Para Pihak Mesti Membantu Mengungkap Pelaku Pembunuhan Beruntun di Yahukimo

Anggota DPR Papua, Natan Pahabo bersama warga Yahukimo

Metro Merauke – Pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda dan masyarakat Kabupaten Yahukimo, Papua diminta membantu aparat keamanan mengungkap pembunuhan beruntun di wilayahnya.

Anggota DPR Papua dari daerah pemilihan Yahukimo, Yalimo dan Pegunungan Bintang, Natan Pahabol menyatakan prihatin dan berduka terhadap hilangnya nyawa tiga warga di sana.

“Kami mengutuk perbuatan itu. Pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan masyarakat mesti menyampaikan kepada aparat, setiap informasi yang diketahuinya. Jangan menyembunyikan informasi sekecil apapun agar proses hukum bisa dilakukan,” kata Natan Pahabol, Sabtu (29/08).

Dalam dua pekan terakhir, terjadi tiga kasus pembuhan beruntun di Dekai, ibu Kota Kabupaten Yahukimo.

Korban pertama adalah staf KPU Yahukimo, Henry Jovinski (25 tahun). Korban yang berboncengan bersama rekannya menggunakan sepeda motor, meninggal dunia setelah diadang dan ditikam seseorang.

Lokasi kejadian di Jembatan Kali Teh, Jalan Gunung, Distrik Dekai, 11 Agustus lalu.

Pembunuhan kembali di Dekai, 20 Agustus. Korban adalah warga sipil bernama Muhammad Thoyib (39 tahun).

Ia ditemukan dengan luka bacok, tusukan dan anak panah menancap di tubuhnya di Jalan Bandara Nop Goliat, Distrik Dekai.

Kasus ketiga terjadi pada 26 Agustus. Korban bernama Yauzan (34 tahun) yang ditemukan di Jembatan Kali Buatan, Jalan Gunung, Distrik Dekai mengalami luka tebasan benda tajam.

Menurut Natan, Yahukimo adalah kabupaten dengan motto “Damai Sejahtera”. Motto Ini menunjukkan bahwa siapapun yang ada di kabupaten itu, selama ini hidup rukun di sana. Tidak ada pembunuhan beruntun seperti dua pekan ini.

“Kami mengutuk keras perbuatan itu. Kami harap polisi dapat secepatnya mengungkap kasus ini,” ujarnya.

Akan tetapi, Sekretaris Fraksi Gerindra DPR Papua itu juga mengingatkan aparat keamanan tidak serampangan melakukan upaya penegakan hukum.

Aparat keamanan mesti memperhatikan norma kemanusiaan dan pola hidup masyarakat setempat, saat melakukan penyisiran mencari pelaku.

Sejak zaman dulu, Masyarakat Papua pada umumnya, termasuk di Yahukimo bertahan hidup dengan bertani, berkebun dan berburu. Kapak, parang, panah, tombak dan beberapa peralatan lainnya identik dengan mereka.

Jangan karena warga memiliki berbagai alat tajam untuk kebutuhan bertani, berkebun dan berburu kemudian diduga bagian dari pelaku.

“Masyarakat Yahukimo ini bukan berlatar belakang, pembunuh atau penjahat. Ini oknum-oknum tertentu yang melakukannya,” ucapnya.

“Jangan sampai imbasnya kepada warga lain. Aparat keamanan jangan anggap itu untuk membunuh orang. Tidak semua orang Yahukimo punya pikiran itu. Jangan membuat warga takut dan mengungsi,” katanya lagi.

Ia juga mengingatkan masyarakat Dekai tetap tenang. Tidak keluar malam selama aparat keamanan melakukan penyisiran mencari pelaku. Jangan ada warga terkesan berupaya melindungi atau menyembunyikan informasi mengenai pelaku.

“Ada beberapa agenda besar. Jelang berakhirnya pemberian dana Otsus dan pilkada di daerah itu. Jadi menyongsong ini, tidak boleh ada kekerasan. Daerah mesti aman. Siapapun tidak berhak menghilangkan nyawa seseorang selain Tuhan,” ujarnya. (Arjuna)

 

 

 

Tinggalkan Balasan