TPNPB Mesti Membuktikan Tuduhan Terhadap Guru yang Ditembak di Puncak

Metro Merauke – Legislator Papua, Laurenzus Kadepa menyatakan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat atau TPNPB mesti membuktikan kebenaran tuduhan terhadap dua guru yang mereka tembak di Kabupaten Puncak, Papua pada 08 dan 09 April 2021.

Anggota komisi bidang politik, keamanan, hukum dan HAM itu mengatakan, informasi yang beredar kedua korban ditembak kelompok bersenjata, karena dicurigai sebagai informan aparat keamanan, karena sering membawa pistol.

“TPNPB harus membuktikan tudingan ini. Tidak hanya spekulasi dan bisa mengancam keamanan seluruh pekerja kemanusiaan yang ada di Papua dan Puncak pada khususnya,” kata Laurenzus Kadepa, Minggu malam (11/04/2021).

Politikus Partai Nasional Demokrat itu menyatakan turut berduka cita atas penembakan terhadap dua guru di Puncak pada pekan lalu. Begitu juga terhadap korban kekerasan konflik bersenjata selama ini di Intan Jaya, Mimika, Nduga dan daerah lain di Papua.

Katanya, pada 2018 lalu TPNPB wilayah Nduga, Egianus Kogeya dan kelompoknya membantai belasan karyawan PT. Istaka Karya yang membangun jembatan di sana.

Menyikapi peristiwa itu pemerintah menginstruksikan aparat keamanan mengejar dan menangkap pelaku untuk diproses hukum. 

“Sejak itu militer nonorganik mulai dikirim ke Kabupaten Nduga, kemudian ke Kabupaten Mimika demi pengamanan aset vital PT Freeport,” ujarnya.

Menurutnya, pengiriman pasukan keaman ke berbagai wilayah Papua, yang dinggap rawan terus dilakukan. Misalnya ke Kabupaten Intan Jaya, Puncak, Yahukimo dan Pegunungan Bintang. 

“Kejadian seperti ini menjadi alasan atau pintu masuk pengiriman pasukan ke berbagai daerah di Papua. Kebijakan negara  tidak lagi melihat dampak terhadap warga sipil,” ucapnya.

Laurenzus Kadepa mengatakan, akibat dari situasi itu menyebabkan warga sipil di wilayah konflik merasa terancam. Termasuk guru, tenaga kesehatan, tokoh gereja, dan pekerja kamanusiaan lainnya.

Iapun meminta Pemerintah Kabupaten Puncak memberikan rasa aman kepada para guru, medis dan pekerja kemanusiaan lainnya yang ada di sana. 

Sebab para pihak itu datang ke Puncak untuk membantu pemerintah mengatasi masalah pedidikan dan kesehatan masyarakat 

“Demi kemanusiaan, saya juga meminta Presiden Jokowi membatalkan dan mencabut kebijakan pendekatan keamanan. Menggantinya dengan kebijakan yang lebih bermartabat untuk menyelesaikan konflik Papua yang berkepanjangan ini,” katanya.

Dua orang guru tewas ditembak kelompok kriminal bersenjata di Kabupaten Puncak pada pekan lalu.

Korban pertama Oktovianus Rayo ditembak di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Kamis (08/04/2021). 

Korban kedua, Yonatan Renden (28 tahun), yang merupakan guru honorer di SMP N 1 Beoga, ditembak di Kampung Ongolan Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Jumat (09/04/2021).

Aparat keamanan menyatakan, kelompok pelaku menyebar pernyataan alasan menembak guru SD dan SMP di Kabupaten Puncak, Papua, karena dianggap mata-mata aparat TNI-Polri.

Kasatgas Humas Operasi Nemangkawi Kombes M Iqbal Alqudussy mengatakan, itu merupakan alasan klasik kelompok ini.

“Itu hanya alasan klasik mereka. Berupaya menggiring opini publik agar aksi teror mereka dimaklumi,” kata Kombes M Iqbal Alqudussy dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/04/2021).

Menurutnya tak ada bukti, kalau kedua korban merupakan mata mata aparat keamanan atau intelijen.

“Aksi teror dalam bentuk apa pun tak dibenarkan. Terlebih mengakibatkan nyawa warga sipil melayang,” ucapnya. (Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *