Seleksi Fasilitator TEKAD Provinsi Papua Diduga Sarat Kolusi dan Nepotisme

Metro Merauke – Sekretaris Fraksi Gabungan II Bangun Papua DPR Papua, Alfred Fredy Anouw menduga seleksi tenaga fasilitator Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) yang telah diumumkan di salah satu koran lokal, sarat kolusi dan nepotisme, atau mengutamakan hubungan kekerabatan dan daerah.

Dugaan itu disampaikan politikus muda Partai Garuda tersebut, sebab menurutnya mereka yang lolos seleksi administrasi hanya berasal dari satu daerah tertentu. Tidak mewakili lima wilayah adat di Bumi Cenderawasih.

Iapun menyarankan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung dan Orang Asli Papua (PMK OAP) Provinsi Papua meninjau kembali hasil seleksi.

Katanya, nama nama peserta lolos seleksi yang hanya berasal dari satu wilayah tertentu, tidak mencerminkan keadilan.

“Saya mendapat berbagai data di lapangan dari para pencaker dan mendengar aspirasi mereka, yang mengindikasikan adanya ketidak adilan dalam seleksi ini. Yang lolos administrasi didominasi pelamar dari salah satu daerah, dan wilayah adat lain sama sekali tidak diakomodir,” kata Alfred Fredy Anouw melalui panggilan teleponnya, Sabtu malam (24/07/2021).

Menurutnya, dari berbagai data dan pengaduan yang diterimanya pihaknya, ditemukan beberapa kejanggalan.

“Saya sudah dapat buktinya, ada oknum di Dinas BPKM, terkesan telah mempersiapkan orang orang tertentu sebelum pemeriksaan  administrasi lanjutan. Ada rekaman percakapannya,” ucapnya.

Anggota Komisi IV DPR Papua ini juga menyoroti tidak lolosnya sekitar 90 persen mantan tenaga fasilitator TEKAD. Padahal mereka ini dianggap telah berpengalaman dan tahu apa yang mesti dilakukan ketika lolos kembali sebagai fasilitator.

“Logikanya kan, mereka yang sudah tahu semua seluk beluk atau sudah berpengalaman, kok tidak lolos? Sementara yang baru bisa lolos. Ini jadi pertanyaan kami dan patut diduga ada ketidakberesan dalam pemeriksaan administrasi,” ujarnya.

Alfred Anouw juga mempertanyakan mengapa mereka yang lolos sebagian besar latar belakang pendidikannya atau disiplin ilmunya, tidak sesuai kebutuhan.

Katanya, pelamar yang lolos kebanyakan bergelar sarjana hukum (SH), sarjana ilmu sosial (S.Sos) dan disiplin ilmu lainnya.

Padahal ia berpendapat, yang diutamakan dalam seleksi fasilitator TEKAD, mestinya disiplin ilmunya sesuai tugas dan tanggung jawab yang akan ia kerjakan nantinya. Misanya sarjana ekonomi atau sarjana pertanian. 

“Tenaga pertanian sama sekali  tidak ada yang lolos. Mereka yang lolos justru tidak sesuai bidangnya. Ini juga menjadi pertanyaan kami,” kata Alfred.

Ia mengatakan, sebagai mitra, pihaknya berkewajiban mengingatkan Dinas PMK dan OAP agar tidak ada kesan buruk di kalangan masyarakat, terutama para pencari kerja. 

“Kami sebagai mitra kepala Dinas PMK dan OAP Provinsi Papua menyarankan dan meminta kepala dinas mempertimbangkan atau meninjau kembali hasil seleksi. Karena nama nama yang diumumkan melalui salah satu media ini jelas hanya berasal dari salah satu daerah. Tidak mengakomodir lima wilayah adat yang ada di Papua,” ujar Alfred Fredy Anouw. (Arjuna)

7 komentar “Seleksi Fasilitator TEKAD Provinsi Papua Diduga Sarat Kolusi dan Nepotisme

  • 24 Juli 2021 at 3:26 pm
    Permalink

    Benar pak biar daftar online saja lebih bagus dari pada lokal. Banyak pembungutan liar masuk lewat belakan.

    Balas
  • 24 Juli 2021 at 4:32 pm
    Permalink

    Sangat jelas sekali sarat dgn kepentingan karena yg lolos semua tdk sesuai dengan disiplin ilmu misalkan sarjana pertanian dan mestinya perna ia berkerja di program PPDM atau yg sekarang diganti dengan program TEKAD. Lebih parah lagi di dominasi satu daerah dan ada hubungan erat dari sisi keluarga/nepotisme. Bila perlu supaya ditinjau ulang hasil seleksi administrasi.

    Balas
  • 27 Juli 2021 at 2:57 am
    Permalink

    Masukkan saya kedapa kepala dinas pemberyaan masyarakat ini Tdk satu wilayah saya jadi orang” kerja Tdk profesional harus ganti, orang” mati cepat boleh

    Balas
  • 27 Juli 2021 at 4:50 pm
    Permalink

    Sistem seleksi administrasi sangat ANEH, karena didominasi oleh satu daerah . Saya sendiri menyelesaikan studi program S1 jurusan ekonomi Manajemen. Bagian yang dilamar Tata kelola Pedesaan.
    Asal kabupaten Mimika distrik Agimuga.
    Dan dilihat rata2 dari kabupaten Mimika tidak masuk sama sekali dalam seleksi administrasi.

    Balas
  • 27 Juli 2021 at 9:35 pm
    Permalink

    Siapa yang kerja di tanah ini dengan tidak jujur…ITU BUKAN penyalur berkat dari TUHAN YESUS …

    Balas
    • 21 Agustus 2021 at 6:31 am
      Permalink

      Semua krn KEPALA DINAS yg GOBLOOOOK tp bikin diri pintar,,,,,semoga yg tugas di pantai tau berenang,,, km memang cocok dihina krn memang Tolollllllll hahahahahha

      Balas
  • 4 Agustus 2021 at 3:12 am
    Permalink

    tu sngat bnr kenapa tdk meloloskan anak daerah sendiri krn mereka itu yg tau medan dan kondisi d wilayahnya sendiri

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *