Jubir Internasional KNPB Dijerat Pasal Berlapis

Metro Merauke – Juru Bicara (jubir) Internasional Komite Nasional Papua Barat atau KNPB, Victor Yeimo terancam dijerat pasal berlapis.

Bekas Ketua Umum KNPB itu, kini ditahan di Markas Komando atau Mako Brimo Polda Papua, di Kotaraja, Kota Jayapura. Ia ditangkap di Kota Jayapura, Minggu (09/05/2021). 

Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Mathius D Fakhiri mengatakan, Victor Yeimo akan diperiksa terkait dugaan keterlibatannya dalam unjuk rasa anti rasisme di Kota Jayapura, 19 Agustus 2019. 

“Sudah pasti tersangka. Ia punya laporan polisi cukup banyak. Kami amankan terkait kasus kerusuhan [saat unjuk rasa anti rasisme] 2019,” kata Mathius D Fakhiri dalam keterangan persnya, di Mako Brimob Polda Papua di Kotaraja, Kota Jayapura, Papua, Senin (10/05/2021). 

Menurutnya, Victor Yeimo sedang menjalani penyidikan. Kepolisian sedang berupaya  menggali semua unsur yang berkaitan dengan berbagai laporan polisi terhadapnya. 

Di antaranya, dugaan pelanggaran Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE.

Sejumlah pasal lain yang akan disangkakan kepada Victor Yeimo, yakni Pasal 106 junto pasal 82 KUHP  dan Pasal 110 KUHP mengenai delik makar. 

Pasal dalam UU Republik Indonesia (UU RI) Nomor 24 Tahun 2009 tentang bendera, bahasa, dan lambang negara, serta lagu kebangsaan.

Pasal 160 KUHP tentang penghasutan melawan penguasa, Pasal 187 KUHP tentang pembakaran, Pasal 365 KUHP mengenai pencurian, Pasal 170 ayat (1) KUHP tentang penggunaan tenaga bersama untuk melakukan kekerasan, dan Pasal 2 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1961 mengenai kepemilikan senjata, pemukul atau penikam.

“Ia juga melakukan hal-hal berupa propaganda. Itu akan kami dalami, kami akan kenakan semua unsur yang terkait dengan yang bersangkutan,” ujar Kapolda Papua.

Mathius Fakhiri memastikan, penyidik akan memeriksa yang bersangkutan secara intensif. Akan tetapi tetap memperlakukannya dengan baik.

“Saya sudah minta penyidik memperlakukan tersangka dengan baik. Tetap menerapkan azas praduga tak bersalah,” ucap Mathius Fakhiri. (Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *