Sulitnya Mencari Penerus Generasi Emas di Persipura

Metro Merauke – Papua selalu melahirkan “mutiara hitam” dalam dunia sepak bola tanah air.

Pesepak bola dari negeri “matahari terbit” selalu menghiasi kompetisi sepak bola nasional.

Papua memunculkan tiga pilar nama Persipura Jayapura kini, Boaz Solossa, Ian Louis Kabes, dan Richardo Salampesay pada era 2004.

Mereka merupakan jebolan tim sepak bola Pekan Olahraga Nasional atau PON Papua. Angkatan ini dianggap banyak kalangan sebagai generasi emas sepak bola Papua.

Boaz Solossa dan kawan kawan ketika itu, berhasil mempersembahkan medali emas PON ke-16, yang berlangsung di Sumatera Selatan, 2004. 

Namun usia Boaz Solossa, Ian Louis Kabes dan Richardo Salampessy tidak mudah lagi. Boaz dan Ian Kabes telah berusia 35 tahun, Richardo Salampessy kini 37 tahun. 

Beberapa tahun lagi, ketiganya mungkin akan gantung sepatu. Akan tetapi, hingga kini sulit mencari penerus yang sepadan dengan mereka.

Pelatih Persipura, Jacksen Ferreira Tiago mengatakan, tidak gampang mencari pemain yang kemampuannya setara dengan Boaz Solossa, Ian Louis Kabes, dan Richardo Salampessy. 

Kalaupun ada, mungkin potensi pemain itu hanya mendekati kemampuan tiga trio Persipura tersebut.

“Sulit mencari pemain yang level kemampuannya menyamai ketiga pemain ini,” kata Jacksen F Tiago secara virtual kepada wartawan beberapa hari lalu.

Pelatih asal Brazil ini menilai, ketiga anak asuhnya itu memiliki teknik sepak bola di atas rata rata.

Mereka tidak hanya mengandalkan fisik. Para pemain ini, mampu memadukan teknik, kecermatan, dan kecepatan dalam bermain bola. 

“Berbeda dengan pemain sepak bola sekarang, yang kebanyakan mengandalkan fisik,” ujarnya.

Jacksen mengatakan, memang ada sejumlah pemain di Persipura yang berpotensi mendekati kemampuan Boaz Solossa, Ian Louis Kabes, dan Richardo Salampessy. Namun sulit untuk menyamainya. 

Gunansar Mandowen dianggap dapat mengisi posisi Boaz Solossa. Ramai Melvin Rumakiek kemampuannya mendekati Ian Louis Kabes, dan Donny Monim berpotensi menempati posisi Ricardo Salampessy di.

Mantan pemain Persipura, Jack Komboy mengatakan mencari pengganti pemain seperti Boaz Solossa bukan perkara mudah. 

“Semua itu harus dibuktikan di lapangan. Boaz adalah pemain yang seolah terlahir memang untuk sepak bola,” kata Jack Komboy suatu ketika.

Jack Komboy yang sudah dua periode sebagai anggota DPR Papua itu berpendapat, Boaz Solossa memang terlahir dengan jiwa sepak bola.

“Biarlah waktu yang menentukan siapa yang akan menjadi penerus Boaz nantinya. Perlu waktu untuk menemukan Boaz yang lain,” ujarnya.

Boaz Solossa

Nama pemain kelahiran 16 Maret 1986 ini, melejit setelah memperkuat tim sepak bola PON Papua pada 2004. Ia memilih bergabung dengan Persipura pada 2005.

Selama berseragam “Mutiara Hitam” pemain yang akrab disapa Bochi itu memiliki andil ketika Persipura menjuarai Liga Indonesia musim kompetisi 2005, Liga Super Indonesia 2008-2009, 2010-2011, dan 2012-2013. 

Juara Community Shield Indonesia 2009, juara SCTV Cup 2011, juara Inter Island Cup 2011, dan juara Indonesia Soccer Championship A 2016.

Boaz Solossa – jubi.co.id

Boaz Solossa merupakan salah satu pemain Indonesia yang mampu bersaing dengan pemain asing, dilevel kompetisi nasional.

Dia memiliki naluri tinggi mencetak gol, dan teknik di atas rata-rata. Tak salah, mantan pelatih Tim Nasional Indonesia, Peter Withe menjulukinya anak ajaib.

Julukan itu disematkan pelatih asal Inggris tersebut, ketika Boaz Solossa tampil memukau bersama Tim Nasional Indonesia pada ajang Piala Tiger di Ho Chi Minh, 2004.

Selama karir sepak bolanya, sederet penghargaan individu telah dicicipi pemain yang identik dengan nomor punggung 86 itu.

Ia merupakan pencetak gol terbanyak PON ke-16 dengan 10 gol. Dikompetisi nasional, Bochi tiga kali keluar sebagai pencetak gol terbanyak dan pemain terbaik Liga Super Indonesia, yakni musim 2008-2009 (28 gol), 2010-2011 (22 gol), dan 201-2013 (25 gol).

Adik mantan pesepak bola nasional, Ortizan Solossa ini, juga pernah menjadi pemain terbaik Indonesia Soccer Championship A 2016.

Richardo Salampessy

Pamain kelahiran Ambon, 18 Februari 1984 silam ini, bergabung dengan Persipura pada musim kompetisi 2006.

Ia merupakan salah satu pesepak bola , yang berlaga bersama Boaz Solossa dan Ian Loius Kabes diajang PON ke-16 pada 2004.

Sebelum bergabung dengan rekannya sesama mantan pemain PON Papua di Persipura, Richardo lebih dulu berseragam tim “Badai Pegunungan Tengah” Persiwa Wemena pada 2005.

Richardo Salampessy – jubi.co.id

Debut pertamanya bersama Tim Nasional Indonesia pada ajang SEA Games di Manila, 2005. Setelahnya, nyong Ambon itu menjadi langganan tim nasional.

Richardo Salampessy merupakan bek tengah atau libero dengan potensi di atas rata rata. Dia punya kemampun duel bola atas, mengorganisir lini pertahanan dan mencetak gol.

Pemain nomor punggung 4 itu, juga piawai membaca setiap serangan dan pergerakan pemain lawan. Ia tahu kapan mesti membantu tim menyerangan, dan bertahan.

Richardo nyaris gagal bergabung dengan tim sepak bola PON Papua pada 2004 silam. Sebab memiliki postur tubuh yang kurus, dan dianggap kurang gesit.

Akan tetapi, Nando Fairyo yang ketika itu menjadi asisten pelatih tim sepak bola PON Papua mendampingi Rully Nere, bersikeras mempertahankan Richardo.

Salah satu legenda hidup Persipura itu yakin, Richardo memiliki kemampuan sebagai libero. Ia hanya butuh waktu menunjukkan potensinya.

Selama karir profesionalnya, Richardo Salempessy telah merasakan berbagai gelar juara. Ia juara bersama tim sepak bola PON Papua pada 2004.

Merasakan gelar juara Liga Super Indonesia bersama Persipura, musim 2008-2009, 2010-2011, 2012-2013. 

Juara Indonesian Community Shield 2009, Inter Island Cup 2011, dan gelar individu pemain terbaik kompetisi Divisi I pada 2005.

Ian Louis Kabes

Ian Louis Kabes lahir di Jayapura, 14 Mei 1986. Seperti Boaz Solossa, pemain ini juga memilih hanya bermain untuk klub sepak bola Persipura, sejak 2005 hingga kini.

Ia merupakan pencetak gol penentu kemenangan pasukan “Mutiara Hitam” pada final Liga Indonesia musim 2005.

Gol Ian Kabes ke gawang Persija yang dijaga Hendro Kartiko ketika itu, menyudahi laga dengan skor 2-3 untuk kemenangan Persipura.

Ian Louis Kabes – jubi.co.id

Pesepak bola dengan nomor punggung 13 itu, dikenal memiliki kecepatan, dan kemampuan menggiring bola yang mumpuni.

Memiliki akurasi tembakan kaki kiri dan kanan yang sama baiknya. Dapat bermain di beberapa posisi berbeda. 

Ian Kabes tidak hanya berperan sebagai gelandang serang. Ia dapat dimainkan sebagai gelandang bertahan, pemain sayap kiri dan kanan, hingga penyerang. 

Ian Kabes juga memiliki kemampuan mengeksekusi tendangan bebas dan sepak pojok. Tak jarang eksekusi bola mati dan sepak pojok yang dilakukannya, berujung gol ke gawang lawan.

Selama berkostum Persipura, Ian Kabes telah merasakan sederet geler juara dilevel klub. Juara Liga Indonesia musim kompetisi 2005, Liga Super Indonesia 2008-2009, 2010-2011, dan 2012-2013. 

Juara Community Shield Indonesia 2009, juara SCTV Cup 2011, juara Inter Island Cup 2011, dan juara Indonesia Soccer Championship A 2016. (Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *