081344567070 metromerauke@gmail.com

Komunitas Filmaker Papuan Voices Merauke Dapat Ilmu Jurnalistik

Jurnalis Jubi Perwakilan Merauke,  Frans L Kobun sedang berikan pelatihan jurnalistik | IST

Metro Merauke – Bertempat di Aula Pangkat-Kelapa Lima, puluhan orang yang tergabung dalam Komunitas Filmaker Papuan Voice Merauke mendapatkan ilmu jurnalistik yang diberikan oleh Jurnalis Jubi Perwakilan Merauke, Frans L Kobun.

Dalam pelatihan  yang berlangsung Jumat (21/2), Frans memberikan materi seputar teknik menulis berita dan cara maupun strategi saat berhadapan dengan nara sumber, ketika melakukan wawancara.

Frans juga membeberkan  unsur-unsur yang harus dipenuhi sesuai standard berita atau dikenal dengan 5W+1H yakni What, apa yang terjadi, Where, dimana hal itu terjadi, When, kapan peristiwa terjadi, Who, siapa yang terlibat dalam kejadian, Whay, kenapa hal itu terjadi dan How, bagaimana peristiwa terjadi.

Selain itu, etika menulis berita yang obyektif dan tetap mengedepankan cover both side (keseimbangan). Artinya pemberitaan yang disajikan,  seimbang dan mencantumkan semua pihak yang terlibat.

Kurang lebih satu stengah jam, selain pemaparan materi juga diskusi. Sejumlah pertanyaan diutarakan peserta, sehubungan cara kerja seorang jurnalis bersama resiko yang sering dialami.

Yohanis Nongyap, salah seorang peserta yang juga Mantan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Merauke menanyakan tips apa saja yang harus dilakukan seorang jurnalis ketika mendapat ancaman, teror maupun intimidasi dari pihak-pihak tertentu setelah tidak puas dipublikasikan?

“Saya ingin mendapatkan penjelasan dari nara sumber. Karena saya tahu bahwa pekerjaan seorang jurnalis beresiko. Artinya pasti ada saja tantangan di lapangan,” katanya.

Menjawab pertanyaan itu, Frans yang juga kontributor Metro Merauke mengatakan, jika ada kasus yang dialami seorang reporter, maka sesegera mungkin melapor ke atasannya, entah kepada redaktur maupun pemimpin redaksi.

“Kenapa harus melapor, agar dapat didiskusikan secara internal di redaksi. Sekaligus dapat diambil langkah lain,” katanya.

Sementara Ketua Komunitas Filmaker Papua Voice-Merauke, Urbanus Kiaf juga ingin mendapatkan gambaran terhadap seorang jurnalis yang masih pemula. “Kira-kira cara dan strategi apa agar jurnalis pemula lebih cepat memahami dan mendalami cara menulis berita sesuai kaedah jurnalistik,” tanya Urbanus.

Menanggapinya, Frans kembali menjelaskan, tentunya yang berperan adalah  redaktur. Artinya bahwa ketika reporter sudah selesai mengerjakan berita, tidak boleh pulang terlebih dahulu.

“Redaktur berkewajiban memanggil reporter untuk duduk disamping sambil melihat proses editing yang sedang dilakukan. Dengan begitu, letak kesalahan bisa langsung disampaikan,” ungkapnya.

Selain itu, jelas Frans, perlunya bedah redaksi secara rutin tiap minggu. Dimana berita-berita yang sudah dipublikasikan, dapat dibahas lagi melibatkan semua reporter, para redaktur hingga pemimpin redaksi.  (Nuryani/LKF)

Tinggalkan Balasan

Polda Papua: Tidak Benar KKB Merampas Ribuan Amunisi TNI/Polri