Korban Pelecehan Seksual Bocah 4 Tahun Belum Dapat Perhatian Pemerintah

Metro Merauke – Aliansi Peduli Perempuan dan Anak di Merauke menyayangkan belum adanya perhatian dari pemerintah, dalam hal ini Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, terhadap keluarga maupun korban pencabulan yang menimpa bocah 4 tahun di Merauke.

Dikatakan Elsye Titihalawa, terkait pencabulan di Merauke dengan korbannya yang masih balita, perlu dan berhak mendapat pendampingan. “Sejauh ini belum ada dari pemerintah yang datang melihat anak ini (korban) maupun bertemu orang tuanya,” ucap Elsye kepada wartawan, Kamis (8/7).

Menurutnya, sudah semestinya pemerintah hadir. Terlebih lagi, katanya, saat ini keluarga korban tengah kebingungan dengan biaya perawatan hingga memikirkan psikologis anaknya sebagai korban pencabulan yang diketahui hingga kini masih merintih karena sakit.

“Saat ini orang tua bingung, mau pikir biaya pengobatan maupun memikirkan psikologis anaknya. Beruntung untuk biaya operasi anak telah ditanggung Kasat Reskrim Polres Merauke. Kita sayangkan belum ada dari pemerintah yang hadir melihat anak ini bagaimana,” tuturnya.

Sebagai tindaklanjut, Alinasi Peduli Perempuan dan Anak akan melakukan mimbar bebas sebagai aksi solidaritas untuk menyuarakan terkait kasus pencabulan, sehingga diharapkan tidak sampai terjadi kembali kasus serupa di Merauke.

Sebelumnya Kepolisian Merauke menangkap NK di Distrik Ulilin, Merauke, telah mencabuli bocah 4 tahun, Minggu (4/7). Korban saat ini masih dirawat intensif di Rumah Sakit Bunda Pengharapan karena mengalami pendarahan dan telah menjalani operasi.

Oleh Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan Anak Indonesia telah mengajukan suntikan kebiri bagi pelaku.

Terhadap hal tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak, salah satunya Chika Retraubun, tergabung dalam Aliansi Peduli Perempuan dan Anak. Ia mengaku setuju bila pelaku pencabulan terhadap anak mendapatkan hukuman kebiri.

“Untuk kasus ini, pelaku telah melakukan berulang kali kepada korban yang sama. Kalau sudah begitu, kenapa tidak dikebiri,” katanya.

Ia merasa miris saat melihat langsung kondisi korban yang tengah tergolek lemah di rumah sakit. Terlebih lagi, sambungnya, kejadiaan tersebut dapat dipastikan berdampak pada psikologis anak (korban).

“Sangat butuh pendampingan. Saat anak dimarah saja bisa terganggu psikologisnya, apalagi sampai menjadi korban pelecehan,” ucapnya.

Selain pentingnya pendampingan bagi korban pelecehan, baik itu anak maupun perempuan lalu memberikan hukuman setimpal bagi pelakunya.
Sehingga diharapkan kasus-kasus seperti itu tidak lagi terjadi. (Nuryani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *