Terkait Aroma Kotoran Ayam, Keluhan Masyarakat Telah Diresponi PT Harvest Pulus Papua

Penasehat PT Harvest Pulus Papua, Johanes Gluba Gebze sedang berikan keterangan pers | LKF

Metro Merauke – Penasehat PT Harvest Pulus Papua-Merauke, Johanes Gluba Gebze mengatakan, keluhan masyarakat di Kampung Marga Mulya, Distrik Semangga terkait aroma kotoran ayam, telah diresponi  perusahan tersebut.

Hal itu disampaikan Jhon Gluba saat memberikan keterangan pers kepada sejumlah wartawan Jumat (17/1). “PT Harvest Pulus Papua akan mendatangkan peralatan yakni limba padat untuk dikelola sekaligus  dijadikan  pupuk organik. Jadi kotoran ayam sedianya diolah agar tidak menimbulkan aroma sebagaimana dikeluhkan warga,” ungkapnya.

Dikatakan,  untuk di Kabupaten Merauke, terdapat sembilan perusahan peternakan ayam petelur. Salah satunya adalah milik PT Harvest Pulus Papua yang harus rama lingkungan.

“Bahwa ada complain masyarakat soal aroma kotoran ayam, itu adalah pemberitahuan agar perusahan lebih membenahi konsep produksi telur kedepan,” pintanya.

Dalam dokumen Amdal, lanjut Jhon Gluba, ada tahapan yang perlu dilalui dan dilengkapi mulai dari RKL, RPL serta UPL. Tentunya perusahan melengkapi, sehingga dalam perjalanan usahanya, tak mengganggu kenyamanan. “Saya kira PT Harvest Pulus Papua telah memenuhi syarat,” ujarnya.

Dia meminta agar tidak hanya telur diproduksi, tetapi kesehatan lingkungan maupun polusi udara ikut diperhatikan. Karena setiap kegiatan yang diperkirakan berdampak terhadap lingkungan, wajib dilengkapi dokumen.

“Kalau ada koreksi warga terkait aroma, sudah diresponi pihak perusahan. Perlu juga menjadi catatan bahwa di sekitar kawasan dimaksud, terdapat mitra pabrik lain juga,” ungkap dia.

Diakui kalau yang menjadi media untuk membawa aroma adalah angin, juga saluran air disekitar. Ini perlu dilihat dalam satu kesatuan. Karena dalam ketentuan amdal, menjadi asas untuk dijunjung tinggi.

Dalam kesempatan itu, Jhon Gluba meminta kepada semua masyarakat Merauke harus berpikir untuk stop  jadi konsumen dengan terus membeli telur. “Marilah kita menjadi produsen telur guna memenuhi kebutuhan banyak orang di Selatan Papua. Intinya kita harus otonom dari produksi telur ayam, daging dan lain-lain,” pintanya.

General Manager PT Harvest Pulus Papua, Ronald Stenley menambahkan, sejak hadir di Merauke tahun 2009, semua perizinan diurus serta dilengkapi. “Lalu kami juga mendapat bimbingan teknis dari dinas terkait,” katanya.

Sejak tahun 2016 hingga sekarang, menurutnya, Merauke telah swa sembada telur ayam.

“Perusahan ini menjadi pionir dalam pengembangan peternakan ayam petelur secara baik, bersih dan sempurna sesuai standard. Lalu tahun 2016 silam, perusahan mendapatkan NKV yang menyatakan hasil produksi telur memenuhi syarat untuk dieksport,” ujarnya. (LKF)

Tinggalkan Balasan