Gambut, Salah Satu Kawasan Yang Memiliki Konservasi Tinggi

Manager WWF Indonesia Wilayah Selatan Papua, Bernadus RJ Tethool | IST

Metro Merauke – Manager WWF Indonesia Wilayah Selatan Papua, Bernadus RJ Tethool mengungkapkan, gambut menjadi salah satu kawasan yang dianggap memiliki konservasi tinggi, lantaran  cadangan karbon cukup tinggi.

Hal itu disampaikan Bernadus saat dihubungi Metro Merauke melalui telpon selulernya Senin (1/6). “Kalau gambut dibuka, akan banyak terjadi pelepasan karbon cukup besar dan ini sangat berbahaya bagi emisi gas rumah kaca,” katanya.

Oleh karena isu dimaksud, menurutnya, gambut ditangani secara baik oleh nasional, lantaran cukup sensitif. Disatu sisi memiliki konservasi tinggi serta nilai pemanfaatan ekonomi.

Dia mencontohkan, pembukaan lahan untuk sawah cendrung merata dan berair.  “Dibawah tahun 2014, belum adanya keakuratan data tentang situasi gambut di Papua termasuk Merauke. Orang hanya tahu rawa goyang atau rawa itu gambut, padahal belum tentu,” ungkapnya.

Seiring dalam perjalanan, setelah pemerintah membentuk Badan Restorasi Gambut,dilakukan pemetaan wilayah dampingan dalam satu kesatuan. Karena gambut  itu  biasanya terendam air yang disebut kesatuan hidrologis gambut.

“Jadi pendekatan dimaksud dilihat sebagai suatu bentuk. Dimana kita sama sama menggunakan sebagai peta dasar  lokasi hidrologisnya seperti Kumbe dan  Bian,” katanya.

Bernadus menjelaskan, kategori gambut  selain bekas  terbakar, juga gambut berkubah dan tak berkubah. Juga gambut berkanal serta yang terendam di air. Orang mengenal gambut, namun tak mudah dipahami.

“Memang daerah gambut harus dijaga dan tak boleh dimanfaatkan. Oleh karena kedalaman di atas 0,5 sehingga mau tidak mau kawasan dimaksud  dijaga serta dilindungi  melalui tata ruang kabupaten sebagai kawasan pelindung,” ungkapnya.

Dijelaskan, WWF tak melakukan pemetaan ulang, tetapi hanya menguatkan dari data “Ya, harapan kita kalau gambut dianggap penting, tentu pengelolaan tidak dilakukan,” kata dia.

Contohnya saja, ketika gambut dalam suatu kawasan, tak boleh ada ijin investasi. Jika ada izin investasi  dan terdapat gambut, perusahan tidak boleh membuka, tetapi  mengelola secara baik.

“Kategori gambut di Papua dengan Sumatera dan Kalimantan berbeda. Disini kedalaman hanya sekitar 1 meter. Namun secara ekologi, fungsinya tinggi,” ungkapnya.

Ditegaskan, jika gambut dibongkar, dampaknya sangat berbahaya. Karena seperti daun yang sudah tinggal lama dan tak membusuk di dalam tanah.

Namun demikian, menurutnya, kalau airnya habis, akan langsung kering dan tentunya tidak bagus. Lalu dampaknya adalah  ikan  tak berkembang dan secara ekologis merugikan orang disekitar.  Selain itu sagu menjadi kering, lantaran mudah terbakar.

Lebih lanjut dijelaskan, WWF juga mendampingi masyarakat di Kampung Kaliki, Distrik Kurik. Kampung dimaksud  masuk dalam satu kesatuan hidrologis gambut. “Hanya saja kami bekerja dengan pengelolaan hutannya,” kata dia.

Ditambahkan, ada masyarakat memahami gambut dan menjadi kampung prioritas. Artinya mereka mempunyai dampingan atau kegiatan perencanaan  dari  Badan Restorasi Gambut.

“Saya pernah meminta ke BRG agar ditunjuk ukuran apa yang berhasil dilakukan dan adakah kendalanya? Sehingga kita belajar sebagai stakeholder lokal sekaligus dilanjutkan,” ujarnya. (LKF)

Tinggalkan Balasan