Rayakan Tri Suci Waisak, Umat Buddha di Merauke Diajak Peduli dan Tebarkan Kasih Tanpa Batas

Metro Merauke – Umat Buddha di Merauke, Papua merayakan Hari Raya Tri Suci Waisak 2565 Buddhis Era (BE) di Vihara Arya Dharma Jaya Merauke, Rabu (26/5).

Umat yang hadir mengikuti prosesi ibadah yang dipimpin Duta Dharma, Eko Purwanto. Rangkaian upacara perayaan Waisak di tengah pandemi Covid-19 berlangsung hikmad dan menerapkan protokol kesehatan.

Dikatakan Ketua Majelis Budayana Indonesia Kabupaten Merauke, Hendra Wijaya, perayaan Waisak adalah momen umat Buddha memperingati 3 peristiwa penting, tri suci di bulan Waisak.

Dimana, katanya, perayaan Waisak tahun ini harus dimaknai sebagai sebuah langkah umat Buddha lebih waspada dan peka melihat situasi di tengah masyarakat, tanpa melihat berbedaan suku maupun agama. Hal tersebut selaras dengan tema Waisak 2565, ‘Eling dan Waspada Membangun Kepedulian Sosial’.

“Dalam situasi pandemi banyak yang hidupnya terpuruk, terutama masalah ekonomi. Dan Umat Buddha didorong untuk lebih waspada serta sadar akan situasi masyarakat di sekitar, tanpa melihat perbedaan suku, bangsa dan agama,” tuturnya.

Dijelaskan, akibat pandemi Covid-19, dua tahun terakhir berbagai kegiatan dari umat Buddha tidak dapat dilakukan secara optimal. Salah satunya, kegiatan bakti sosial yang diketahui menjadi agenda rutin dilakukan.

“Kami agak kesulitan menyalurkan bansos, karena khawatir menciptakan kerumunan dan rawan terjadinya penyebaran Covid-19. Namun, sudah ada kesepakatan, kegiatan baksos akan kembali kita lakukan. Rencananya kita akan ke panti asuhan untuk salurkan bantuan makanan,” bebernya.
Sementara itu Duta Dharma, Eko Purwanto mengajak umat Buddha untuk lebih peduli dengan orang lain dan menebarkan cinta kasih tanpa batas.

“Karena umat Buddha tidak hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Jadi, tujuan eling, kita selalu menyadari umat Buddha berada di tengah-tengah masyarakat, harus dapat menebarkan cinta kasih dan sayang tanpa membedakan hal-hal lain. Tapi, tebarkan kasih tanpa batas kepada semua mahluk hidup,” pintanya.

Menurutnya, dengan menyadari dan waspada, sebagai proses belajar yang mengedepankan kebijaksanaan di tengah keberagaman, seperti semboyan bangsa, Bhineka Tunggal Ika. (Nuryani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *