Indonesia Bidik Jadi Produsen Kendaraan Listrik Dunia, ini Alasannya

Metro Merauke – Pemerintah sudah mencanangkan program percepatan industri kendaraan listrik berbasis baterai karena sejumlah alasan yang sangat penting. Menurut seorang pakar, Indonesia punya peluang besar menjadi pemain kelas dunia di sektor ini.

Jika Indonesia membidik proyek mobil nasional berbahan bakar minyak fosil justru akan kesulitan untuk bersaing karena sudah tertinggal jauh dari produsen-produsen negara lain yang sudah puluhan tahun menguasai teknologi tersebut, kata Profesor Satryo Soemantri Brodjonegoro, pakar mesin lulusan University of California, Barkeley.

“Dalam hal ini, kendaraan listrik adalah target kita untuk Indonesia nantinya menjadi salah satu pemain industri tingkat dunia,” kata Satryo dalam program Zooming with Primus Dorimulu di Beritasatu TV, Kamis (8/10/2020).

“Mengapa demikian, karena pengembangan mobil listrik adalah sesuatu yang saya anggap masih bisa kita raih dengan kemampuan kita sekarang dan masih bisa bersaing dengan teman-teman dari China, Jepang, Eropa dan Korea,” kata Satryo.

Satryo mengatakan kendaraan listrik menggunakan teknologi yang lebih sederhana dibandingkan mobil bensin, karena komponen jantungnya hanya motor listrik dan baterai. Selain itu, belum banyak negara yang sudah secara serius menggarap atau menerapkan teknologi ini sehingga persaingan masih sangat terbuka.

“Oleh karena itu, ketika Presiden Jokowi mencanangkan perlunya kita kembangkan mobil listrik, saya katakan kepada Pak Menko (Maritim dan Investasi Luhut Panjaitan) ‘inilah saatnya Indonesia bangkit’,” kata Satryo.

Pria berusia 64 tahun itu sekarang menjadi penasihat khusus bidang kebijakan inovasi dan daya saing industri di kantor Luhut.

Alasan lain yang tidak kalah penting, Indonesia memiliki tambang nikel, cobalt dan mangan yang besar, semuanya merupakan material pokok dalam pembuatan baterai lithium yang menjadi jantung kendaraan listrik, kata Satryo.

Dia lalu mengungkap bahwa pemerintah sudah merintis pabrik baterai lithium bekerja sama dengan Tiongkok di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

“Kita sudah mulai, di Morowali sudah ada industri nikel dan cobalt. China yang mengusai lithium sudah bikin pabrik [baterai] lithium di Morowali, sudah mulai semua,” kata Satryo.

Selain itu pemerintah juga memikirkan daur ulang baterai lithium dengan membangun pabrik recycle secara terpisah, imbuhnya.

Kenapa Mobil Listrik?
Ada tiga hal utama yang mendorong pemerintah menggerakkan industri kendaraan listrik.

Pertama adalah alasan lingkungan, yaitu untuk mengurangi emisi karbon yang juga menjadi gerakan global saat ini.

“Kedua, untuk mengurangi impor BBM, karena setiap hari Indonesia mengimpor BBM sejumlah 800.000 barel per hari. Kalau kita gunakan listrik, maka impor tersebut pasti akan jauh berkurang,” kata Satryo.

Ketiga, mengembangkan kapasitas industri nasional di mana Indonesia bisa memiliki daya saing global dan berpotensi sebagai bagian dari rantai pasokan dunia yang penting, kata dia.

Dilema Impor
Indonesia tidak mungkin memulai industri kendaraan listrik dari nol, sementara tuntutan menuju teknologi baru ini sudah sangat mendesak.

Untuk itu, dalam tahap tertentu impor akan difasilitasi guna menciptakan populasi kendaraan listrik di Indonesia terlebih dulu dan mengedukasi masyarakat tentang manfaat dan kelebihannya, kata Satryo.

Perusahaan taksi Blue Bird sudah memiliki armada mobil listrik walau jumlahnya terbatas, demikian juga TransJakarta sudah menguji coba bus listrik yang diimpor oleh PT Bakrie Autoparts.

Namun, baik importir maupun operatornya mengeluhkan bea masuk yang sangat tinggi.

“Saya kira untuk program yang bisa berkelanjutan kita mungkin impor dulu sebagian, tapi at the same time kita juga mulai membangun industri bus listrik di Indonesia,” kata Satryo.

“Harapannya tiga-empat tahun lagi sudah bisa kita sediakan sendiri bus listrik itu oleh industri di Indonesia,” imbuhnya.

Dalam waktu dekat ini, sudah disiapkan skema penurunan bea masuk impor kendaraan listrik untuk membantu perusahaan transportasi darat.

“Khususnya di bus listrik, karena kita belum bisa produksi banyak maka untuk memenuhi kebutuhan TransJakarta mesti impor. Dikasih keringanan dulu sementara, supaya populasi bus listriknya ada dulu,” kata Satryo.

Insentif tentu juga diberikan kepada industri lokal yang mulai terjun ke sektor ini, seperti Mobil Anak Bangsa.

Fokus pemerintah saat ini adalah bus listrik dan sepeda motor listrik karena menyangkut lebih banyak pengguna.

Untuk mempercepat sosialisasi program kendaraan listrik, pemerintah berencana mewajibkan kantor-kantor pemerintah pusat dan daerah untuk menggunakan bus listrik. Kemudian aparatur sipil negara juga akan diminta memakai sepeda motor listrik dengan dibantu anggaran dari negara, kata Satryo.

Sayangnya, menurut Satryo, raksasa industri otomotif dari Jepang yang sudah sangat lama berbisnis di Indonesia belum tertarik untuk menjadi mitra pemerintah dalam program mobil listrik ini.

Sumber:BeritaSatu.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *