Perilaku Pemilih dan Sistem Pemilihan Bupati di Kabupaten Merauke

Dominikus Cambu, S.Kg, Mkes
Oleh : Dominikus Cambu, S.Kg, Mkes

PERATURAN Pemerintah (PP) RI Nomor 6 Tahun 2005 menyatakan bahwa pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang selanjutnya disebut pemilihan adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat di wilayah Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk memilih Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah adalah Gubernur dan Wakil Gubernur untuk Provinsi, Bupati dan Wakil Bupati untuk Kabupaten, serta Walikota dan Wakil Walikota untuk Kota

Pada pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah Langsung (Pilkada) tanggal 9 Desember 2020 nanti, rakyat menjadi pihak yang paling menentukan siapa calon yang paling layak menjadi pemimpin dalam pemerintahan daerah Kabupaten Merauke. Rakyat yang memiliki hak pilih dapat menentukan siapa saja kandidat yang dianggap cakap dan layak berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, seperti masa jabatan yang singkat, platform, visi-misi, program yang diusung kandidat, rekam jejak kandidat, karakteristik kandidat, janji-janji politik kandidat, figur kandidat hingga ideologi partai yang mengusung kandidat.

Saya melihat dari Kedarurat kesehatan yang disebabkan oleh pandemik Covid 19 ini meciptakan darutan Ekonomi sehingga dalam pelaksanaan Pilkada tanggal 9 Desember 2020 nanti akan melahirkan karakter pemilih yang pertama yaitu Kelompok Pemilih Imbalan Jasa yaitu pemilih yang akan memilih bakal calon bupati dan wakil bupati  yang memberi uang atau barang kepada pemilih. Pemilih tidak lagi melihat rekam jejak bakal calon bupati, partai, visi,misi dan program.

Pilkada langsung yang diterapkan sejak tahun 2005, membawa fenomena baru dalam alam demokrasi Indonesia yaitu merebaknya money politic atau politik uang, yaitu suatu bentuk pemberian atau janji untuk menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih atau supaya ia menjalankan haknya dengan cara memilih kandidat tertentu pada saat pemilihan umum. Pemberian bisa berupa uang atau barang. Didalam buku  Saifullah (2012) mengatakan bahwa politik uang umumnya dilakukan oleh simpatisan, kader, atau bahkan pengurus partai politik menjelang hari pencoblosan.

Kelompok pemilh kedua yaitu Pemilih Tradisional, Pemilih tradisonal sangat mengutamakan kedekatan sosial budaya, nilai, asal-usul, paham dan agama sebagai ukuran memilih bakal calon dan partai politik. Didalam buku The Strain of Representation (2002: 150) Robert Rohrscheneider menyampaikan bahwa pemilih tradisional adalah yang paling mudah dimobilisasi selama periode kampanye.

Loyalitas begitu tinggi, apa saja yang dikatakan oleh pemimpin kelompok adalah sabda yang tidak akan pernah terlihat salah atau keliru. Dalam beberapa tahapan, jenis pemilih ini bisa menjadi sangat berbahaya karena menjadi “pasukan” yang rela untuk melakukan apapun yang dikatakan oleh pemimpinnya.

Kelompok ketiga yaitu Pemilih Rasional.  Pemilih Rasional akan memilih pemimpin berdasarkan rekam jejak (track record) partai atau bakal calon kemudian visi, misi dan programa kerja 5 tahun kedepan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masa kini dan yang akan datang.

Dalam buku Abo upe (2008:112) mengutip pendapat Nimmo yang  mengemukakan bahwa Pemilih rasional cukup pengetahuan mengenai berbagai alternatif, bertindak berdasarkan prinsip bukan secara kebetulan atau kebiasaan melainkan bertindak dengan mempertimbangakan bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk kepentingan orang lain. Pemilih rasional cenderung memilih altematif yang peringkat preferensinya paling tinggi.  Kelompok pemilih ini tidak terlalu banyak di Merauke.

Kelompok Pemilih keempat yaitu Pemilih Kritis, Pemilih Kritis akan melihat bakal calon secara kompleks dan menyeluruh mulai dari figur, rekam jejak (track record), visi, misi dan program kerja lima tahun kedepan serta partai dan ideologi partai. Kelompok pemilih ini lebih melihat partai dan ideologi partai yang dapat menjawab persoalan yang ada di masyarakat dan mengkaitkan bakal calon dengan partai tapi ada juga yang melihat bakal calonnya baru melihat ideologi partai yang mengusungnya.

Banyak hal yang akan dipertimbangkan dan dianalisis sebelum pemilih memutuskan untuk memilih bakal calon. Dalam buku Abo upe (2008:112) mengutip pendapat Nimmo yang mengakatan bahwa ikatan emosional kepada partai politik merupakan konstruk yang paling penting yang menghubungkan pengaruh sosial dengan pemberian suara bagi pemilih yang reaktif. Sumber utama aksi dari pemberi suara yang reaktif yaitu sekedar mengasosiasikan lambang partai dengan nama kandidat mendorong mereka yang mengidentifikasikan diri dengan partai atau kandidat untuk mengembangkan citra yang lebih menguntungkan tentang catatan dan pengalamannya, kemampuannya dan atribut personalnya. Kelompok pemilih ini yang ada di Kabupaten merauke sangat sedikit.5 Namun jika pemilih tidak menemukan apa yang bisa diharapkan dari kedua pilihan, maka ia akan memilih opsi golput yang pada akhirnya akan berubah menjadi karakter pemilih berikutnya, yakni: pemilih skeptis.

Kelompok pemilih kelima yaitu Pemilih Skeptis. Pemilih Skeptis merupakan pemilih yang tidak memiliki orientasi ideologi cukup tinggi dengan sebuah partai politik atau seorang kontestan, juga tidak menjadikan kebijakan sebagai sesuatu yang penting. Pada kelompok pemilih ini  mereka tidak merasa terikat dengan ideologi apapun dan cenderung menganggap bahwa kebijakan yang dijanjikan baik dari partai maupun bakal calon tidak akan membawa perubahan yang berarti.

Pada beberapa Distrik di Kabupaten Merauke terdapat sebagian kelompok pemilih rasional dan kritis sedangakan semua distrik sudah tentu ada kelompok pemilih imbal jasa, tradisional dan skeptis.

Menurut sejarahnya, Indonesia telah melaksanakan Pemilu sebanyak 12 kali dari tahun 1955 hingga 2019 di mana selalu berpedoman pada asas langsung, umum bebas, dan rahasia (Luber). Kemudian pada era reformasi, istilahnya berkembang menjadi jujur dan adil (Jurdil).6 Sistem pemilihan umum yakni cara dalam memilih seseorang untuk mengisi jabatan politik yang diinginkan. Jabatan yang dimaksud ini bisa saja presiden, wakil rakyat, maupun kepala desa.

Pada awalnya, Pemilu Indonesia menganut sistem tertutup. Artinya, suara rakyat sepenuhnya diserahkan kepada proses di dalam partai politik untuk memilih orang-orang yang dinilai mempunyai kecakapan untuk duduk di eksekutif dan parlemen. Sistem tertutup ini berlangsung sejak tahun 1955 hingga 1999 lalu pada tahun 2004 beralih ke sistem terbuka di mana masyarakat dapat memilih calonnya langsung tanpa perantara partai politik.

Sistim pemilu yang pakai di Indonesia yaitu sistem pemilu plural/mayoritas artinya dalam pemilihan umum putaran pertama salah satu bakal calon harus memperoleh suara lebih dari 50% (lima puluh persen), jika tidak ada maka akan dilakukan pemilihan putaran kedua yang diikuti oleh pasangan calon yang memperoleh suara terbanyak pertama dan kedua pada putaran pertama. Bakal calon pada pemilhan putaran kedua di katakana menang apa bila pasangan calon memperoleh suara terbanyak.

Jika dua bakal calon yang lolos berkas di KPUD Merauke maka saya berpendapat bahwa pemilihan akan berlangsung dengan satu kali putaran tapi jika ada 3 atau 4 bakal calon yang lolos maka proses pemilihan akan dilakukan dengan pemilihan putaran kedua.

Saya mau coba berasumsi 4 bakal calon lolos di KPUD Merauke yaitu  Bapak Drs. Romanus Mbaraka, MT-Bapak Ridwan S.Sos.M.Pd, Bapak Frederikus Gebze, Bapak Hendrikus Mahuze,S.Sos, M.Si-H.Santosa, B.Sc dan Bapak Heribertus Silibun,SH-Bapak Bambang Setiadji Suji untuk memberi gambaran tentang data pemilih tetap, jumlah penduduk, agama, suku, karakter pemilih, pemetaan katong suara dan pemetaan wilayah pemilihan

Distrik yang masih berpenduduk asli Marind atau tidak dimasuki transmigrasi di Merauke yaitu Distrik Kimaam, Tabonji, Ilwayab, Waan, Animha, Nguti, Tubang, Kaptel dan Naukenjerai sementar Distrik yang di masuki transmigrasi yaitu Distrik Jagebob 13 desa, Tanah Miring 10 desa, Eligobel 9 desa, Ulilin 9 desa, Kurik 7 desa, Muting 5 desa, Okaba 5 desa, Semangga 7 desa dan Malind 4 desa. Distrik Merauke berpenduduk suku majemuk.

Jumlah daftar pemilih tetap di Kabupaten  Merauke sebanyak 148351 yang tersebar di 20 distrik 11 kelurahan dan 179 kampung dengan persebaran petama, Distrik Kimaam memiliki jumlah  pemilih tetap 3.465 dari jumlah penduduk  6.697 dengan jumlah penduduk mayoritas suku kimaam. Mayoritas agama disana adalah katolik dengan jumlah 6.873 dan diikuti dengan islam dengan jumlah 161, protestan dengan jumlah 128 dan hindu berjumlah 12.

Kedua, Distrik Tabonji memiliki jumlah  pemilih tetap 2.961 dari jumlah penduduk 5.924 dengan jumlah penduduk mayoritas suku kimaam. Mayoritas agama disana adalah katolik dengan jumlah 4467 dan diikuti dengan protestan dengan jumlah 20 serta islam dengan jumlah 18.

Ketiga, Distrik Ilwayab memiliki jumlah  pemilih tetap 2.094 dari jumlah penduduk 5.913 dengan jumlah penduduk mayoritas suku makleuw tapi secara wilayah administrasi hubungan kedekatan lebih dekat suku kimaam. Mayoritas agama disana adalah katolik dengan jumlah 3.301 dan diikuti dengan islam dengan jumlah 1.529, protestan 883 dan Budha dengan jumlah 6.

Keempat, Distrik Waan memiliki jumlah  pemilih tetap 2.456 dari jumlah penduduk 5.146 dengan jumlah penduduk mayoritas suku kimaam. Mayoritas agama disana adalah katolik dengan jumlah 4.480 dan diikuti dengan Islam dengan jumlah 20, Protestan  dengan jumlah 12 dan hindu dengan jumlah 2.

Distrik Kimaam, Tabonji, Ilwayab dan Waan di dominasi oleh penduduk asli suku kimaam sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku dan agama setelah itu kelompok pemilih skeptis tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi.

Dominasi bakal calon disini yaitu  Bapak Drs Romanus Mbara, MT-Bapak Ridwan S.Sos.M.Pd sebagai putra suku Kimaam kemudian akan di ikuti dengan pasangan Bapak Frederikus Gebze, Bapak Hendrikus Mahuze,S.Sos, M.Si-H.Santosa, B.Sc dan Bapak Heribertus Silibun,  SH-Bapak Bambang Setiadji Suji.

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu distrik kimaam bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 573 dan Bapak Romanus Mbaraka 2.297 suara, Distrik Tabonji bapak Fredi memperoleh suara 502 dan bapak Romanus 1.889 suara, Distrik Waan bapak Fredi mendapatkan suara 149 dan bapak Romanus 2.456  suara dan Distrik Ilwayab bapak Fredi mendapatakan suara 927 dan bapak Romanus 592 suara sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze  dan Bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptid atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Pemilihan Bupati Merauke akan memunculkan swing voter atau pemilih yang pindah dukungan di semua kecamatan karena masing-mamsing bakal calon akan manuver dengan tatik dan strateginya untuk meraih kemenagan. Persaingan sengit dan  saling menjatuhkan akan terjadi antara masing-masing bakal calon untuk menarik pemilih.

Pastinya suara akan terpecah dia semua distirk karena semua bakal calon akan bergerilia dengan taktik dan strategi masing-masing. Untuk mendapat suara pemilih disini tergangtung dari marketing politik, kenalan, relawan, tim sukses, partai politik, kader partai, pertemuan secara langsung pada kelompok adat, sosial, suku dan agama.

Kelima, Distrik Okaba memiliki jumlah  pemilih tetap 2.777 dari jumlah penduduk 5.610 dengan jumlah penduduk mayoritas suku maklew dan suku jawa.  Mayoritas agama disana adalah katolik dengan jumlah 3.670 dan diikuti dengan protestan dengan jumlah 971, islam  dengan jumlah 707 dan hindu dengan jumlah 6.

Distrik ini didomisili oleh penduduk asli suku maklew sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku dan agama setelah itu kelompok pemilih skeptis tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi. Dominasi bakal calon disini tidak ada yang pasti karena tidak ada bakal calon yang berasal dari sini.

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 1.456 dan Bapak Romanus Mbaraka 892 suara sementara sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze  dan Bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptis atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Keenam, Distrik Tubang  memiliki jumlah  pemilih tetap 1.304 dari jumlah penduduk 2.582 dengan jumlah penduduk mayoritas suku maklew. Mayoritas agama disana adalah katolik dengan jumlah 2.475 dan diikuti dengan protestan dengan jumlah 353 dan islam dengan jumlah 36.

Distrik ini didomisili oleh penduduk asli suku maklew sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku dan agama setelah itu kelompok pemilih skeptis tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi. Dominasi bakal calon disini tidak ada yang pasti karena tidak ada bakal calon yang berasal dari sini.

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 850 dan Bapak Romanus Mbarak 350 suara sementara sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze  dan Bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptid atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Ketujuh, Distrik Nguti  memiliki jumlah  pemilih tetap 1.305 dari jumlah penduduk 2.154 dengan jumlah penduduk mayoritas suku maklew. Mayoritas agama disana adalah Protestan dengan jumlah 1.508 dan diikuti dengan katolik dengan jumlah 639, islam  dengan jumlah 3 dan hindu dengan jumlah 2.

Disini penduduk asli yang tinggal yaitu  suku maklew sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku dan agama kemudian diikuti dengan kelompok pemilih skeptis tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi. Dominasi bakal calon disini tidak ada yang pasti karena tidak ada bakal calon yang berasal dari sini.

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 623 dan Bapak Romanus Mbaraka 332 suara sementara sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze  dan Bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptid atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Kedelapan, Distrik  Kaptel memiliki jumlah  pemilih tetap 962 dari jumlah penduduk 2.005 dengan jumlah penduduk mayoritas suku maklew. Mayoritas agama disana adalah protestan dengan jumlah 1.718 dasn diikuti dengan katolik dengan jumlah 90,  dan islam  dengan jumlah 45.

Disini penduduk asli yang tinggal yaitu  suku maklew sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku dan agama selanjut kelompok pemilih skeptis tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi. Dominasi bakal calon disini tidak ada yang pasti karena tidak ada bakal calon yang berasal dari sini.

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 559 dan Bapak Romanus Mbaraka 188 suara sementara sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze  dan Bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptid atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Kesembilan, Distrik Kurik  memiliki jumlah  pemilih tetap 10.063 dari jumlah penduduk 15.125 dengan jumlah penduduk mayoritas suku jawa dan ikuti dengan suku mbyan. Mayoritas agama disana adalah islam dengan jumlah 14.795 dan diikuti dengan katolik dengan jumlah 1.520, protestan  dengan jumlah 1.260 dan hindu dengan jumlah 6.

Penduduk terbanyak yang tinggal disini yaitu  suka jawa dan suku maklew sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku dan agama kemudian diikuti dengan kelompok pemilih rasional,kritis dan skeptis tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi

Dominasi bakal calon disini tidak ada yang pasti karena tidak ada bakal calon yang berasal dari sini. Namun jika dilihat berdasarkan hubungan suku mbyan maka bapak Hendrikus yang lebih mendominasi karena bapak Hendrkus merupakan putra suku mbyan. Disini juga suara mayoritas di pegang suku jawa dan agama islam jadi suara pemilih lebih lari ke wakil yang berasal dari suku jawa dan beragama islam.

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 5.018 dan Bapak Romanus Mbaraka 3.047 suara sementara untuk bapak Hendrikus Mahuze  dan Bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptid atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Kesepuluh, Distrik Malind memiliki jumlah  pemilih tetap 6.647 dari jumlah penduduk 10.136 dengan jumlah penduduk mayoritas suku jawa dan diikuti dengan suku mbyan. Mayoritas agama disana adalah islam dengan jumlah 8.386 dan diikuti dengan katolik dengan jumlah 2.412, protestan  dengan jumlah 540 dan hindu dengan jumlah 6.

Mayoritas Penduduk yang tinggal disini yaitu  suka Jawa dan suku mbyan sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku dan agama kemudian di susul kelompok pemilih skeptis tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi. Dominasi bakal calon disini yaitu bapak Hendrikus karena asalnya dari sini dan merupakan putra suku mbyan.

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 3.371 dan Bapak Romanus Mbaraka 1.910 suara sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze dan Bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptid atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Kesebelas, Distrik Animha memiliki jumlah  pemilih tetap 1.242 dari jumlah penduduk 2.246 dengan jumlah penduduk mayoritas suku mbyan dan mayoritas agama disana adalah katolik dengan jumlah 2.430 dan diikuti dengan protestan dengan jumlah 88 dan islam  dengan jumlah 34.

Mayoritas Penduduk yang tinggal disini yaitu  suku mbyan sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku dan agama kemudian disusul kelompok pemilih rasional, kritis dan skeptis tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi. Dominasi bakal calon disini yaitu bapak Hendrikus dan bapak Fredi karena keduanya merupakan putra suku mbyan.

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 700 dan Bapak Romanus Mbaraka 292 suara sementara sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze  dan Bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptis atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Keduabelas, Distrik Merauke memiliki jumlah  pemilih tetap 47.095 dari jumlah penduduk 101.782 dengan suku nusantara dan mayoritas agama disana adalah islam dengan jumlah 59.424 dan diikuti dengan katolik dengan jumlah 45.810, protestan dengan jumlah 27.388 , budha dengan jumlah 175 dan hindu dengan jumlah 135.

Penduduk yang tinggal disini dari berbagai suku sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam kelompok pemilih imbalan jasa, rasional, kritis, tradisional dan skeptis. Kelompok pemilih yang lebih dominasi disini yaitu pemilih imbalan jasa, kemudian akan diikuti oleh pemilih tradisional (suku dan agama), baru masuk di pemilih rasional, kritis dan berujung atau berakhir di pemilih skeptis.

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 25.822 dan Bapak Romanus Mbaraka 12.522 suara sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze  dan Bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptis atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Ketigabelas, Distrik Naukenjerai memiliki jumlah  pemilih tetap 1.472 dari jumlah penduduk 21.520 dengan jumlah penduduk mayoritas suku kanum dan mayoritas agama disana adalah protestan dengan jumlah 1.646 dan diikuti dengan katolik dengan jumlah 583 dan islma  dengan jumlah 384.

Disini penduduk asli yang tinggal yaitu  suku kanum sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku dan agama kemdia kelompok rasional,kritis dan skeptis tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi. Dominasi bakal calon disini tidak ada yang pasti karena tidak ada bakal calon yang berasal dari sini.

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 674 dan Bapak Romanus Mbaraka 435 suara sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze  dan Bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptis atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Keempat belas, Distrik  Semangga memiliki jumlah  pemilih tetap 9.413 dari jumlah penduduk 14.698 dengan jumlah penduduk mayoritas suku dan suku mbyan.  Mayoritas agama disana adalah islam dengan jumlah 13.445 dan diikuti dengan katolik dengan jumlah 3.491, protestan  dengan jumlah 1.196 dan hindu dengan  jumlah 583.

Mayoritas Penduduk yang tinggal disini yaitu  suku jawa dan suku mbyan sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku dan agama kemudian kelompok pemilih kritis dan skeptis tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi

Dominasi bakal calon disini tidak ada yang pasti karena tidak ada bakal calon yang berasal dari sini. Namun jika dilihat berdasarkan hubungan suku mbyan maka bapak Hendrikus dan bapak Fredi yang lebih mendominasi karena merupakan putra suku mbyan. Disini juga suara mayoritas di pegang suku jawa dan agama islam jadi suara pemilih lebih lari ke wakil yang berasal dari suku jawa dan beragama islam

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 5. 371 dan Bapak Romanus Mbaraka 2599 suara  dan pada pileg 2019 bapak Heribertus mendapatkan suara 663 suara dari dapil 3 (Kurik, semangga dan tanah miring) sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptis atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Kelimabelas, Distrik Tanah Miring  memiliki jumlah  pemilih tetap 13.091 dari jumlah penduduk 19.285 dengan jumlah penduduk mayoritas suku disana adalah jawa,mbajawa dan kera. mayoritas agama disana adalah islam dengan jumlah 15.287 dan diikuti dengan katolik dengan jumlah 6.210, protestan  dengan jumlah 1.020 dan Hindu dengan jumlah 118.

Mayoritas Penduduk yang tinggal disini yaitu  suku jawa,mbajawa dan kera sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku dan agama.  Pemilih disini akan didominasi oleh agama, suku dan kelompok rasional dan kelompok pemilih kritis yang mengedepankan keberpihakkan pada pertanian serta kelompok pemilih kritis dan skeptis tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi

Dominasi bakal calon disini tidak ada yang pasti karena tidak ada bakal calon yang berasal dari sini. Namun jika dilihat dari suara mayoritas di pegang suku jawa dan agama islam maka suara pemilih lebih lari ke wakil yang berasal dari suku jawa dan beragama islam kemudian masuk ke suara dari suku mbajawa dan kera serta agama katolik dan protestan

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 6.723 dan Bapak Romanus Mbaraka 3.388 suara  dan pada pileg 2019 bapak Heribertus mendapatkan suara 663 suara dari dapil 3 (kurik, semangga dan tanah miring) sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptis atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Keenam belas, Distrik Jagebob  memiliki jumlah  pemilih tetap 5.779 dari jumlah penduduk 7.925 dengan jumlah penduduk suku jawa, mbawa dan kera. Mayoritas agama disana adalah islam dengan jumlah 7.344 dan diikuti dengan katolik dengan jumlah 1.880, protestan  dengan jumlah 537,  hindu dengan jumlah 34 dan budha dengan jumlah 3.

Mayoritas Penduduk yang tinggal disini yaitu  suku jawa,mbajawa dan kera sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku dan agama.  Pemilih disini akan didominasi oleh agama, suku dan kelompok pemilih kritis yang mengedepankan keberpihakkan pada pertanian kemudian kelompok pemilih rasional, kritis dan skeptis tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi

Dominasi bakal calon disini tidak ada yang pasti karena tidak ada bakal calon yang berasal dari sini. Namun jika dilihat dari suara mayoritas di pegang suku jawa dan agama islam maka suara pemilih lebih lari ke wakil yang berasal dari suku jawa dan beragama islam kemudian masuk ke suara dari suku mbajawa dan kera serta agama katolik dan protestan

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 2.459 dan Bapak Romanus Mbaraka 1.853 sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze dan bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptis atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Ketujuh belas, Distrik Sota  memiliki jumlah  pemilih tetap 2.133 dari jumlah penduduk 3.337 dengan jumlah penduduk mayoritas suku kanum dan marori (wasur) dan mayoritas agama disana adalah katolik dengan jumlah 1.979 dan diikuti dengan protestan dengan jumlah 1.362, islam  dengan jumlah  924 dan hindu dengan jumlah 4.

Mayoritas Penduduk yang tinggal disini yaitu  suku kanum-marori dan jawa sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku dan agama.  pemilih disini akan didominasi oleh suku dn agama. Dominasi bakal calon disini tidak ada yang pasti karena tidak ada bakal calon yang berasal dari sini tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 752 dan Bapak Romanus Mbaraka 783 suara sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze dan Bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptis atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Kedepalapan belas, Distrik Muting  memiliki jumlah  pemilih tetap 3.669 dari jumlah penduduk 5.801 dengan jumlah penduduk suku mbyan dan jawa mayoritas agama disana adalah katolik dengan jumlah 2.839 dan diikuti dengan Islam dengan jumlah 2.237, protestan  dengan jumlah 1.241 dan hindu dengan jumlah 9.

Mayoritas Penduduk yang tinggal disini yaitu suku mbyan dan jawa sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku, agama serta kelompok pemilih kritis, imbal jasa dan skeptis.  pemilih disini akan didominasi oleh suku dan agama tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi

Dominasi bakal calon disini tidak ada yang pasti karena tidak ada bakal calon yang berasal dari sini. Namun jika dilihat berdasarkan hubungan suku mbyan maka bapak Hendrikus dan bapak Fredi yang lebih mendominasi karena merupakan putra suku mbyan. Disini juga suara mayoritas di pegang suku jawa dan agama islam jadi suara pemilih lebih lari ke wakil yang berasal dari suku jawa dan beragama islam

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 1.072 dan Bapak Romanus Mbaraka 1.26 sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze dan bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptis atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Kesembilan belas, Distrik Eligobel  memiliki jumlah  pemilih tetap 2.871 dari jumlah penduduk 4.289 dengan jumlah penduduk mayoritas suku yeinan dan jawa. Mayoritas agama disana adalah islam dengan jumlah 2.823 dan diikuti dengan katolik dengan jumlah 1.740, protestan  dengan jumlah 364, hindu dengan jumlah 19 dan budha dengan jumlah 2.

Mayoritas Penduduk yang tinggal disini yaitu  suku jawa dan yeinan sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku, agama serta kelompok pemilih kristis, imbal jasa dan skeptis.  Pemilih disini akan didominasi oleh suku dan agama tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi

Dominasi bakal calon disini tidak ada yang pasti karena tidak ada bakal calon yang berasal dari sini. Namun jika dilihat dari mayoritas suku jawa dan agama islam maka dukungan lebih lari ke wakil yang beraga islam kemudian calon bupati yang beragama katolik dan kedekatan suku.

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 1.072 dan Bapak Romanus Mbaraka 1.327 sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze dan bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptid atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Kedua puluh, Distrik Ulilin  memiliki jumlah  pemilih tetap 4.914 dari jumlah penduduk 4.604 dengan jumlah penduduk mayoritas suku jawa dan suku yeinan.  Mayoritas agama disana adalah islam dengan jumlah 3.501 dan diikuti dengan katolik dengan jumlah 1.249, protestan  dengan jumlah 661 dan budha dengan jumlah 47 dan hindu dengan jumlah 17.

Mayoritas Penduduk yang tinggal disini yaitu  suku jawa dan yeinan sehingga kelompok pemilih disini termasuk dalam pemilih tradisional yaitu berdasarkan suku,agama kemudian kelompok pemilih kristis, skeptis dan imbal jasa.  Pemilih disini akan didominasi oleh suku dan agama tapi kalau ada bakal calon yang main dengan politik uang maka kelompok pemilih imbal jasa ini akan lebih dominasi.

Dominasi bakal calon disini tidak ada yang pasti karena tidak ada bakal calon yang berasal dari sini. Namun jika dilihat dari suara mayoritas di pegang suku jawa dan agama islam maka suara pemilih lebih lari ke wakil yang berasal dari suku jawa dan beragama islam kemudian masuk ke suara dari suku yeinan serta agama Katolik dan Protestan.

Gambaran kantong suara pemilih tetap yang pastinya akan pindah dukungan, entah itu bertambah atau berkurang dari hasil suara pemilihan umum tahun 2015 yaitu bakal calon Bapak Frederikus Gebze memperoleh suara 1.561 dan Bapak Romanus Mbaraka 1.264 sementara untuk  bapak  Hendrikus Mahuze dan bapak Heribertus Silibun pastinya  mempunyai pemilih disitu berdasarkan kelompok imbal jasa, kritis dan skeptis atau  kenalan, requitmen, relawan dan tim sukses.

Pemilih di Indonesia adalah pemilih Imbal jasa dan tradisional (pilih berdasarkan kesamaan suku,agama dan kenalan) bukan berdasar pemilih rasional dan kritis sehingga pada pemilihan   tanggal 9 Desember 2020 suara akan terpecah-pecah karena rakyat akan memilih bersarkan suku, agama dan kenalan Dengan demikian target dari masing-masing calon ini untuk mendapakan suara lebih dari 50% + 1 agar menang di pilkada pada putaran pertama menjadi mustahil.

Berdasarkan pertimbangan diatas dan pemilihan bupati di kabupaten merauke 2015 atas rapat pleno rekapitulasi perolehan suara tingkkat kabupaten bapak Fredi mendapatkan suara 60.643 suara atau 60.50% sementara bapak Romanus Mbara mendapatkan 39.591 suara atau 39.50% dari sini saya melihat bahwa 2 calon saja tidak mendapatkan suara 70-90% apalagi jika Pilkada 2020 ini ada 4 orang bakal calon maka sudah tentu dalam pilkada tanggal 9 Desember nanti tidak ada bakal calon yang mendapatkan suara lebih dari 50%+1 pada pemilihan putaran pertama dengan demikian akan lanjut dengan pemilihan putaran kedua.

Sistem pemilihan dua putaran dilakukan setalah pemilihan umum pertama selasesai dan waktu yang diberikan untuk pemilihan kedua kali biasanya 1 sampai 2 minggu. Bakal calon yang lain akan gugur karena dalam sistem ini akan di ambil 2 bakal calon yang memperoleh suara terbanyak.

Dalam sistem pemilihan dua putaran mempunyai keuntungan dan kerugian. Keuntungan pertama yaitu  memberi kesempatan kedua pada pemilih untuk memili kandidat mereka yang terpilih atau yang mendapatkan suara terbanyak pada pemilihan pertama. Hal ini hampir sama dengan sistem preferensial seperti suara alternatif, di mana para pemilih diminta mengurutkan kandidat-kandidat, di samping memungkinkan para pemilih membuat pilihan yang sama sekali baru dalam putaran kedua kalau dikehendaki.

Keutungan kedua dari sistem ini yaitu untuk mendorong berbagai kepentingan yang beragam untuk bersatu di belakang kandidat-kandidat yang sukses dari putaran pertama menyongsong putaran kedua pemungutan suara, dengan demikian mendorong tawar-menawar dan pertukaran kompromis antara berbagai partai dan kandidat. Sistem ini juga memungkinkan partai-partai dan pemilih bereaksi terhadap perubahan-perubahan dalam peta politik yang terjadi antara pemungutan suara putaran pertama dan putaran kedua.

Sementara kekurangan sistem pemilihan putaran kedua yaitu memberi beban besar kepada penyelegaraan dalam hal ini KPU dan  tentunya juga masyarakat sebagai pemili karena terbebani dengan waktu. Biaya yang dibutuhkan juga besar karena proses persiapan sampai pemilihan hingga sidang pleno dan cukup membutuh waktu dan tenaga yang cukup. Hal ini bisa menimbulkan ketidak stabilitas di masyarakat dan pemerintahan.

Kekurangan yang kedua yaitu memecabelah partai dan masyarakat. Kekurangan ketiga yaitu masyarakat terlibat dalam kepetingan politik bakal calon sehingga masyarakat menjadi korban dan terpecah belah, inilah masalah yang sangat serius biasa dihadapi dalam sistem ini.

Contohnya di Angola pada tahun 1992, dalam sebuah pemilihan yang diharapkan menciptakan perdamaian, pemimpin pemberontak Jonas Savimbi meraih tempat kedua dalam putaran pertama pemilihan presiden menyusul Jose dos Santos. Savimbi mengantongi 40 persen suara, sedangkan dos Santos meraup 49 persen suara. Karena jelas pasti kalah dalam fase berikutnya, Savimbi tidak punya banyak insentif untuk memainkan permainan oposisi demokratis dan segera menyulut perang saudara di Angola, yang berlangsung hingga dekade berikutnya.

Di Kongo (Brazzaville) pada tahun 1993, prospek kemenangan telak pemerintah dalam putaran kedua pemilihan memicu oposisi untuk memboikot putaran kedua itu dan mengangkat senjata. Dalam kedua kasus itu, isyarat jelas bahwa salah satu pihak akan kalah dalam pemilihan menjadi pemicu kekerasan. Di Aljzair pada tahun 1992, kandidat Front Penyelamatan Islam (Front Islamique du Salut, FIS) memimpin dalam putaran pertama, dan militer campur tangan untuk membatalkan putaran kedua.

Kekurangan keempat yaitu sistem ini bisa mendorong pengembangan partai-partai politik berdasarkan klain, etnisitas atau daerah dan agama  yang bisa mendasarkan kampanye dan platform politik mereka pada konsepsi-konsepsi yang menarik mayoritas orang di distrik atau daerah mereka tetapi mengesampingkan atau memusuhi yang lainnya. Contohnya masalah  yang terjadi negara-negara Afrika seperti Malawi dan Kenya, di mana kelompok-kelompok komunal besar cenderung terkonsentrasi secara kadearahan. Oleh karena itu negara terbelah menjadi kubu-kubu partai yang terpisah secara geografis, dengan insentif yang tidak banyak bagi partai-partai untuk menarik perhatian di luar daerah asal dan basis budaya-politik mereka. Kekurangan kelima yaitu membuat kedaan di masyarakat kacau dan tidak aman atau tidak stabil. (Penulis Adalah Mahasiswa Profesi Dokter Gigi Universitas Sam Ratulangi Manado)

Tinggalkan Balasan