Seribu Musamus, Ikonik Baru di Tengah Pandemi

Metro Merauke – Riuh ratusan orang memadati areal menawan dikelilingi rimbunan pepohonan di Kampung Salor Indah, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke, sore itu. Meskipun diterpa guyuran hujan, beberapa terus saja berswafoto pada sebuah galeri bertuliskan: Wisata 1000 Musamus

Ikonik baru Merauke itu berada pada hamparan tanah berlumpur seluas lapangan bola. Diresmikan pada pertengahan Desember 2019. Penggagasnya, seorang pria paruh baya, Kepala Kampung Salor Indah, Tohaman.

“Saya lihat, ada potensi. Kayaknya cocok gitu dibangun sebagai tempat wisata. Maka berdirilah Seribu Musamus,” kata Tohaman, kepada Metro Merauke, kemarin.

Seribu Musamus dikembangkan pada lahan milik warga. Ada 29 pemilik. Tujuannya, agar ekonomi masyarakat di Kampung Salor Indah tertopang. Setidaknya, dapur keluarga ikut ngepul. “Ada banyak peluang di Salor, ada potensi pertanian, peternakan, dan tentu wisata. Kita bangun infrastrukturnya, dan akhirnya berhasil,” ujar Tohaman.

Baginya, Seribu Musamus, bukan hanya ikonik Merauke, namun sebagai wujud kepedulian dalam menjaga dan merawat hutan, juga melestarikan cagar alam Merauke.

Musamus sendiri adalah sebutan lokal bagi rumah semut. Walau sebenarnya, bukanlah sarang yang dibuat oleh semut. Lebih tepatnya, mahakarya alam ini adalah sarang dari hewan sejenis rayap Macrotermes sp. Musamus berukuran sangat besar, bahkan ratusan kali lipat serangga pembuatnya. Tingginya bisa mencapai 5 meter dengan diameter lebih dari 2 meter. Ukurannya bervariasi di atas permukaan tanah.

Bangunan Musamus berbentuk kerucut dengan tekstur berlekuk-lekuk. Para ahli menyebut, Musamus terbuat dari tanah, rumput dan air liur rayap yang berfungsi sebagai perekat. Konon, di dalam Musamus terbentuk lorong-lorong berliku yang rumit.

Musamus di Salor Indah, berjajar seperti pulau-pulau. Jumlahnya, ratusan. Saking banyaknya, disebut ‘Seribu Musamus’. Di areal destinasi wisata itu, juga terdapat puluhan lapak yang menjajakan kuliner dan pernik asli Merauke. Adapula kendaraan besar (seperti truck), yang dapat memuat sejumlah orang, dan akan membawa berkeliling di dalam areal.

Jumlah pengunjung semakin bertambah di kala liburan, atau pada hari Minggu. “Ada honai-honai (peristirahatan berbentuk lingkaran dengan rangka kayu), tempat wisata ini dibangun dari tahun 2018,” ucapnya.

Pengunjung di kawasan wisata Seribu Musamus di Kampung Salor Indah, Merauke, Papua.

Jarak Tempuh
Lokasi Seribu Musamus, terbilang jauh dari kota. Untuk sekali pergi, kocek dikeluarkan lumayan besar. Walau demikian, bagi sebagian orang, tak mengapa. Perjalanan dari kota ditempuh kira kira 1,5 jam. Lelah dalam perjalanan, akan terbayar dengan keindahan yang ditawarkan di sana. Pengunjung dapat pula menikmati aneka kuliner dan tamasya berkesan yang tak bakal dilupakan. Apalagi sensasi saat menyentuh sarang semut sembari berfoto bareng.

“Dengan ini, ada pemasukan bagi kampung, dan semua orang,” kata Tohaman.

Alhasil, pundi-pundi Badan Usaha Milik Kampung pun melambung. Pemilik lahan bisa menabung, dan penduduk di Salor Indah, akhinya mempunyai tempat liburan sendiri.

“Tanah (lahan) itu awalnya tidak dikelola sebab kurang subur, maka saya kumpulkan (mereka), dan kita buat sebuah tempat pariwisata,” tukasnya.

Mula-mula, ada keraguan, apakah bisa ditata dan memberi hasil. Tapi, bagi Tohaman, tantangan tersebut mesti dituntaskan. Bersama BUMK Bintang Terang, ia menggerakan ‘personilnya’ membuat jalan. Kira-kira 900 meter. “Kita timbun, kemudian diperlebar,” tuturnya.

Atas usaha keras, tepatnya pada 15 Desember 2019, Tohaman dan sekampung membuka wisata Seribu Musamus. Wisatawan lokal akhirnya mulai membanjiri, dan ramailah kawasan itu.

“Dananya cukup banyak, tapi semuanya puas,” katanya.

Tohaman berharap ada campur tangan Pemerintah Daerah ikut mengembangkan lokasi wisata. Bila saja semua pihak turut mempromosikan ‘Seribu Musamus’, tentu akan berimbas pada daerah.

“Kita bersyukur, artinya lahan yang awalnya tidak menghasilkan apa-apa, setelah diubah, bisa merasakan hasilnya.”

Tohaman dan warga kampung masih terus bekerja. Tantangan kini adalah, mendampingi pengelola dan meningkatkan Sumber Daya Manusia di BUMK. “Sudah dua kali kita melakukan pelatihan manajemen BUMK, tapi dua kali itu belum cukup, saya berharap pemerintah bisa turun langsung memberikan pendampingan, bukan hanya dari kampung,” tutup Tohaman. (JR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *