PGRI Minta Pemerintah Jamin Keselamatan Guru di Wilayah Konflik

Metro Merauke – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) meminta pemerintah menjamin keselamatan guru yang bertugas di wilayah konflik, semisal Papua.

Permintaan itu disampaikan Ketua Umum PGRI, Unifah Rosyidi berkaitan dengan penembakan yang diduga dilakukan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kabupaten Puncak, Papua. 

Insiden yang terjadi dua hari beruntun pada pekan lalu itu, menewaskan dua orang guru di sana.

Guru SD bernama Oktovianus Rayo (43 tahun) ditembak di Kampung Julukoma, Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Kamis (08/04/2021). 

Korban kedua adalah Yonatan Renden (28 tahun), yang merupakan guru di SMP N 1 Beoga. Ia ditembak di Kampung Ongolan Distrik Beoga, Kabupaten Puncak, Jumat (09/04/2021).

Unifah Rosyidi mengatakan, untuk kesekian kalinya guru yang bertugas di daerah konflik menjadi korban kekerasan kelompok kriminal bersenjata.

Padahal guru mengabdi untuk mencerdaskan generasi masa depan bangsa. Mereka mestinya dilindungi dalam melaksanakan tugasnya. 

“Kami menyesalkan peristiwa itu. Kami juga menyayangkan pembakaran tiga gedung sekolah di SD Jambul, SMPN 1 Beoga, SMAN 1 Beoga dan rumah guru setelah kejadian penembakan pertama,” kata Unifah Rosyidi dalam keterangan resminya kepada media, Sabtu (10/04/2021).

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Papua, Chirstian Sohilait mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan wakil gubernur, Sekda Papua dan Kapolda Papua mengenai jaminan keamanan terhadap para guru yang masih ada di Beoga.

“Para guru yang masih ada di sana, sementara ini sudah diungsikan ke Koramil. Kami berharap mereka segera keluar dari sana,” kata Christian Sohilait.

Guru di daerah konflik lain di Papua, diingatkan segera mengungsi apabila merasa wilayah tugas mereka mulai tidak aman. Ini untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. (Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *