Perlindungan Tempat Sakral di Papua Didiskusikan Bersama Masyarakat Adat

Metro Merauke – Perwakilan masyarakat adat Papua dari beberapa wilayah mendiskusikan perlunya perlindungan tempat sakral, Senin (28/06/2021).

Diskusi yang digelar di Kantor Dewan Adat Papua itu, digagas Ketua Kelompok Khusus DPR Papua, John NR Gobai.

John Gobai yang merupakan anggota DPR Papua melalui mekanisme pengangkatan itu mengatakan, masyarakat adat Papua meyakini di tempat keramat atau sakral bersemayam para leluhurnya.

Untuk itulah wilayah yang disakralkan mesti dilindungi, sebab areal tersebut juga merupakan daerah konservasi.

“Di areal sakral itu, juga terdapat sumber pangan lokal masyarakat adat Papua. Makanya, kami Kelompok Khusus DPR Papua terus mendorong agar tempat sakral itu dilindungi dengan regulasi,” kata John Gobai.

Menurut Sekretaris II Dewan Adat Papua itu, perlindungan tempat keramat tersebut, dapat diatur dalam peraturan daerah tentang perlindungan dan pengembangan tempat sakral.

Ia berharap, Badan Pembentukan Peraturan Daerah atau Bapemperda DPR Papua dapat memasukkan regulasi itu sebagai agenda kerjanya, untuk dibahas dan disahkan bersama eksekutif.

“Kalau sudah ada regulasinya, ke depan tempat tempat sakral di Papua ini bisa dijadikan pusat pendidikan kebudayaan oleh setiap suku di daerah masing-masing. Kami mendorong regulasi ini, karena juga ada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya,” ujarnya.

Anggota Kelompok Khusus DPR Papua, Piter Kwano mengatakan hal yang sama.

Menurut anggota kursi pengangkatan dari wilayah adat Mamta itu, tempat sakral juga dapat dikembangkan menjadi lokasi wisata spiritual dan sebagai situs budaya.

“Namun mesti ada pengaturan areal supaya tidak merusak kesakralan tempat tersebut. Juga perlu dibangun rumah ibadah di wilayah itu,” kata Piter Kwano.

Ketua Pemuda Adat Port Numbay,  Rudi Mebri mendukung perlunya melindungi tempat sakral di Papua.

Rudi Mebri yang selama ini aktif dalam kampanye lingkungan dan seni budaya mengatakan, DPR Papua dan Pemprov Papua mesti segera mengambil langkah.

“Mesti segera ada langkah menyelamatkan tempat tempat sakral. Semakin hari, tempat sakral di Papua ini makin hilang. Misalnya saja di Kota Jayapura,” kata Rudi. (Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *