Aparat Keamanan Tak Menghambat Penuntas Pembunuhan Pendeta di Intan Jaya

Metro Merauke – Kepolisian Daerah atau Polda Papua menyatakan tidak ada upaya aparat keamanan menghambat penuntasan pembunuhan terhadap Pendeta Yeremia Zanambani di Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya.

Inspektur Pengawas Daerah atau Irwasda Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Alfred Papare mengatakan, aparat keamanan tidak berupaya memperlambat atau menghambat penuntasan kasus yang terjadi,19 September 2020 silam.

Menurutnya, upaya penuntasan kasus pembunuhan yang diduga dilakukan aparat keamanan itu terkesan lamban, sebab jenazah korban mesti diautopsi terlebih dulu.

Autopsi dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan keluarga korban. Namun selama ini butuh proses untuk mendapat persetujuan pihak keluarga.

Pernyataan itu dikatakan Alfred Papare dalam Rapat Koordinasi Tim Kerja Perlindungan dan Pemenuhan Hak Asasi Orang Asli Papua, Jumat (19/03/2021).

Rapat Koordinasi yang gelar Majelis Rakyat Papua di Kota Jayapura itu, membahas tentang Implementasi Hak Asasi Manusia pada Wilayah Konflik di Provinsi Papua. 

“Bukan aparat memperlambat penuntasan masalah ini. Akan tetapi kita mesti menghargai hak hak keluarga,” kata Kombes Pol Alfred Papare.

Kata mantan Kapolres Kota Jayapura itu, sebagai respons terhadap pembunuhan Pdt. Yeremia Zanambani, Menkopolhukam telah membantuk tim investigasi. 

Kapolda Papua, Irjen Pol Mathius Fakhiri beberapa waktu lalu, juga telah mengundang bupati Intan Jaya. Membicarakan bagaimana upaya penyelesaian masalah di sana. 

“Kita minta melakukan pendekatan kepada keluarga Pendeta Yeremias Zanambani agar bisa dilakukan autopsi,” kata Alfred Papare.

Katanya, negosiasi dengan pihak keluarga sempat alot. Akan tetapi dengan bantuan pemerintah daerah dan berbagai pihak, termasuk LSM, pihak keluarga akhirnya menyetujui autopsi. 

“Autopsi akan dilakukan di Intan Jaya sesuai kesepakatan. Kami sudah mempersiapkan tim dokter yang akan dibantu tim Laboratorium Forensik dari Makassar,” ujarnya.

Namun kini yang menjadi masalah, kelompok bersenjata masih berada di Intan Jaya. Dikhawatirkan mereka akan berupaya mengganggu proses autopsi nantinya.

Polda Papua kini menyiapkan strategi agar autopsi dapat berjalan tanpa hambatan. Di antaranya melibatkan pemerintah daerah melakukan pendekatan terhadap kelompok bersenjata.

Kini bupati Intan Jaya berupaya melakukan pendekatan agar tidak ada gangguan saat autopsi dilakukan. 

“Autopsi mesti dilakukan untuk mendapat fakta hukum [penyebab korban meninggal dunia] agar tidak ada saling tuding,” ucapnya. 

Irwasda Polda Papua mengakui, Intan Jaya menjadi perhatian berbagai pihak termasuk pemerintah pusat, dalam waktu terakhir. Apalagi pascapembunuhan terhadap Pdt. Yeremia Zanambani yang diduga dilakukan aparat keamanan. (Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *