Bakrie Autoparts Siap Jadi Pelopor Bus Listrik di Indonesia

Metro Merauke – Produsen komponen otomotif PT Bakrie Autoparts menyatakan siap menjadi pelopor kendaraan listrik yang ramah lingkungan dan hemat energi, menyusul suksesnya uji coba dua unit bus listrik yang dioperasikan TransJakarta.

Perusahaan menilai bahwa masa depan otomotif sedang mengarah ke kendaraan listrik sehingga Indonesia harus mulai bergerak ke sana.

“Kita lihat perkembangan otomotif ke depan yang paling feasible adalah kendaraan listrik, karena ini sudah inevitable, semua orang akhirnya akan ke situ,’ kata Direktur Utama Bakrie Autoparts Dino A. Riyandi dalam program Zooming with Primus Dorimulu di Beritasatu TV, Kamis (8/10/2020).

“Kita melihat ini peluang nyata dan kita berkomitmen melakukannya. Kalau bisa kita adalah pelopor,” imbuhnya.

Saat ini Bakrie Autoparts masih mengimpor bus listrik dari produsen Tiongkok, BYD, namun perusahaan juga membuat rencana jangka panjang untuk alih teknologi dan membuat sendiri bus listrik dengan komponen lokal.

“Kita sengaja berkecimpung di bus listrik. Di kota-kota besar yang memberikan sumbangan polusi terbesar adalah kendaraan umum, terutama bus, karena bus itu sehari jalan 200 kilometer atau lebih, dibandingkan kendaraan pribadi,” jelas Dino.

“Kalau kita bisa gantikan bus konvensional dengan bus listrik, saya yakin angka polusi di kota-kota besar khususnya Jakarta akan bisa dikurangi,” ulasnya.

TransJakarta
Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama PT TransJakarta Sardjono Jhony Tjitrokusumo mengatakan bahwa dua bus listrik yang diimpor Bakrie Autparts sudah menjalani uji beban selama satu tahun dan uji komersial selama tiga bulan secara lancar.

Perusahaan milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu sudah mencanangkan akan beralih sepenuhnya ke armada kendaraan listrik pada 2030 nanti, kata Sardjono.

“Kita menginisiasi kendaraan listrik kurang lebih satu tahun yang lalu,” ujarnya dalam konferensi video tersebut.

Dua unit bus listrik melakukan uji beban di lokasi tertutup di kawasan Ancol dan Monas, setelah itu mulai 6 Juli lalu melakukan uji angkut di jalur-jalur komersial TransJakarta selama tiga bulan.

“Tanggal 6 kemarin uji cobanya sudah selesai, hasilnya sangat baik,” kata Sardjono.

“Kita percaya ini bisa menjadi pengganti dan membawa solusi untuk permasalahan bus-bus berbahan bakar solar,” tambahnya.

Pada prinsipnya, TransJakarta sudah siap mengoperasikan bus listrik, tetapi keputusan pembelian bus tanpa BBM ini diserahkan kepada para operator yang menjadi mitra TransJakarta, kata Sardjono.

Bagi TransJakarta, yang terpenting saat ini adalah hitungan rupiah per kilometer. Jika angkanya naik karena mahalnya harga bus listrik atau biaya perawatan, maka itu akan membebani APBD DKI, kata Sardjono, sembari menambahkan bahwa TransJakarta disubsidi secara penuh oleh Pemprov.

Karena subsidi tersebut, maka selama lebih dari 10 tahun tarif TransJakarta tetap Rp 3.500 per orang, jelasnya.

“Operator ini yang akan membeli dan mengoperasikan bus itu di bawah TransJakarta sebagai bus management company. TransJakarta sendiri sudah menargetkan bahwa di tahun 2030 seluruh bus kita itu merupakan electric vehicle atau bus litrik, totalnya hampir 12.180 unit,” kata Sardjono.

Tentang pemasok atau importir bus listrik untuk TransJakarta, Sardjono mengatakan terbuka bagi perusahaan mana saja di Indonesia. Dia mencontohkan dalam waktu dekat perusahaan yang dipimpinnya juga akan melakukan uji coba bus listrik buatan Mobil Anak Bangsa.

Kelebihan Bus Listrik
Alasan utama pemakaian bus listrik adalah mengurangi polusi dan menghindari pemakaian bahan bakar fosil. Namun, secara bisnis banyak kelebihan lain yang ditawarkan kendaraan tipe ini.

Harga pembelian bus listrik memang lebih mahal dibandingkan bus konvensional, apalagi ada bea masuk sebesar 40%, tetapi untuk jangka panjang jauh lebih menguntungkan dilihat dari total ownership cost-nya, kata Dino.

Dia menjamin bahwa biaya operasional bus listrik pasti lebih murah daripada mobil berbahan bakar diesel.

“Contoh untuk satu bus listrik itu 1 watt baterai bisa dipakai jalan 1 km, harga listrik per Kwh Rp 1.400. Dibandingkan dengan bus diesel, dengan solar subsidi seharga Rp 5.500 bisa jalan 2 km. Berarti untuk 1 km bus diesel cost-nya Rp 2.700 sedangkan bus listrik per 1 km biaya operasional Rp 1.467,” jelas Dino.

“Kalau PLN menepati janjinya bahwa bus listrik bisa memakai lisitrik subsidi dengan harga Rp 700 per Kwh, maka akan lebih murah lagi,” tambahnya.

Biaya perawatan bus listrik bisa lebih murah karena jumlah komponen yang harus sering diganti jauh lebih sedikit dibandingkan mobil yang memakai BBM.

“Tidak perlu ganti oli, tidak perlu ganti filter, jadi bisa 30%-40% lebih murah [perawatannya] daripada bus konvensional,” kata Dino.

Kendala yang dihadapi operator adalah mahalnya harga bus listrik saat ini, terutama akibat bea masuk yang tinggi. Menurut Dino, satu bus listrik bisa mencapai Rp 5 miliar atau dua kali lipat harga bus konvensional.

Pada tahap awal ini, Bakrie Autoparts merupakan agen pemegang merek (APM) bus listrik BYD untuk distribusi dan penjualan di Indonesia.

Namun, secara bertahap perusahaan akan mengembangkan bus listrik sendiri. Mulai tahun depan, menurut Keputusan Presiden no. 55/2019 tentang percepatan industri kendaraan listrik berbasis baterai, kendaraan listrik yang dijual di sini sudah harus memiliki tingkat kandungan lokal 35%, kata Dino.

“Tugas kita adalah begitu kita dapat order dari TransJakarta atau operator-operator lain, kita harus memastikan bahwa bus itu sudah memenuhi 35% local content. Kita sebagai integrator bekerja sama dengan karoseri dan beberapa BUMN untuk merakit bus tersebut. Insyaallah 10 tahun lagi kita punya bus sendiri,” pungkas Dino.

Sumber:BeritaSatu.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *