Konflik di Intan Jaya Pengaruhi Berbagai Sektor

Metro Merauke – Ketua Panitia Khusus atau Pansus Kemanusiaan DPR Papua, Feryana Wakerkwa mengatakan konflik yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya dalam beberapa pekan terakhir, berpengaruh pada berbagai sektor di sana.

Tidak hanya sektor pemerintahan, juga ekonomi, pendidikan dan rasa aman serta nyaman masyarakat Intan Jaya.

Katanya, situasi itu dilihat langsung pihaknya ketika melakukan investigasi di Intan Jaya, terkait penembakan yang menyebabkan Pendeta (Pdt) Yeremias Zanambani meninggal dunia, di Distrik Hitadipa pada 19 September lalu.

Menurutnya, Pansus Kemanusiaan DPR Papua berangkat ke ke Intan Jaya pada 5 Oktober lalu. Selain mengumpulkan data dan informasi dari para saksi dalam kasus penembakan Pendeta Zanambani, pihaknya juga melihat langsung situasi warga di sana.

Pernyataan itu disampaikan Feryana dalam keterangan pers Pansus Kemanusiaan DPR Papua, Jumat (09/10).

“Memang situasi di Intan Jaya tak aman bagi masyarakat di sana. Pemerintahan dan perekonomian terganggu. Banyak rumah yang seperti tidak dihuni, karena penghuninya takut keluar rumah. Mobilitas masyarakat tidak seperti biasa. Situasi di sana tidak seperti sebelumnya,” kata Feryana.

Menurutnya, aktivitas pendidikan juga terganggu. Pihaknya sempat bertemu beberapa siswa yang pulang sekolah sebelum waktunya. Ketika Pansus menanyakan mengapa mereka pulang sebelum jam sekolah berakhir, para siswa itu menyatakan tidak ada aktivitas di sekolah.

Selain itu, masyarakat di Distrik Hitadipa lokasi tempat penembakan terhadap Pdt Zanambani, juga memilih mengungsi. Mereka mengungsi bukan karena diancaman oleh pihak tertentu. Akan tetapi warga khawatir terhadap keselamatannya.

“Mereka menyatakan kalau pagar kami saja, mereka sudah bongkar (Pdt Zanambani yang selama ini dianggap sebagai pelindung telah ditembak), apalagi kami. Mereka ketakutan” ujarnya.

Dalam beberapa pekan terakhir, situasi di Intan Jaya memanas. Serangkaian penembakan terjadi sejak pertengahan September lalu. Korbannya mulai dari warga sipil, hamba Tuhan, hingga aparat keamanan.

Anggota Pansus Kemanusiaan DPR Papua, Deky Nawipa mengatakan dalam melakukan investigasi, pihaknya mendapat informasi dari berbagai pihak.

Mulai dari bupati, Dandim, Kapolres, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga warga yang mengetahui penembakan terhadap Pendeta Yeremias Zanambani.

“Kami ke Intan Jaya mewakili negara dan Pemprov Papua. Kami telah mendengar bagaimana upaya pemda di sana menangani masalah ini,” kata Deky Nawipa.

Menurutnya, Pansus Kemanusiaan merekomendasikan beberap poin kepada Pemkab Intan Jaya. Rekomendasi itu di antaranya, meminta pelaku penembakan diungkap demi menjaga nama baik negara dan pemerintah.

Selain itu, meminta agar tak ada penambahan pasukan selama kondisi Intan Jaya belum kondusif. Jika penambahan pasukan dipaksakan dalam situasi seperti kini, dapat menimbulkan penolakan dari warga.

“Kami juga merekomendasikan, selama masalah HAM belum selesai dan UU Otsus belum jelas kelanjutannya, jangan ada penambangan di Intan Jaya. Kami juga minta pelaku mesti diungkap karena pihak korban sudah menyebutkan identitas dan asal pelaku,” ucapnya. (Arjuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *