Uskup Agung Merauke Diterima Secara Adat

Metro Merauke – Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC diterima secara adat oleh masyarakat Marind-Imbuti di Bandara Mopah. Setelah turun dari tangga pesawat, sejumlah masyarakat adat menyambutnya sekaligus mengenakan  atribut adat khas orang Marind.

Pantauan Metro Merauke Jumat (1/1/2021) sekitar pukul 15.00 WIT, usai mengenakan atribut adat, Uskup Agung Merauke disambut juga Kapolres Merauke, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Untung Sangaji serta Dandim 1707, Letkol Inf Eka Ganta Chandra. Sekaligus menuju ke ruangan VIP Bandara Mopah.

Namun sayangnya saat peyambutan, tak ada satupun pejabat dari lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke yang hadir, padahal undangan telah diserahkan juga.

Setelah beristirahat sesaat di ruangan VIP Bandara Mopah, Uskup Mandagi diarakan keliling Kota Merauke. Ketika tiba di Lampu Satu, Uskup  turun dari mobil dan disambut puluhan masyarakat Marind-Imbuti. Karena tempat dimaksud adalah awal para misionaris Katolik menginjakan kaki.

Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC sedang memberkati umat di sekitar Lampu Satu | LKF

Beberapa saat kemudian, Uskup Mandagi memberkati warga setempat. Selanjutnya melakukan perjalanan menuju ke Gereja Santa Theresia Buti. Disana seratusan umat telah menunggu sekaligus melakukan penjemputan.

Di depan kuburan Buti, Uskup Mandagi turun dan diterima secara adat juga oleh masyarakat adat Marind, Mappi serta ethnis lain. Lalu berjalan menuju ke tempat pemakaman para misionaris Katolik, sekaligus berdoa bersama.

Masyarakat Mappi yang terlibat menjemput Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC dengan tarian adat | LKF

Pastor Paroki St. Theresia Buti, Pastor Pius Oematan, Pr dalam sepata dua katanya  menyampaikan ucapan selamat datang  sekaligus ucapan Natal dan Tahun Baru kepada Uskup Mandagi.  “Saya bersama umat bersuka cita karena Bapak Uskup boleh hadir di tengah kami. Tentu ini bukan sekedar kehadiran, tetapi berkat bagi kami di Paroki St. Theresia Buti,” katanya.

Paroki Buti, lanjut Pastor Oematan, merupakan paroki tertua di Keuskupan Agung Merauke. Namun kalau dilihat dari fisik bangunan gerejanya, butuh suatu perjuangan, lantaran masih tertinggal.

“Atas arahan dan petunjuk Bapak Uskup beberapa waktu lalu, kami sudah memulai dan tidak lama lagi, pembangunan akan dimulai,” ujarnya.

Dikatakan, hampir 90 persen umat disini sangat sederhana. Namun demikian, bukan dengan kesederhananan lalu menyederhanakan cinta kasih. “Kami terus melaksanakan apa yang telah diprogramkan Bapak Uskup,” ungkapnya.

“Kami sangat membutuhkan dukungan, petunjuk serta arahan Bapak Uskup Agung Merauke agar kedepan, boleh berubah mengikuti paroki lain baik secara fisik bangunan gereja maupun umat. Karena kami sadar masih jauh dari sempurna,” pintanya. (LKF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *