Masyarakat Tiga Kampung Duduki Bandara Mopah

Masyarakat dari tiga kampung yang menduduki area Bandara Mopah-Merauke | LKF

Metro Merauke – Masyarakat pemilik ulayat  dari tiga kampung yakni Spadem, Kayakai dan Yobar, kembali menduduki Bandara Mopah-Merauke. Langkah tersebut dilakukan setelah janji Bupati Merauke, Frederikus Gebze untuk mengalokasikan anggaran senilai Rp 2,5 miliar, tak kunjung direalisasikan.

Disaksikan Metro Merauke Kamis (5/12/2019), aksi dilakukan sejak pagi sekitar pukul 06.30 Waktu Indonesia Timur (WIT). Sesaat kemudian, datang Kapolres Merauke, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Ary Purwanto melakukan negosiasi bersama pemilik lahan bandara.

Dua perwakilan keluarga dari tiga kampung, Hendrikus Hengky Ndiken bersama H. Waros Gebze membangun komunikasi bersama Kapolres. Lalu ditindaklanjuti dengan pertemuan bersama Bupati Merauke.

Baca juga: Dana Rp 2,5 Miliar Tak Kunjung Dicairkan, Pemilik Ulayat Ancam Palang Kembali Bandara Mopah

Salah seorang perwakilan tiga kampung, Hendrikus Hengky Ndiken membenarkan telah ada pertemuan bersama bupati. Hasilnya adalah pemerintah memfasilitasi untuk dilakukan pengukuran lahan dimaksud hari ini juga.

“Tim dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) sudah ada di area dan langsung dilakukan pengukuran,” ujarnya.

Nantinya, lanjut Hendrik, setelah pengukuran dilakukan sidang adat. Itu dengan tujuan mengetahui secara pasti silsilah kepemilikan tanah 60 hektar tersebut.

Jika itu sudah, tim akan berangkat ke Jakarta sekaligus menemui Kementerian Perhubungan RI guna pembayaran lahan 60 hektar senilai Rp 800 miliar.

“Semua biaya akan ditanggung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merauke mulai dari pengukuran lokasi, sidang adat hingga keberangkatan tim ke Jakarta,” ujarnya.

Disinggung dana Rp 2,5 miliar yang dijanjikan bupati, Hengky menambahkan, sepertinya tidak direalisasikan. Tetapi jelasnya beberapa tahapan dimaksud biayanya ditanggung pemerintah. (LKF)

Tinggalkan Balasan