Tujuh Terdakwa Makar Papua di Kaltim Dituntut Belasan Tahun Penjara

Proses persidangan tujuh terdakwa makar Papua di Kaltim yang digelar secara telekonferensi - Dok Penasihat Hukum

Metro Merauke – Tujuh terdakwa makar asal Papua yang dititipkan di Rumah Tahanan atau Rutan Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) dituntut lima tahun hingga 17 tahun pidana penjara.

Salah satu penasihat hukum para terdakwa dari Koalisi Penegak Hukum dan HAM Papua, Emanuel Gobay mengatakan tuntutan itu disampaikan Jaksa Penuntut Umum atau JPU dalam lanjutan persidangan para terdakwa yang digelar secara telekonferensi, dengan agenda pembacaan tuntutan pada 2 Juni dan 5 Juni lalu.

“Irwanus Uropmabin dituntut lima tahun penjara, Buchtar Tabuni 17 tahun penjara, Steven Itlay 15 tahun penjara, Agus Kossay 15 tahun penjara, Alexander Gobay 10 tahun penjara, Fery Kombo 10 tahun penjara, dan Hengki Hilapok lima tahun penjara,” kata Emanuel Gobay akhir pekan kemarin.

Penasihat hukum para terdakwa menganggap ada berbagai kejanggalan dalam proses hukum terhadap ketujuh terdakwa. Para terdakwa ditangkap terkait unjuk rasa mengecam ujaran rasisme di Kota Jayapura, 29 Agustus 2019 lalu.

Akan tetapi, pasal yang didakwakan terhadap para terdakwa adalah terkait makar, yakni pasal 106 KUHP, pasal 110 KUHP dan pasal 107 KUHP.

“Rasisme dan makar ini dua hal berbeda. Kalau kemudian bisa disatukan ini ajaib. Tingginya tuntutan JPU menunjukkan tebalnya stigma separatis terhadap orang Papua dalam tubuh aparat penegak hukum Indonesia,” ujarnya.

JPU dinilai hanya melihat perkara ini dari aspek pasal makar, dan penasihat hukum beranggapan ada skenario mempidanakan para terdakwa sejak awal.

Pasal makar yang disangkakan kepada tujuh Tapol Papua menurut penasihat hukum, dipaksakan karena dakwaan JPU terhadap para terdakwa mayoritas menyebutkan fakta yang jauh dari waktu kejadian. Misalnya ada kejadian yang diangkat sejak 2008 sampai 2019.

“Padahal kan ada asas tempus delicti dan locus delicti. Waktu kejadian dan tempat kejadian. Waktunya semestinya pada tanggal kejadian yang dituduhkan,” ucapnya.

Selain itu kata Emanuel Gobay, JPU menyimpulkan perbuatan para terdakwa memenuhi unsur makar hanya berdasarkan kesaksian ahli bahasa, ahli psikologi dan ahli hukum tata negara. Mestinya yang dapat mengurai unsur-unsur tindakpidana makar dalam kasus ini adalah ahli hukum pidana. (Arjuna/Redaksi)

 

Tinggalkan Balasan