SMA ECA Fokus Bentuk Generasi Asli Papua

Metro Merauke – SMA Entrepreneurship Chevalier Anasai (ECA) Merauke yang berlokasi di Kampung Matara, Distrik Semangga, Merauke, Papua, khusus menerima siswa orang asli Papua (OAP). Mereka yang diterima dengan kategori sebagai anak yatim, piatu, yatim piatu dan anak tidak mampu.

Di sekolah ini, pola pendidikannya 30 persen tatap muka dan 70 persen praktek dengan sebutan praktek laboratirium, yang terdiri dari peternakan, perikanan, perkebunan, pertanian, kewirausahaan, dan IT Komputer.

SMA ECA mempunyai motto yang disingkat dalam satu istilah, yakni PASKA yang artinya Prayer (Doa), Atitude (Sifat), Skill (Kemampuan), Knowlage (Pengetahuan), dan Action (Tindakan). Lima poin ini menjadi dasar untuk pembentukan karakter siswa, agar kelak mereka mampu bersaing bahkan bisa menjadi pemimpin.

“Mereka dilatih untuk menjadi pemimpin, kemampuan mengoperasikan komputer, komunikasi dalam bahasa Inggris, terbiasa hisup bersih, disiplin tidak membuang waktu, bertanggung jawab, memiliki keterampilan ilmu teknologi, memiliki keterampilan kewirausahaan yang nantinya mampu menciptakan lapangan kerja, dan mereka juga beriman,” terang Kepala Sekolah SMA Entreprneurship Cevalier Anggai Sai, Pastor Dotor Aloysisus Batmiyani.

Dijelaskannya, sekolah ini sudah berjalan dua tahun, dan kini memiliki 60 siswa OAP yang berasal dari suku asli Papua di Selatan Papua. “Mengutamakan OAP, karena sejak lama tarekat MSC ingin fokus memberikan perhatian kepada OAP di Selatan Papua. MSC merasa tidak cukup hanya dengan melayani tradisi pastoral melalui pelayanan ekaristi maupun sakramen. Tuntutan jaman, mendorong MSC melayani dalam bidang pembentukan SDM melalui pendidikan bagi generasi OAP,” tuturnya.

Namun, diakuinya, bahwa dalam membentuk karakter seseorang dengan latar belakang yang berbeda memang tidak mudah. Perlu pendampingan dan kesabaran untuk membentuk moral, iman dan cara pandang yang baik. Dua tahun berjalan, tarekat MSC melalui pastor dan para pendidik lainnya membuktikan bahwa, orang asli Papua mampu dan bisa berbuah baik.

“Tinggal bagaimana kita menciptakan kondisi lingkungan sekolah yang memungkinkan siswa mengeyam pendidikan yang baik. Hal pertama yang diperhatikan adalah masalah perut, bahwa siswa dipastikan kebutuhan makanannya terpenuhi, tidak lapar,” ucapnya.

Menurutnya, syarat pembentukan karakter diawali dengan pengertian, tidak kasar, hargai keberadaan mereka dan terima siswa apa adanya, sabar, tidak dengan kekerasan fisik saat siswa melakukan kesalahan, dan berusaha memenuhi kebutuhannya terutama makan.

“Jumlah siswa saat ini baru mencapai 60 orang. Alasannya, di tahun 2020, sekolah tidak bisa menerima banyak siswa karena disesuaikan dengan tempat penampungan, sebab SMA Entrepreneurship merupakan sekolah berpola asrama.”

Dan, seiring berjalannya waktu, kini sudah dibangun dua gedung asrama baru yang memadai dan dapat menampung 200 siswa. Untuk itu, di tahun ajaran baru, pihak sekolah akan menerima pendaftaran dengan kuota hingga 200 siswa.

Untuk diketahui, sekolah yang berada di bawah Yayasan Katolik Amam Bekai ini mendapatkan bantuan dari Yayasan Kasih Mulia Jakarta selama lima tahun, selanjutnya harus mandiri. Terkait ini, Pastor Alo bersama pengurus yayasan berharap, ada perhatian dari pemerintah empat kabupaten di Selatan Papua, agar sekolah tetap berjalan dalam mempersiapkan generasi asli Papua yang berkualitas.

“Kami dari tarekat MSC berharap, ke depan nanti anak asli Papua punya kemandirian untuk hidup. Mampu ciptakan pekerjaan sendiri, bisa bersaing dengan generasi lain, bisa menjadi pemimpin dan penampilkan pribadi yang bermoral, beriman dan sebagai contoh untuk menjadi garam dan terang dunia di tengah masyarakat,” pungkasnya penuh harap. (Redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *