Ketegangan Berlanjut, Perusahaan Teknologi China Sulit Bisnis di India

Jakarta – India dan China telah mengalami ketegangan geopolitik. Ketegangan itu membuat India memperketat keterlibatan perusahaan teknologi China di negaranya. Hal itu tentu membuat sektor teknologi China mengalami kerugian.

Mengutip dari CNN, Selasa (19/2/2021) Ketegangan antara kedua negara telah meningkat sejak Juni 2020, ketika mereka terlibat dalam bentrokan di sepanjang perbatasan wilayah yang disengketakan di Himalaya hingga menewaskan sedikitnya 20 tentara India.

Dalam beberapa minggu dan bulan berikutnya, pejabat India melarang aplikasi dari raksasa teknologi China Bytedance, Alibaba dan Tencent. India juga akhirnya membatasi Huawei untuk berpartisipasi dalam proyek jaringan 5G India.

Ketegangan itu sempat mereda pada September 2020 atas kesepakatan kedua negara. Namun, kesepakatan itu tidak membuat bisnis membaik. Aplikasi internasional milik ByteDance, platform video pendek TikTok, masih dilarang di India.

Akibat dilarang di India, TikTok kehilangan 200 juta pengguna India sejak dilarang pada Juni 2020. Angka itu dua kali lipat lebih banyak dari pengguna di AS. Bahkan baru-baru ini India menambah daftar larangan untuk aplikasi China di India karena alasan masalah keamanan nasional.

Padahal perusahaan teknologi China menganggap India sebagai pasar teknologi yang menguntungkan. Sebab negara itu memiliki pengguna internet 750 orang. Lembaga riset Atlas VPN mengungkap pengguna internet di India akan mencapai 1 miliar orang pada 2025.

Melihat peluang itu China memiliki rencana untuk membuat banyak produk teknologi di India. Seperti ByteDance dan perusahaan teknologi lainnya membutuhkan banyak data untuk membuat produk yang lebih baik.

Selain pengguna yang banyak, lembaga kebijakan luar negeri India Gateway House mengatakan pengguna internet India secara demografis beragam dan berbicara banyak bahasa yang berbeda, membuat data negara itu sangat dihargai.

Keuntungan itu dirasakan oleh raksasa teknologi Google. CEO Google Sundar Pichai menuliskan pada situs blog perusahaan bahwa aplikasi yang dibuat untuk pengguna orang India pasti bisa digunakan oleh pengguna mana pun.
Namun, ketatnya aturan dari pemerintah India terhadap China akan membuat rencana perusahaan teknologi China gagal.

Selain berencana mengembangkan produk, perusahaan teknologi China juga telah berinvestasi besar-besaran di startup teknologi India.Mereka diketahui telah menggelontorkan sekitar US$ 4 miliar sejak 2015. Tetapi aturan pengetatan India pada investasi asing juga akan membatasi rencana China.

(zlf/zlf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *