Mencari Cahaya di Emperan Toko

Metro Merauke – Mentari mulai menyembunyikan sinarnya di ufuk Barat. Digantikan malam yang perlahan menyapu bumi. 

Marius Yolmen (55) bersama istrinya, Rotasya Kaize (47) bergegas meninggalkan rumah sederhana mereka di Jalan Mangga Dua, Kelurahan Maro, Distrik Merauke, Kabupaten Merauke, Papua.

Pasangan ini berjalan beriringan bersama ketiga anaknya, yang berusia 13 tahun, 10 tahun, dan delapan tahun. Saat itu waktu menunjukkan jam 18.30 WIT.

Di dalam tas jinjing lusuh yang dibawahnya, terdapat beberapa lembar kain, botol air minum, buku dan bendera merah putih usang.

Setelah berjalan sekira 30 menit, rombongan keluarga Marianus Yolmen tiba di tempat tujuan. Emperan Toko Emas Utama, di Jalan Polder. 

Bukan untuk membeli perhiasan yang ditempah dari logam mulia. Marianus dan istrinya membawa ketiga anak mereka ke emperan toko itu, agar buah cinta mereka dapat belajar menggunakan penerangan memadai dari cahaya lampu di sana.

Hampir setiap malam Marius dan keluarganya melakukan rutinas seperti ini. Sebab di bilik sederhana yang mereka huni sejak 2013 silam, belum ada penerangan listrik.

Marius yang keseharian bekerja membersihkan cabe dan mengupas bawang di Pasar Wamanggu Merauke, tak memiliki cukup uang untuk mendaftar sebagai pelanggan penyambungan baru jaringan listrik, agar rumahnya disinari cahaya dari Perusahan Listrik Negara (PLN).

“Saya bersama mama (istri)  ke depan toko untuk menemani anak belajar. [Rutinitas] ini [kami lakukan] hampir setiap malam. Kalau adik (anak bungsu) sudah mengantuk, kita semua pulang ke rumah,” kata Marius lirih.

Hidup dalam kesederhanaan di tengah kota, tidak membuat pria paruh baya itu putus asa. Ia berupaya agar anaknya dapat penerangan memadai saat belajar. Meski harus menumpang mendapat setitik cahaya di emperan toko, untuk beberapa jam.

Bagi Marius Yolmen, pendidikan sangat penting untuk generasi mendatang. Namun, penerangan merupakan salah satu sarana pendukung yang mesti ada. 

Untuk itulah, Marius berupaya agar anaknya mendapat penerangan memadai saat belajar. Meski harus menumpang untuk mendapat penerangan di depan toko setiap malamnya.

Keluarga ini baru beranjak pulang ke rumah ketika waktu menunjukkan jam 22.00 WIT, atau saat pemilik menutup tokonya.

“Tidak ada manusia yang bisa melakukan berbagai aktivitas dalam kegelapan. Terlebih di malam hari, penerangan adalah kuncinya dan sangat penting dalam kehidupan,” ucapnya.

Marius tak punya pilihan lain, agar anaknya dapat belajar di bawah cahaya lampu. Iapun tidak malu meski harus menumpang sesaat di emperan toko untuk mendapat cahaya. Semua itu ia lakukan demi masa depan anaknya.

“Kenapa harus malu. Saya setiap malam ke emper toko, tidak datang untuk meminta-minta. [Saya melakukan itu] karena memang ada persoalan hidup, yang benar-benar saya alami dan berat,” ujar Marius dengan mata sendu.

Asa Marius merasakan aliran listrik di rumahnya, terjawab pada Oktober 2020 silam.

Bermula ketika seorang warga Jalan Dom, Kelurahan Kelapa Lima, Distrik Merauke, Kabupaten Merauke bernama Meskey Manuputy bersama istrinya menghampiri keluarga Marius, yang ketika itu berada di emperan toko.

Setelah berbincang beberapa saat, hati Meskey tergugah mendengar kisah keluarga yang bermimpi menikmati penerangan di rumahnya itu.

Beberapa hari setelah pertemuan tersebut, petugas PLN mendatangi rumah Marius, untuk memasang jaringan listrik. Pemilik rumah hanya bisa terharu. Tak percaya, apa yang diimpikan selama ini menjadi kenyataan dengan bantuan warga lain.

Meskey Manuputy mengatakan, ia bersama beberapa warga lain yang peduli, berupaya membantu pemasangan instalasi listrik di rumah Marius.

“Kita urus pendaftaran di PLN dan minta agar disambungkan listrik di sana (rumah Marius Yolmen). Semuanya ini memang tanpa sepengetahuan Bapak Yolmen. Kita lakukan swadaya, ada sejumlah orang datang ikut membantu meringankan beban yang dialami keluarga ini,” kata Meskey.

Selain itu, warga yang peduli pada kondisi kehidupan keluarga itu, juga memberikan sejumlah kebutuhan pokok. Bantuan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan Marius dan keluarganya selama beberapa hari.

Marius Yolmen hanyalah satu dari sekian keluarga di Kabupaten Merauke, yang bertahun tahun berharap suatu saat rumah mereka dialiri listrik. Rindu merasakan terangnya cahaya lampu.

Kepala PLN Unit Pelaksanaan Pelayanan Pelanggan atau UP3 Merauke, Didik Krismanto mengaku salut dengan perjuangan Marius. Spirit pria kelahiran Kampung Wamal, Distrik Tubang, Merauke 1966 silam itu, dianggap dapat memotivasi orang lain memperjuangkan kebutuhan hidup keluarganya.

Didik menjelaskan, untuk memenuhi kebutuhan listrik warga di daerah tertinggal, terluar, dan terdepan, PLN memberikan diskon biaya pemasangan instalasi hingga 50 persen.

Sedangkan, untuk pemenuhan listrik terhadap keluarga kurang mampu, dapat dikomunikasikan dengan pemerintah daerah, sebagai pengambil kebijakan di daerah. PLN hanya menyiapkan insfrastrukturnya. 

“Salah satu solusinya, berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Bisa dilayani lewat dana desa atau lainnya. Sedangkan PLN prinsipnya menyiapakan insfrastruktur dan pembangkit,” kata Didik Krismanto. (Nuryani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *