BBM Satu Harga, Penawar Asa Warga di Perbatasan NKRI

Metro Merauke – Sejak bertahun-tahun lalu, warga Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, Papua merindukan menikmati harga bahan bakar minyak atau BBM terjangkau, seperti mereka yang berada di kota.

Selama ini harga BBM di wilayah perbatasan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Papua Nugini (PNG) tersebut begitu ‘mencekik leher’. 

Harga premiun misalnya, dijual pengecer hingga Rp 25 ribu perliter. Warga Mandiptana tak punya pilihan. Mau tak mau, mereka mesti membeli untuk memenuhi kebutuhannya. 

Akan tetapi, upaya Pemerintah Pusat menekan kesenjangan harga BBM untuk masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) lewat program BBM satu harga, kini dirasakan warga Mandiptana.

Hadirnya Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atau SPBU Kompak di Kampung Osso, Distrik Mandiptana, menjadi penawar asa warga di sekitar.

Harapan dapat merasakan dengan harga BBM terjangkau kini terwujud. Kehadiran SPBU Kompak dengan program BBM satu harga, tidak hanya menjamin ketersediaan bahan bakar di wilayah itu. 

Warga di sana kini dapat menikmati harga BBM seperti di wilayah kota. Misalnya, premium seharga Rp 6.450 perliter dan bio solar dengan harga Rp 5.150 perliter.

Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat atau Kaur Kesra Kampung Osso, Faustinus Okaibop mengakui keberadaan SPBU Kompak sangat membantu warga sekitar.

“Kita tidak lagi kesulitan membeli BBM,” kata pria yang akrab disapa Tinus itu kepada Metro Merauke, Rabu (14/10).

Masih melekat jelas dalam benak Tinus, masa-masa sulitnya bersama warga Kampung Osso beberapa tahun silam. 

Kala itu, warga susah payah mendapatkan BBM dengan harga terjangkau. Tak jarang, situasi itu berimbas pada terbengkalainya berbagai aktivitas warga kampung Osso, yang mayoritas bekerja sebagai pengakut batu dan pasir di sungai.

 “[Imbasnya] termasuk dalam pendistribusian barang dan berbagai aktivitas lainnya antar kampung, yang hanya ditempuh melewati jalur air (menggunakan transportasi air). [Ini] sangat bergantung pada ketersediaan BBM,” ucapanya. 

Menurut Tinus, kala itu bukan hanya harganya yang melambung tinggi. Ketersediaan BBM di Kampung Osso, juga terbatas.

Tak jarang terjadi kelangkaan bahan bakar minyak di sana. Dalam situasi ini warga hanya bisa pasrah pada keadaan. Sulitnya akses transportasi ke Tanah Merah, ibu kota Kabupaten Boven Digoel membuat warga tak berdaya.

“Karena keterbatasan, warga tidak mampu membeli minyak ke kota. [Jaraknya] jauh dan justru memakan biaya besar. Kalau sudah begitu, usaha maupun aktivitas warga terhambat,” ujarnya.

Mewakali Pemerintah Kabupaten Boven Digoel, Asisten II Bidang Pembangunan dan Kesra, DR dr Titus Tambaip, M.Kes mengapresiasi Pertamina dan pihak terkait, yang telah mewujudkan SPBU BBM satu harga untuk masyarakat di Distrik Mindiptana.

Titus Tambaip mengatakan, hadirnya SPBU di Distrik Mindiptana merupakan, wujud sinergitas antara pemerintah daerah dengan pihak swasta, yang telah membuka cabangnya hingga ke distrik.

“Ini merupakan kebijakan pemerintah dalam menyikapi persoalan Bahan Bakar Minyak, yang selama ini terjadi di Boven Digoel,” kata Titus.

Beroperasinya SPBU itu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan BBM warga sekitar. Pemerintah Kabupaten Boven Digoel juga menggantungkan asa kepada Pertamina, agar dapat menjamin pasokan BBM ke distrik Mandiptana.

Warga diimbau ikut menjaga, dan  memanfaatkan hadirnya SPBU di daerahnya, secara baik. (Nuryani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *