Enden Wanimbo Deklarasikan ‘Papua Merdeka’

Panglima Revolusi Papua Barat, Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN OPM) Erimbo Enden Wanimbo (tengah) mendeklarasikan Papua Merdeka. Foto: Jerry Omona

Metro Merauke – Panglima Revolusi Papua Barat, Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN OPM) Erimbo Enden Wanimbo mendeklarasikan kemerdekaan Papua, Selasa 28 Maret 2017. Hari merdeka yang disebutnya sebagai proklamasi kemerdekaan itu digelar di Distrik Pirime, Kabupaten Lanny Jaya, Papua.

Deklarasi kemerdekaan tersebut dihadiri ratusan warga dan pasukan. “Kami mengembalikan bendera Merah Putih ke pemerintah, Presiden Jokowi, dan selanjutnya, kami mau merdeka,” kata Enden Wanimbo ditengah upacara penurunan Merah Putih digantikan Bendera Bintang Fajar, disebuah lapangan, tidak jauh dari markas militer mereka, Selasa siang.

Enden mengatakan, setelah memerdekakan diri, kelompoknya akan segera melakukan eksekusi penutupan PT Freeport yang tengah menghadapi masalah, menutup sejumlah perusahaan asing di Papua dan melakukan lobi politik internasional. “Setelah merdeka (diakui), baru kemudian PT Freeport bisa dibuka kembali,” ujarnya.

Menurut Enden, proklamasi versi pihaknya, telah mendapat dukungan sejumlah tokoh gerakan bersenjata, seperti Purom Wenda dan Goliat Tabuni. “Ada utusan dari mereka, kita sekarang bergerak dengan dukungan alam, perjuangan alam, bukan dengan senjata,” katanya.

Ditetapkannya 28 Maret 2017, dilatari kesimpulan Enden tentang keabsahan hari merdeka sebenarnya. Menurut Enden, peringatan selama ini pada 1 Desember, bukan merupakan perayaan kemerdekaan. Melainkan hari biasa yang dikenang sebagai hari perjuangan Papua Barat. “Proklamasi yang sah, adalah pada hari ini, ini karena petunjuk dari Yang Maha Kuasa,” sambungnya.

Basis Militer Enden Wanimbo diperkuat delapan batalyon yang tersebar di Pegunungan Tengah Papua. Mereka mempunyai peralatan senjata tradisional berupa panah dan kapak. Markasnya di ketinggian, dihimpit gunung terjal.

Sebelumnya, Enden bersama Purom Wenda melakukan beberapa aksi sepanjang tahun 2016. “Purom berpikir, dengan menembak orang, Papua akan merdeka, tapi sebenarnya tidak begitu, yang benar adalah berjuang secara damai,” katanya lagi.

Usai memproklamirkan merdeka, warga kemudian membubarkan diri. Proklamasi dipimpin langsung oleh Enden Wanimbo sekitar pukul 10.00 wit. Dikawal ajudan pribadinya berseragam hijau, Enden membacakan pidato kenegaraan yang diselingi dengan luapan kegembiraan pasukan.

Sementara itu, Panglima Tinggi TPN OPM Purom Wenda menolak ‘Proklamasi’ versi Enden Wanimbo. “Itu tidak benar. Ini bisa buat banyak orang Papua korban. Saya tolak itu,” ucapnya.

Baginya, hari kemerdekaan Papua yang dikenal adalah pada 1 Desember. “Jangan bikin berita yang tidak benar. Itu atas perintah siapa bikin deklarasi,” cetusnya. (redaksi)

Tinggalkan Balasan