Revisi UU Otsus Papua, Pemerintah Diminta Tak Batasi Usulan DIM

Metro Merauke – Pemerintah diminta tidak membatasi daftar inventarisir masalah atau DIM dari fraksi fraksi yang ada di DPR RI, pada pembahasan revisi kedua Undang-Undang Otonomi Khusus (UU Otsus) Papua.

Permintaan itu disampaikan anggota Pansus revisi UU Otsus Papua DPR RI, Robert Rouw dalam rapat dengan agenda mendengarkan penjelasan pemerintah di senayan, Kamis (01/07/2021).

Pemerintah dalam rapat yang disiarkan secara langsung itu, diwakili Wakil Menteri Hukum dan HAM, Edward O.S Hiariej, perwakilan Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Keuangan.

“Untuk pemerintah, kami minta tidak ada pembatasanlah [mengenai DIM]. Kami tahu, di mana yang menurut kami kepentingan rakyat. [Untuk] kepentingan masyarakat Papua, kami tidak akan mundur,” kata Robert Rouw.

Menurut politikus Partai NasDem dari daerah pemilihan Papua itu, UU Otsus dalah salah satu undang-undang yang memiliki legspesialis.

Akan tetapi, selama ini berbagai pihak berpendapat, masih banyak yang mesti dibenahi dalam aturan tersebut.

Ia hanya ingin semua pihak menyadari apabila hanya Pasal 34 tentang keuangan dan Pasal 76 mengenai pemekaran dalam UU Otsus yang akan direvisi, tidak perlu butuh waktu membahasanya. 

“Saya kira ngak perlu kita repot repot membahas lama lama di sini. Cukup Presiden keluarkan dua Perppu, untuk dua [pasal] itu, selesai. [Kalau] kita bahas repot repot di sini, kita harus melihat semuanya,” ucapnya.

Sementara itu, Ketua Pansus revisi UU Otsus Papua DPR RI, Komarudin Watubun mengatakan, hukum tertinggi dalam bernegara adalah kekeluargaan. Tidak mesti saling ngotot ngototan, para pihak bisa mencari solusi terbaik.

“Mari kita buka ruang ruang yang perlu kita buka. Arahan Presiden pada 1 Meret, dan 11 Meret 2020. Ini menjadi dasar kenapa partai partai mengajukan usulan lebih banyak dari dua pasal itu, karena semangat Presiden [mau] harus ada perubahan,” kata Komarudin. (Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *