Ketika Wakil Rakyat Ini Mengunjungi Seorang Pemulung

Metro Merauke – Tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Danuari, seorang pemulung yang sejak 2007 silam, masih telaten dan atau setia dengan pekerjaannya itu.

Saban hari, ia menghabiskan waktu menyisir dari satu tempat ke tempat lain dalam wilayah kota dan sekitarnya mencari sampah anorganik mulai dari kaleng, botol, kardus, seng, kertas dan lain-lain.

Tak ada istilah pasrah.  Meski berbagai tantangan dihadapi, semangat untuk terus berusaha dan bekerja,  tetap bergelora. Karena pekerjaan ini sebagai sandaran hidup keluarganya.

Ditengah kesibukan yang dilakoni setiap hari, ternyata mendapat empati atau  perhatian khusus dari  Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Merauke, Dominikus Ulukyanan.

Untuk mengetahui  aktivitasnya,  Dominikus Ulukyanan, wakil rakyat yang  berhati mulia itu, langsung  mendatangi  lokasi atau tempat penumpukan sampah anorganik di belakang Kantor Basarnas Merauke itu.

Danuari sedang menunjukan sampah anorganik yang siap dikirim ke Surabaya | LKF

Dia (Dominikus;red), ingin melihat apa saja jenis sampah yang dikumpulkan dan diolah. Sekaligus mendengarkan keluhan Danuari, sehingga bisa disuarakan di lembaga DPRD Merauke.

“Saya tak pernah menyangka Bapak Dominikus Ulukyanan berkunjung ke tempat saya. Ini sejarah dalam hidupku dan tak pernah akan saya lupa sampai  kapanpun,” ungkap Danuari kepada Metro Merauke Rabu (25/11).

Dia mengaku mengeluti pekerjaan sebagai pemulung sejak 2007 sampai sekarang. “Saya mengumpulkan sampah anorganik mulai dari botol, plastik, kardus, kaleng kertas, seng rusak dan lain-lain. Itu saya lakukan setiap hari dengan berkeliling menggunakan sepeda motor dari satu rumah ke rumah warga, termasuk di toko maupun tempat umum lain,” katanya.

Sampah sampah non organik yang dikumpulkan bersama salah seorang anaknya, belum dikirim keluar daerah. Masih dijual dalam kota untuk menyambung hidup keluarga.

Tumpukan sampah anorganik yang dikumpulkan Danuari selama ini | LKF

Sampah-sampah yang dikumpulkan dan dibawa pulang, lanjut dia, selanjutnya dipilah dan dimasukan dalam mesin press. Setelah itu dikemas sesuai jenis dan ditumpuk. “Memang butuh waktu  memilah, mengingat jumlah sampah sangat banyak,” ujarnya.

“Saya mempunyai dua unit alat  yakni mesin press dan juga mesin penghancur sampah. Keduanya masih berfungsi sampai sekarang. Saya dapat dari orang, tetapi bukan gratis. Saya harus mencicil setiap bulan,” katanya.

Satu Kontainer Siap Dikirim ke Surabaya
Lebih lanjut Danuari mengatakan, beberapa jenis sampah anorganik telah dikemas  yang jumlahnya mencapai satu kontainer untuk siap dikirim ke PT Sumber Plastik Surabaya, Jawa Timur. Perusahan dimaksud  siap membeli.

 “Sesuai rencana saya kirim bulan Desember. Untuk itu mohon dukungan dari pemerintah setempat dan DPRD Merauke,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, harga sampah anorganik di Surabaya jauh lebih mahal dibandingkan ketika dijual di Merauke. Bisa sampai tiga kali lipat. Jadi ketika satu kontainer ini dikirim, ada modal untuk meningkatkan kegiatan dimaksud.

Danuari juga mengaku, dirinya memproduksi pupuk anorganik dari beberapa bahan sampah yang dikumpulkan. “Ya, karena ada mesin sehingga saya mengola sejumlah sampah menjadi pupuk dan dijual,” ungkapnya.

“Sudah banyak kali saya produksi pupuk anorganik dari sampah yang dikumpulkan dan orang rutin membeli. Mereka sudah merasakan manfaat dari hasil cara kerja sampah anorganik yang saya buat,” katanya.

Marinus S, Anak Asli Papua yang  bekerja dengan Danuari mengaku bangga dengan semangat kerja  yang dilakukan Danuari. “Dari sini saya belajar banyak, mungkin banyak orang melihat sebelah mata pekerjaan ini, namun saya merasa sangat bangga,” ujarnya.

Bagi dia, Danuari adalah sosok pekerja keras dan mampu membimbing orang secara baik. “Saya mendapatkan banyak pengalaman dari sini saat bekerja bersamanya,” kata dia.

Wakil Ketua DPRD Merauke, Dominikus Ulukyanan ketika dimintai komentarnya memberikan pujian kepada Danuari yang tekun menggeluti pekerjaan sebagai pemulung. “Betul saya datang di tempat Danuari melihat secara langsung apa yang sedang dikerjakan,” ujarnya.

Sesungguhnya, menurut Ulukyanan, pekerjaan dimaksud sangat mulia dan memiliki manfaat besar ketika sampah diolah baik menjadi uang. “Saya kira Danuari sudah membuka lapangan pekerjaan dan ada anak Papua bekerja bersamanya,” ungkapnya.

Ulukyanan berjanji akan  bersuara memperjuangkan kesulitan yang dialami Danuari terutama fasilitas pendukung. “Ya, saya  pasti bersuara di DPRD Merauke memperjuangkan beberapa keluhan dari Danuari,” tegasnya. (LKF)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *