Tidak Mudah Berdialog dengan Kelompok Bersenjata di Intan Jaya

Metro Merauke – Legislator Papua, Thomas Sondegau mengatakan tidak mudah berdialog dengan kelompok bersenjata di Intan Jaya.

Pernyataan itu dikatakan putra asli Intan Jaya tersebut, terkait upaya pemerintah kabupaten di sana melibatkan berbagai pihak berdialog dengan kelompok bersenjata di Intan Jaya.

Thomas mengatakan tokoh agama, tokoh adat, kepala suku dan tokoh pemuda mungkin bisa melakukan pendekatan secara kekeluargaan dan berdialog dengan kelompok bersenjata di Intan Jaya.

Akan tetapi, itu untuk mereka yang memang anak daerah di sana. Sementara kini, diduga kelompok bersenjata di Intan Jaya juga ada yang berasal dari luar Papua.

“Kalau untuk anak anak asli Intan Jaya, saya pikir para pihak di sana misalnya kepala suku, tokoh agama, tokoh masyarakat bisa berdialog dengan mereka. Bicara dari hati ke hati. Tapi kalau yang dari luar, ini yang sulit. Mereka bukan berasal dari suku asli di Intan Jaya,” kata Thomas Sondegau, Kamis (18/02/2021).

Meski begitu, Thomas yang merupakan anggota Fraksi Demokrat DPR Papua itu menyatakan, mendukung upaya Pemkab Intan Jaya menciptakan rasa aman di wilayahnya, agar warga di sana tenang. Pemerintahan serta pembangunan dapat berjalan maksimal.

Ia juga meminta kalangan TPN/OPM menempatkan kepentingan masyarakat diatas kepentingan kelompok atau pribadi. 

Katanya, Kabupaten Intan Jaya yang baru resmi dibentuk pada 26 November 2008 lalu, masih butuh pembangunan berbagai sektor. Tidak hanya infrastruktur, juga pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

“Saya harap wilayah Intan Jaya tidak dijadikan areal perang atau konflik, agar wilayah itu bisa aman seperti tahun tahun sebelumnya. Tidak ada namanya konflik bersenjata. Masyarakat bisa tenang,” ujarnya.

Kata Thomas, jika OPM ingin berperang dengan aparat keamanan sebaiknya mencari daerah lain. Wilayah yang tidak berpenduduk, agar warga sipil tidak menjadi korban.

“Kasihan rakyat Intan Jaya kini, meninggalkan kampungnya. Mencari daerah yang dianggap aman untuk menyelematkan diri agar tidak menjadi korban. Misalnya di Nabire dan Timika,” kata Thomas. (Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *