Aksi Mogok Petugas PMI, Milka: Itu Sangat Mengganggu Nyawa Pasien

Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Merauke, dr. A. Milka Betaubun sedang tunjuk surat | LKF

Metro Merauke – Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Merauke, dr. A. Milka Betaubun mengatakan, aksi mogok yang dilakukan sepuluh petugas PMI, sangat mengganggu nyawa pasien.

Hal itu disampaikan Milka saat memberikan keterangan pers kepada sejumlah wartawan Jumat (22/5). “Silahkan melakukan aksi mogok, namun jangan sampai mengganggu kepentingan umum. Saya merasa sedih dengan sikap  sepuluh orang itu,” katanya.

Jika tak segera diambil langkah mencari tenaga baru, menurutnya, berapa nyawa yang hilang. Mestinya sebelum melakukan aksi mogok, harus memberitahukan secara tertulis. Namun itu tidak dilakukan.

“Setahun lalu saya masuk di PMI dan berikhtiar agar bagaimana mempebaiki UTD  dari pintu depan sampai belakang mulai  administrasi, logistik dan keuangan,” ujarnya.

Bagi dia, semua harus transparan. Hanya saja tak didukung teman-teman di dalam. “Tiap bulan juga ada rapat. Namun tiba-tiba akhir bulan April, sepuluh teman melakukan aksi mogok,” katanya.

Dijelaskan, setelah mereka melakukan pertemuan bersama tim ivestigasi, tiba-tiba melakukan aksi mogok tanpa ada pemberitahuan sebelumnya. “Kita hubungi, tak ada yang mengangkat handphone,” ujarnya.

Disaat emergency, jelas dia, karena pelayanan kemanusiaan dan ini menyangkut nyawa pasien, tak mungkin dibiarkan. Karena banyak orang menunggu untuk lakukan transfuse darah.

Milka mengaku, setelah sepuluh orang mogok, hanya tersisa  satu tenaga administrasi,  seorang bidan serta satu tenaga laboratorium. “Ya, bidan memiliki basik pendidikan, sehingga bisa melakukan pengambilan darah,” ujarnya.

Selain itu, jelas dia, pihaknya mengambil bantuan tenaga baik untuk pengambilan darah, laboratorium maupun  struktural. “Minimal kami mengambil D3 perawat maupun D3 laboratorium untuk analisis kesehatan. Lalu struktural diambil S1,” ungkapnya.

“Jadi kalau teman-teman bilang tak berkompoten, saya tak setuju. Mereka memiliki surat tanda registrasi untuk bisa membuat izin praktek,” katanya.

Intinya, menurutnya, teman-teman yang diambil  bekerja di PMI memiliki kompetensi baik. (LKF)

Tinggalkan Balasan