Raih Kemenangan dan Kembali Fitrah Pasca Ramadhan

Burhanuddin Zein. Dosen Fakultas Hukum Universitas Musamus

Dengan senantiasa mengharap ridha Allah SWT – Tuhan Yang Maha Besar, Tuhan Pemilik Segala Kuasa dan Segala Kehendak, tulisan ini lebih bertujuan untuk mengantar kita pada sejenak merenung, guna menyerap energi ilahiyyah yang bermanfaat untuk memperkuat hati, pikiran, jiwa dan raga setiap insan dalam menghadapi situasi sulit saat ini, di tengah mewabahnya virus corona yang berdampak pada himpitan tuntutan ekonomi dalam kehidupan masyarakat di seantero dunia.

Sebagai umat yang beriman tentunya kita harus lebih memahami bahwa tidak satu pun aktifitas di muka bumi ini yang lepas dari kekuasaan dan kehendak Allah SWT, Allah sebagai Sang Khalik Maha Mampu menciptakan dan memberi peran serta menata pergerakan dari setiap makhluk ciptaan Nya.

Begitupun virus corona yang saat ini mewabah di seantero dunia juga adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Kepanikan dan kekhawatiran yang terjadi dalam kehidupan manusia menghadapi wabah corona ini disebabkan karena secara medis virus corona adalah virus jenis baru yang belum ada obatnya. Sehingga logis bila kemudian manusia hampir di seluruh pelosok dunia berpikir bahwa orang yang terpapar virus corona itu tertular dari pasien yang telah teriveksi terlebih dahulu dan akhirnya bagi pasien yang daya tubuhnya lemah bahkan semakin menurun karena produksi anti bodinya rendah akan meninggal dunia, artinya pemikiran singkat berdasarkan logika bahwa orang terinfeksi virus corona karena tertular dari pasien lainnya dan kalau pasien itu meninggal dunia itu berarti disebabkan oleh virus tersebut. Pemikiran di atas sekali lagi sangat manuasiwi, namun sebagai insan yang beriman kepada Tuhan Maha Pencipta, wajib meyakini bahwa wabah virus ini hadir karena takdir dan akan berakhir pula dengan takdir Allah SWT. Adapun protokol kesehatan yang ditetapkan sesungguhnya adalah langkah ikhtiar, SOP Penanggulangan dan pencegahan itu adalah syariat yang wajib di turuti atau ditaati.

Segala kepanikan dan kekhawatiran umat manusia terhadap ancaman virus baru yang belum ada obatnya ini sangat manusiawi, namun pemikiran dan rasa panik serta takut ini, wajib segera diubah menjadi rasa yakin akan kebesaran Allah yang penuh dengan kasih sayang, dan lebih daripada itu hati, jiwa dan pikiran manusia wajib husnudzon (prasangka baik) pada Allah SWT.

Penguatan iman dalam diri manusia adalah konstruksi dasar lahirnya keyakinan yang kuat bahwa virus corona ini adalah makhluk ciptaan Allah dan pergerakan atau peredaran virus ini diatur serta diperjalankan oleh Penciptanya.

Dalam Islam kita diajarkan bahwa, Allah berkehendak dengan kekuasaannya, apabila sesuatu hal dikehendaki untuk terjadi maka dengan lafaz ‘kunfayakun’, hal tersebut akan terjadi, begitupun sebaliknya, bila Allah tidak berkehendak maka tidak akan pernah terjadi, inilah yang disebut takdir ilahi.

Semua hal yang diuraikan diatas dapat kita pahami bila dalam diri kita terisi dengan energi ilahiyyah, apabila energi ini ada maka kepanikan dan was-was bahkan rasa takut terhadap wabah virus akan hilang dan berganti dengan rasa tenang dalam hati, pikran dan jiwa karena sikap tawakkaltu ‘alallah yang berserah diri tanpa ragu-ragu pada Allah, setelah menjalankan serangkaian protokol kesehatan sebagai sikap ikhtiar patuh menunaikan syariat, sebelum berserah diri.

Ketika membahas tentang iman dan takdir, maka takdir yang sedang berlaku ini sebagai ujian dari Allah, namun Allah tidak akan menguji hamabanya melebihi dari kemampuan hambanya sendiri, mengenai hal tersebut Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya….”(QS. Al Baqarah:286).

Begitu banyak ayat firman Allah dalam Al Qur’an yang telah memberikan pemahaman spritual sebagai bekal untuk umat manusia jadikan pegangan dalam menghadapi setiap ujian yang disebut takdir Allah SWT.

Yang perlu kita pahami bahwa kehidupan umat manusia yang kita jalani sampai hari ini bukan satu kebetulan, atau satu cerita yang lahir dari satu karya tiba masa tiba akal, sungguh sama sekali tidak begitu, kehidupan kita telah tertulis bahkan bila dikhiaskan hidup manusia ini ibarat kalam atau pena ditangan penulisnya, kita hanya menjalaninya, jauh sebelum kita lahir cerita panjang tentang hidup manusia di dunia, bersama alam seisinya penulisan naskahnya telah diselesaikan oleh Sang Khalik Allah SWT, sesuai firman dalam Al Qur’an : “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al Hadiid:22-23).

Ini adalah sedikit pemikiran tentang pentingnya energi ilahiyyah dalam diri setiap insan, energi ini sering kita sebut kekuatan iman untuk menghadapi setiap takdir, dan hari ini takdir yang sedang berlaku yaitu virus corona yang mewabah yang menjadikan manusia sebagai sasaran utamanya, wabah viirus ini bergerak lintas benua, lintas negara, lintas pulau dan tidak pandang agama apa pun manusia tersebut.

Umat manusia harus yakin bahwa hikmah dibalik wabah corana ini adalah, kita manusia makhluk yang kecil lagi tidak berdaya ini, wajib lebih berusaha untuk mendekatkan diri pada Allah SWT sebagai pemilik kehidupan, nasihat yang terpenting jangan pernah tinggalkan ibadah, ajak keluarga kita shalat berjama’ah, tadarus al qur’an bersama, duduk sahur dan buka puasa bersama keluarga di rumah, dengan demikian akan lebih meningkatkan kualitas rasa kasih dan sayang dalam keluarga di rumah yang mungkin saja sudah lama terabaikan karena kesibukan masing-masing, raihlah ridha Allah dengan meraih kemenangan dalam bulan ramadhan tahun ini.

Mulai saat ini ubah pandangan kita bahwa virus corana semata-mata adalah musibah, karena disisi lain juga membawa barakah back to home dengan sikap peduli keluarga, virus corona mengembalikan sejatinya rumahku surgaku, sejatinya rumahku madrasahku, kenyataannya anak-anak kita belajar dan kuliah di rumah dibawah pengawasan langsung orang tua, artinya fungsi orang tua sejatinya adalah guru, corona berjasa mengembalikan semua tatanan kehidupan kita yang sudah terabaikan.

Sedikit ilustrasi, bayangkan dengan program Penitipan Anak, PAUD atau Kelompok Bermain, anak-anak seusia 2 atau 3 sudah harus meninggalkan rumah diasuh oleh orang lain sejak pagi hari dan kembali ke rumah pada sore hari bersamaan dengan pulangnya orang tua dari tempat kerja.

Mari kita sadari inilah cara Allah menyapa hamba-hamba Nya yang selama ini selalu merasa bisa dan merasa hebat, tetapi tidak bisa merasa peka terhadap teguran-teguran Allah pada hari-hari kemarin sebelum datangnya virus corona.

Mari kita pahami bahwa Wabah Virus Corona adalah alat Allah dan cara Allah menegur sapa umat Nya dengan penuh rahman dan rahim. Semoga bermanfaat.

Akhirul kalam, mohon maaf atas segala kekurangan saya, kesempurnan hanya milik Allah SWT, seraya memohon Ampun kepada Allah dan memohon ridha Nya, Ilahi anta maqshuudi wa ridhoka mathluubi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka. Wallahul muaafieq ilaaqwamiththariq wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Penulis Burhanuddin Zein. Dosen Fakultas Hukum Universitas Musamus).

Tinggalkan Balasan