Latar Belakang Berdirinya FSBDSOAP dan Program Kerjanya

Metro, Jayapura – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Serikat Buruh Demokrasi Seluruh Orang Asli Papua ( DPP FSBDSOAP), Kope Wenda menyatakan ada beberapa pemikiran yang melatarbelakanginya menggagas ‘lahirnya’ organisasi serikat pekerja orang asli Papua tersebut.

FSBDSOAP tidak hanya mengadvokasi masalah-masalah yang dialami pekerja asli Papua. Juga memprogramkan pelatihan dan mendorong orang asli Papua, terutama generasi muda menciptakan lapangan kerja.

“Kami orang asli Papua dari pedalaman Lagapo, Meepago, Saireri, Anim Ha, dan Mamta Tabi berurbanisasi ke Kota Jayapura untuk mendapat kehidupan yang lebih baik dibandingkan di pedalaman. Sementara itu, kaum muda berharap melanjutkan sekolah mereka hingga perguruan tinggi,” kata Kope Wenda

Akan tetapi kenyataan yang dialami orang asli Papua ketika tiba di kota, justru lebih berat. Kalah bersaing dengan warga dari luar Papua semisal Sulawesi, Jawa, Sumatera, Kalimantan, Ambon dan daerah lainnya.

Para warga dari luar Papua ini memiliki berbagai keterampilan, dibandingkan orang asli Papua dari lima wilayah adat yang datang mengadu nasib ke Kota Jayapura. Akibatnya, kesenjangan di antara orang asli Papua dan warga dari luar Papua makin terlihat. Ketatnya persaingan menyebabkan orang asli Papua makin tertinggal.

“Kehidupan makin berat. Lebih lagi kehidupan di kota serba membutuhkan uang. Kondisi ini mengakibatkan pengaruh buruk terhadap perkehidupan orang asli Papua dari pendalaman mudah terpengaruh kriminalitas. Politik dan pengaruh negatif lainnya,” ujarnya.

Kata Kope Wenda, dengan dasar pemikiran sederhana itulah pihaknya menyarankan kepada para pemimpin yang berkompetain dapat melakukan berbagai langkah.

Jangka pendeknya, mereka yang berusia produktif diberikan kursus keterampilan misalnya dalam bidang pertanian, perikanan, perkebunan dan koperasi serta memberikan peralatan, bibit dan penyediaan lahan atau dengan sistem pengembangan terpusat orang asli Papua.

“Jangka menengah, pendidikan lebih difokuskan atau diarahkan pada keterampilan praktis kejuruan agar sumber daya manusia dapat menggali potensi alam yang ada. Program seperti ini bersifat edukatif, represif, bimbingan, terpadu, gotong royong dan holistik,” ucapnya. (Arjuna/Redaksi)

Tinggalkan Balasan