Bulog Disarankan Manfaatkan Tol Laut Angkut Beras Petani Papua

Metro Merauke – Ketua komisi bidang ekonomi, pertanian dan perkebunan DPR Papua, Mega Manasye Nikilujuw menyarankan Badan Urusan Logistik atau Bulog Wilayah Papua memanfaatkan keberadaan tol laut di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura.

Ia mengatakan, Bulog mesti memanfaatkan kehadiran tol laut itu untuk mengangkut beras petani dari berbagai wilayah Papua.

Katanya, dengan adanya tol laut pengiriman beras dari berbagai daerah lain di Papua ke Jayapura, dapat lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

“Misalnya beras dari Kabupaten Merauke, dengan adanya tol laut bisa tiba lebih cepat di Jayapura. Selama inikan, beras dari Merauke dibawa dulu ke Makassar, Surabaya barulah ke Jayapura,” kata Mega Nikijuluw, Rabu (10/02/2021).

Menurutnya, Bulog juga mesti menyiapkan gudang untuk menampung beras para petani di Papua. Akan tetapi, Badan Urusan Logostik mesti bersinergi dengan pemerintah daerah agar mendapat dukungan.

“Program tol laut ini, sebagai upaya pemerintah menekan mahalnya harga kebutuhan pokok di Papua. Kami harap semua pihak bersinergi,” ujarnya.

Pelaksana Tugas Kepala Kantor Bulog Wilayah Papua dan Papua Barat, Mohammad Alexander membenarkan kehadiran tol laut dapat menekan biaya angkut dari Merauke ke Jayapura.

“Biaya angkut beras dari Merauke selama ini cukup tinggi, karena jalurnya ke Surabaya dan Makassar terlebih dulu, kemudian ke Jayapura,” kata Mohammad. 

Menurutnya, biaya angkut beras dari Merauke ke ibu kota Provinsi Papua akan lebih murah dengan hadirnya tol laut di Kabupaten Jayapura. Sebab, rutenya tidak lagi melalui Makassar dan Surabaya. Melainkan dari Merauke ke Fak Fak, Biak dan Jayapura.

Ia berharap, pemerintah dapat meningkatkan sarana pendukung, semisal akses jalan menuju tol laut di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. 

Kini kondisi jalan belum memadai dilalui truk kontainer atau truk khusus mengangkut peti kemas, yang bermuatan lima ton lebih. 

“Beras dan logistik lain yang tiba di pelabuhan dengan peti kemas mesti dibongkar dan dipindahkan ke mobil truk biasa. Inikan waktunya tidak efisien. Kalau akses jalannya memadai, tidak perlu dibongkar dari peti kemas. Langsung diangkut ke truk peti kemas,” ucapnya. (Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *