Pembatasan Sosial, DPR Papua Kirim Dua Puluh Ton Beras untuk Pengungsi Nduga 

Metro Merauke – Panitia Khusus atau Pansus Kemanusiaan DPR Papua mengirim 20 ton beras kepada pengungsi Nduga yang ada di Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Pengiriman beras untuk pengungsi Nduga tersebut, diangkut pesawat kargo salah satu maskapai swasta, yang berangkat dari Bandara Udara Sentani, Kabupaten Jayapura pada Sabtu (02/05).

Wakil Ketua Pansus Kemanusiaan DPR Papua, Namantus Gwijangge mengatakan pihaknya mengirim beras, karena ada sekitar 5.085 pengungsi Nduga di Wamena terdampak pembatasan sosial yang dikakukan Pemkab Jayawijaya.

Pembatasan sosial diberlakukan Pemkab Jayawijaya sebagai upaya mencegah meluasnya penyebaran Covid-19 atau virus korona di wilayah pemerintahannya.

“Kami mengirim beras untuk pengungsi Nduga, karena mereka juga terdampak Covid-19,” kata Namantus.

Menurutnya, meski Pemkab Jayawijaya juga menyalurkan bantuan kepada warga di wilayahnya pada masa pandemi Covid-19 kini, namun penerima manfaat adalah mereka yang memiliki kartu keluarga atau KK dan kartu tanda penduduk (KTP) warga Jayawijaya.

Sementara para pengungsi Nduga yang ada di Jayawijaya, memiliki KK dan KTP dengan status warga Kabupaten Nduga.

Ribuan warga Nduga meninggalkan kampung mereka sejak akhir Desember 2018 lalu, akibat konflik bersenjata antara aparat keamanan dan kelompok organisasi Papua mardeka atau OPM di wilayah itu.

Warga Nduga memilih mengungsi ke berbagai kabupaten terdekat, termasuk Jayawijaya karena khawatir menjadi korban salah sasaran dari konflik bersenjata kedua pihak.

Namun selama pandemi Covid-19, Pemkab Nduga belum menyalurkan bantuan kepada pengungsi Nduga di Wamena. Karena itulah, Pansus Kemanusiaan DPR Papua mengambil langkah membantu para pengungsi tersebut.

“Ini merupakan tugas kami. Terimakasih kepada pimpinan DPR Papua yang mempercayakan kami membantu pengungsi Nduga di Wamena. Pansus Kemanusiaan tidak hanya bicara manusianya, juga kebutuhan pokok mereka. Kami juga sudah menyampaikan itu ke Pemprov Papua,” ujarnya.

Akan tetapi Namanus Gwijangge berharap, masyarakat Papua tidak hanya menunggu bantuan dari berbagai pihak, namun mesti berupaya memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, misalnya dengan giat berkebun. (Arjuna Pademme)

 

Tinggalkan Balasan