‘Kami Hanya Bisa Rontok Padi Dengan Pukul di Batang Kayu’

Salah seorang petani di Kampung Mambum, Mama Elisabeth Core Kinambure | LKF

Metro Merauke – Inilah kisah atau ceritera dari salah seorang petani di Kampung Mambum, Distrik Kimaam, Kabupaten Merauke. Betapa tidak, dengan minimnya alat pertanian, mereka hanya bisa menanam hingga memanen secara manual menggunakan peralatan seadanya.

Kondisi demikian, hampir terjadi setiap tahun saat musim tanam maupun panen datang. Aspirasi yang disuarakan selama ini, tak kunjung diresponi para pejabat di tingkat atas sebagai pengambil kebijakan.

Itulah suara dari Mama Elisabeth Core Kinambure, salah seorang petani di Kampung Mambum saat berceritera kepada Metro Merauke-kemarin. “Saya sudah bersuara terus, tetapi hingga sekarang tak ada jawaban didapatkan,” ungkapnya.

Mama Elisabeth mengaku, sejak 2010 silam, ia telah membuka lahan untuk areal persawahan. Dari tahun ke tahun, bersama keluarganya hanya bisa membuka lahan satu hektar. “Ada keinginan membuka lebih luas, namun terkendala dengan alat pertanian,” ujarnya.

“Memang di kampung kami, ada tiga handtraktor dibeli dengan dana kampung. Hanya saja jumlahnya sangat minim. Karena banyak digunakan atau dimanfaatkan petani setempat saat musim tanam tiba,” katanya.

Saat menanam , menurut dia, masih dengan tenaga manusia. Begitu juga memasuki musim panen. “Kami hanya menggunakan arit memotong batang padi. Selanjutnya membiarkan selama tiga hari. Setelah itu, merontokan dengan memukul di batang kayu, agar bulir padi bisa keluar, sekaligus dikumpulkan dan dijemur lagi,” ungkap dia.

Untuk merontok padi, jelas dia, memakan waktu hingga satu bulan. Karena masih manual memukul dibatang kayu. “Kalau dibandingkan di lokasi eks transmigrasi, pasti ada bantuan mesin perontok. Sehingga petani tak mengalami kesulitan ketika mulai merontok gabah setelah panen dilakukan,” katanya.

Ditambahkan, selain mesin perontok tak ada, juga minimnya traktor, masyarakat setempat masih mengharapkan adanya bantuan alkon agar dapat menyedot air dari saluran untuk masuk ke areal persawahan.

“Kami mengharapkan adanya perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke juga Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) maupun DPR RI, terutama Bapak H. Sulaeman Hamzah agar bisa meresponi apa yang menjadi kesulitan ini. Karena sejumlah peralatan dimaksud sangat dibutuhkan,” pintanya. (LKF)

Tinggalkan Balasan