitas. Tidak mungkin ia dapat menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.

“Terlepas apakah dia mabuk atau tidak, namun korban ini bukan orang normal pada umumnya. Kami juga adalah anak bangsa, bagian dari negara ini. Sikap arogansi seperti ini mesti dihilangkan,” ujarnya.

Yunus Wonda berharap, kejadian serupa tidak terulang. Semua pihak yang bertugas di Papua mesti bisa memahami psikologis masyarakat di sana. Bagaimana agar kondisi Papua aman dan nyaman.

“Kami minta dua anggota itu diproses dan dilihat seluruh rakyat, kalau benar mereka diproses. Jangan dikirim ke wilayah lain, terus sampai di sana, tidak diproses,” ucapnya.

Menurutnya, dengan proses hukum yang tegas dan adil, dapat menjadi pembelajar terhadap oknum oknum lain yang bertugas di Papua, agar tidak mengulang kesalahan serupa.

Ia mengatakan, meski pihak TNI AU telah meminta maaf, namun bukan berarti masalah telah selesai.

“Hal hal begini sangat memalukan. Rakyat itu dilindungi. Kami sangat sayangkan karena yang diperlakukan ini orang tidak normal. Dia tidak bisa membela diri dan jangan terjadi lagi kemudian hari,” katanya.

TNI AU Meminta Maaf, Janji Proses Hukum Anggotanya

Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo meminta maaf atas insiden itu.

Lewat unggahan di laman Twitter resmi TNI Angkatan Udara di @_TNIAU, Marsekal TNI Fadjar Prasetyo menyesalkan tindakan dua oknum anggota Lanud J.A. Dimara Merauke tersebut.

“Saya selaku Kepala Staf Angkatan Udara ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh saudara-saudara ita di Papua, khususnya warga Merauke, terkhusus lagi kepada korban dan keluarganya,” kata Fadja Prasetyo melalui video berdurasi 2 menit itu.

Ia memastikan, kejadian itu bukan perintah kedinasan. KASAU berjanji akan mengevaluasi dan menindak tegas dua oknum prajuritnya.

“Sekali lagi saya meminta maaf yang sebesar-besarnya, mohon dibuka pintu maaf,” ucapnya.

Permintaan maaf juga disampaikan Komandan Lanud Johannes Abraham Dimara Merauke, Papua, Kolonel Herdy Arief Budiyanto.

“Apapun yang terjadi, tindakan yang dilakukan anggota berlebihan. Kami mohon maaf,” kata Herdy Arief Budiyanto keterangan persnya, Selasa (27/07/2021).

Menurutnya, kedua oknum proses anggota TNI AU telah ditahan dan menjalani pemeriksaan, untuk proses hukum selanjutnya. (Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *