Anggota DPR Papua dan Warga Dogiyai Diskusikan Pentingnya Tempat Sakral

Metro Merauke – Anggota DPR Papua dari mekanisme pengangkatan, perwakilan wilayah adat Meepago, John NR Gobai mendiskusikan pentingnya perlindungan dan pengembangan tempat sakral, bersama warga Kabupaten Dogiyai, Jumat (02/07/2021).

Diskusi digelar saat Ketua Kelompok Khusus DPR Papua tersebut melakukan reses ke wilayah pengangkatannya. Agenda yang berlangsung di Aula Badan Keuangan Pemkab Dogiyai itu dihadiri tokoh masyarakat, Kepala Dinas Kebudayaan Dogiyai, Nelius Pekei, dan dibuka Asisten I Setda Dogiyai, Nason Pigai.

“Dalam kegiatan ini kami menyampaikan pentingnya perlindungan dan pengembangan tempat sakral di Dogiyai,” kata John Gobai melalui panggilan teleponnya, Sabtu (03/07/2021).

Menurut Sekretaris Dewan Adat Papua itu, di Dogiyai ada beberapa tempat keramat, di antaranya gunung Egaidimi, Makewaapa, Modio dan lainnya.

Katanya, dari penyampaian pendapat masyarakat Dogiyai, ia menilai mereka juga menyadari pentingnya peraturan daerah untuk melindungi dan melestarikan tempat sakral.

“Kami menyampaikan, kami juga telah berdiskusi dengan bupati Dogiyai, Jack Dumupa tentang pentingnya perlindungan dan pengembangan tempat sakral di sana,” ujarnya.

“Diakhir dialog, kami menyerahkan draft raperda Kabupaten Dogiyai tentang perlindungan dan pengembangan tempat sakral.”

Rancangan peraturan daerah (raperda) itu diserahkan kepada Asisten I Setda Dogiyai, Nason Pigai. Ia juga merupakan salahsatu penggerak perlindungan Makewapa.

John Gobai mengatakan, dalam draf itu diatur berbagai hal, di antaranya pemetaan dan pendataan tempat sakral bersama masyarakat.

Penetapan zonasi, yaitu zona inti, zona pengembangan dan zona kampung. “Dalam pengembangan dapat dijadikan sebagai tempat wisata, dan pengembangan ekonomi karena ada pengunjung, serta sebagai cagar budaya,” ucapnya.

John Gobai mengatakan, pemerintah daerah berkewajiban memfasilitasi pelestarian dan perlindungan tempat-tempat keramat, dengan memberikan legalitas, pengakuan dan perlindungan atas tempat-tempat keramat sebagai cagar budaya.

Pemerintah daerah dalam pelaksanaan pembangunan lanjutnya, juga berkewajiban memperhatikan tempat tempat sakral suku atau marga. Begitu juga dalam pengelolaan sumber daya alam. 

Ia menambahkan, pengakuan, perlindungan, pengembangan, pelestarian serta pengelolaan tempat tempat sakral bertujuan, melestarikan warisan budaya dan warisan umat manusia.

“Termasuk perlindungan bunani sebagai kepercayaan asli Suku Mee di Papua. Masyarakat juga berkewajiban menjaga dan memagari tempat sakral. Penduduk lain dan pihak lain yang datang ke Dogiyai, wajib menghormati dan tidak merusak tempat sakral,” kata Gobai. (Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *