Legislator Tak Setuju Penyelesaian Kasus Ortu Aniaya Guru Sebatas Duduk Bersama

Wakil Ketua II DPRD Merauke, Dominikus Ulukyanan

Metro Merauke – Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Merauke, Papua, Dominikus Ulukyanan angkat bicara mengenai peristiwa penganiayaan dialami oknum guru SD Inpres Jagebob 6, yang dilakukan orang tua siswa belum lama ini.

Dirinya berharap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dapat mengambil langkah tegas terhadap pelaku penganiayaan guru. Dan tak sebatas hanya duduk bersama dalam penyelesaian permasalahan tersebut.

“Memang kami belum mendapatkan laporan kejadian seperti apa. Dan akan kita kroscek langsung. Tapi saya sangat tidak setuju, bila penyelesaian masalah orang tua pukul guru hanya dengan duduk bersama seperti yang disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan,” ujarnya kepada wartawan, Senin (3/2).

Baca juga: Aniaya Guru, Ortu Siswa di Jagebob Diamankan Polisi

Ditambahkan, tugas seorang guru sangat luar biasa dalam pengabdian. Sehingga, manakala seorang guru mendapatkan perlakuan seperti penganiayaan, dirasa perlu adanya tindakan tegas bagi pelaku yang dapat menberikan efek jera.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Thiasony Betaubun memahami perasaan publik yang kesal dengan perlakukan salah satu orang tua siswa aniaya oknum guru.

Menyikapi permasalahan tersebut, pihaknya memposisikan diri berada di tengah.

Langkah utama yang telah dilakukan, dengan mengkroscek terlebih dahulu di lapangan, guna mengetahui permasalahan yang sesungguhnya.

“Telah dilakukan duduk bersama dengan pihak terkait untuk menyelesaikan masalah secara internal dan eksternal. Dari keterangan pihak sekolah, rupanya oknum guru benar melakukan kontak fisik terhadap siswa dan bukan untuk pertama kali dilakukannya. Orang tua tak terima anaknya dipukul sehingga terjadilah keributan,” terangnya.

Atas perbuatannya, pelaku diketahui sempat mendekam di tahanan Polsek setempat selama sepekan lebih.

Sedangkan, lanjut Betaubun, oknum guru yang dinilai ringan tangan itu perlu untuk dilakukan pembinaan khusus di sekolah.

“Kita tidak mau membela satu pihak. Menyelesaikan masalah dengan mempertimbangan berbagai sudut pandang,” pungkasnya. (Nuryani)

1 Komentar

Tinggalkan Balasan