Bulog Merauke Beli Beras dan Gabah, Romanus Mbaraka: Itu Keputusan Baik, Namun Harga Perlu Dikontrol

Mantan Bupati Merauke, Romanus Mbaraka sedang di areal persawahan miliknya | LKF

Metro Merauke – Salah seorang petani di Kabupaten Merauke, Drs. Romanus Mbaraka, MT angkat bicara setelah Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Divre Merauke  secara resmi menyampaikan akan membeli beras maupun gabah dari petani.

“Saya kira itu keputusan sangat baik, namun perlu adanya kontrol tentang harga yang dilakukan sampai di tingkat petani. Kalau Bulog menetapkan harga  beras Rp 8.300/kg (saat sudah dalam gudang bulog),  maka tentu RMU akan beli dibawah itu di tingkat petani,” ungkap Romanus Mbaraka saat ditemui Metro Merauke dikediamannya Jumat (1/5).

Menurut mantan Bupati Merauke itu, persoalan tentang panen padi petani menjadi suatu hal mendasar. Karena beras merupakan kebutuhan primer bagi  manusia di seluruh dunia untuk dikonsumsi setelah diolah menjadi nasi.

Khusus di Merauke, jelas Romanus, mayortitas penduduk adalah petani. “Suka atau tidak suka, kita harus berpikir  bagaimana mengatur hasil prosesing hasl pertanian ini, khususnya gabah dengan baik, ,” ujar dia.

Selain gabah dibeli bulog, juga stimulan atau bersamaan dengan beras. “Jika hanya gabah dibeli bulog dengan harga Rp 4.200/kg di tingkat petani,  maka kita tak menghitung baik transportasi maupun proses mulai tanam hingga panen. Lalu pasca panennya  dilakukan pengeringan atau packing untuk masuk dalam karung. Dengan demikian,  akan membuat orang kecil (petani) susah,” ujarnya.

Namun, katanya, jika dihitung baik, akan  memberikan harga sesuai dengan harapan petani. “Saya mengajak kita berpikir baik agar petani (rakyat kecil) hidupnya semakin baik dan tidak mengalami kesusahan,” pintanya.

Dijelaskan, bagi seorang petani, ongkos untuk memproduksi padi sangat mahal. Rata-rata per hektar sekarang Rp 3 juta.   Kalau hanya didapatkan 4 ton gabah per hektar, tinggal dihitung apakah kembali modal atau tidak.

“Olehnya saya minta penetapan harga baik gabah maupun beras, betul-betul dapat memenuhi masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidupnya atau tidak mengalami kerugian,” saran Romanus.

Ia mengaku, sesuai pengalamannya, ketika RMU membeli beras di petani dan menjual ke Bulog Merauke, harganya selalu bervareasi. Olehnya perlu dilakukan kontrol secara baik.  Bukan hanya pemerintah tetapi semua stakeholder.

“Kalau petani itu, tentu selalu ada hubungan dengan RMU, karena menyangkut juga pinjaman. Belum lagi dari bank maupun rentainer lain. Jadi, perlu dikontrol penetapan harga dengan mempertimbangkan ongkos produksi, sehingga masyarakat betul betul mendapatkan dampak keuntungan,” pintanya. (LKF)

Tinggalkan Balasan