Bentrok Warga di Jayapura, Delapan Rumah Dibakar, Enam Orang Terluka

Metro Merauke – Bentrok antarwarga pecah di Kabupaten Jayapura, Papua. Sebanyak delapan rumah warga dibakar, 10 rumah dirusak, dan enam orang terluka dalam peristiwa yang terjadi, Minggu sore (19/05).

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal mengatakan bentrok melibatkan warga Kampung Kehiran I, Distrik Sentani dengan warga Kampung Toware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura. Diduga pemicu bentrokan karena kesalahpahaman warga kedua kampung.

Menurut Kabid Humas Polda Papua, awalnya seorang warga Toware berinisal NT, yang diduga dalam pengaruh minuman beralkohol, datang ke Kampung Kehiran I merusak rumah salah satu warga, Sabtu (18/04).

Katanya, NT kembali berulah pada Minggu (19/04). Ia memukul ondoafi atau kepala suku Kampung Kehiran I. Warga Kehiran I yang tak terima perlakuan NT, mendatangi Kampung Toware dengan bersenjatakan parang, panah dan lainnya.

Setibanya di kampung tujuan, warga Kehiran I kemudian berhasil menemukan NT dan memukulnya. Akibatnya, NT mengalami luka hantaman di kepala bagian kiri. Selain itu, delapan rumah warga Toware juga dibakar.

Polres Jayapura yang menerima laporan terkait bentrok antarwarga itu, langsung menuju lokasi kejadian. Kepolisian yang tiba di tempat kejadian perkara berhasil melerai kedua kelompok warga yang saling serang.

“Kami menyayangkan peristiwa ini. Mestinya masalah penganiayaan [yang diduga menjadi pemicu] dapat diselesaikan kedua pihak [secara baik-baik],” kata Kombes Pol Ahmad Mustofa Kamal.

Katanya, akibat peristiwa tersebut warga Kampung Toware lainnya yang tak terlibat dalam masalah kedua pihak, ikut menjadi korban. Kasus tersebut kini ditangani Polres Jayapura.

“Pascakejadian, situasi di kedua kampung sudah kondusif. Aparat keamanan masih melakukan penjagaan di kedua kampung, juga telah berkoordinsi dengan tokoh dari kedua pihak,” ujarnya.

Sementara itu, Kapolres Jayapura, AKBP Victor Mackbon mengatakan warga kedua kampung sudah lama bersitegang. Ketidakrukunan kedua pihak sejak lama, dipicu masalah sengket tanah.

Pihak kepolisian dan Dewan Adat Suku Sentani (DAS) telah beberapa kali memediasi warga kedua kampung. Puncaknya, terjadi pemukulan yang memicu bentrokan kedua pihak.

“Sejak [Minggu] pagi, kami sebenarnya telah menyiagakan personil di lokasi, sebagai upaya mencegah adanya aksi balasan. Namun ada sejumlah oknum yang diduga memprovokasi sehingga terjadi bentrok,” kata AKBP Victor Mackbon.

Menurutnya, personil polisi di lokasi tak dapat berbuat banyak. Polisi hanya berupaya mencegah agar tak ada korban jiwa. Kini kepolisian sedang mencari oknum yang diduga pemicu awal masalah dan provokator yang menyebabkan terjadinya [aksi balasan yang mengakibatkan] bentrok kedua kelompok warga. (Arjuna/Redaksi)

 

Tinggalkan Balasan