Puji Pemerintah, Jerry Omona: Masih Banyak Warga Miskin di Merauke!

Jerry Omona, Ketua DPD PSI Merauke, bersalaman dengan para tokoh masyarakat di Kampung Toray, Distrik Sota, Merauke. Foto: Dok PSI Merauke.

Metro Merauke – Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Solidaritas Indonesia Kabupaten Merauke, Papua, Jerry Omona, mengapresiasi kinerja pemerintah yang telah melakukan berbagai terobosan menata masyarakat bangkit dan sejahtera.

Menurut Jerry, sesuatu yang positif, dikerjakan tulus demi kemajuan daerah, layak dipuji. “Tapi bilamana ada bagian gagal atau jelek dikritik, harus juga diterima,” kata Jerry Omona, kemarin.

Ia mengatakan, salah satu kegagalan serius pembangunan di Merauke, yakni pemerintah belum mampu mengangkat derajat hidup warga asli Papua. “Jauh mengena,” ucapnya.

Baginya, tidak sepadan membuat jalan serta jembatan dengan nilai fantastis, kemudian mengklaim berhasil dalam pemerintahan. “Ingat, masih banyak warga miskin, menurut data BPS, lebih dari 23 ribu penduduk miskin di Merauke,” tukasnya.

Benar kata Jerry, bahwa pembangunan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta. “Tapi, rasa-rasanya, pemerintahlah yang mesti menjawab,” katanya.

Jerry menambahkan, dalam sebuah survei lokal pertengahan 2019 terhadap 2.717 responden di 10 distrik di Merauke, ditemukan hasil mengejutkan. Dimana, sebanyak 79,9% responden mengaku kurang puas terhadap pemerintah, 1,9% sangat puas dan 14,0% cukup puas. 4,2% lainnya tidak menjawab.

“Itu survei lama, mudah mudahan saja, sekarang telah berubah. Kalau ingin membuktikan, silahkan tanya di lapangan bagaimana tanggapan saat ini,” sambungnya.

Permasalahan pembangunan, kata dia, sebenarnya sudah berlarut. “Jika pemerintah berhasil, tentu angka ketidakpuasan masyarakat kecil, kedua, kemiskinan turun. Yang terjadi, sejak 2018 sampai 2019, Merauke Dalam Angka tahun 2020, angka kemiskinan tetap di 23 ribu lebih. Naik signifikan dari 2014, 21 ribu lebih.”

Memang, kata dia, hal ini tak dapat dijadikan ukuran kegagalan di semua lini. Ada juga sektor tertentu berhasil. Namun tetap saja ironis, puluhan tahun Otonomi Khusus dengan dana miliaran, Kepala Daerah notabene OAP, tapi nyaris ada perubahan pada OAP.

“Membangun tidak seperti membalikan telapak tangan, tidak cukup lima tahun. Lah, kalimat ini dari dulu, itu senjata politisi,” tutupnya. (redaksi)

Tinggalkan Balasan