Sejumlah Anak Marind ‘Digusur’, Jhon Gluba:  Ini Prestasi Bupati Merauke Diakhir Jabatan

Sejumlah Anak Marind ‘Digusur’, Jhon Gluba:  Ini Prestasi Bupati Merauke Diakhir Jabatan

Tokoh Papua Selatan, Johanes Gluba Gebze | LKF

Metro Merauke – Tokoh Papua Selatan, Johanes Gluba Gebze angkat bicara, setelah sejumlah anak Marind yang menempati jabatan di sejumlah  satuan kerja perangkat daerah (SKPD) dinonjobkan atau ‘digusur’  dari jabatannya dalam pelantikan beberapa waktu lalu.

“Tidak ada aturan di Republik Indonesia  yang mengisyaratkan kalau ada  staf  mengikuti kompetisi pemilihan kepala daerah entah provinsi/kota/ kabupaten dengan atasannya (bupati) harus dinonjobkan. Itu adalah suatu kesalahan,” tegas Jhon Gluba saat memberikan keterangan pers kepada sejumlah wartawan Jumat (17/1).

Dengan menonjobkan sejumlah pejabat Marind itu, harusnya mereka bisa menempuh jalur hukum  menggugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

“Saya mau tanya, kira-kira kesalahan mereka apa? Hanya karena mereka baru mau menjadi bakal calon bupati saja, sudah digusur. Ini kesalahan fatal dilakukan Bupati Merauke, Frederikus Gebze. Semestinya hal tersebut tak dilakukan,” katanya.

Jhon Gluba balik menantang aturan mana yang digunakan. Semua yang dinonjobkan adalah anak-anak asli Marind. Mereka adalah pewaris negeri ini.

“Kenapa mereka ‘dibunuh.’ Dulu Romanus Mbaraka maju sebagai calon bupati, saya masih angkat lagi menjadi Kepala Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda). Dimana instansi tersebut adalah tempat mengurus uang,” ujarnya.

Bagi Jhon Gluba, dengan menonjobkan sejumlah pejabat Marind, maka ini adalah prestasi diakhir jabatan Frederiukus Gebze sebagai Bupati Merauke. “Ya, dia nonjobkan anak-anak Marind, kita akan nonjobkan bersangkutan juga,” tegasnya.

Sebagai pemimpin, demikian Jhon Gluba, harus seperti tanah yang menumbuhkan semua makhluk kehidupan. Itu baru namanya pemimpin bijaksana.

“Bagi saya, itu kesalahan besar di tengah Orang Asli Papua (OAP) sedang berteriak sumber daya manusia (SDM). Namun saudaranya sendiri  ‘dibunuh’ hanya takut  kalah,” kritiknya.

Ditambahkan, jika ingin memperpanjang masa jabatan, rebutlah hati 148.000 suara warga Merauke. Tetapi ingat bahwa kalau selama lima tahun mengecewakan masyarakat, hasilnya sampai disitu.

“Siapapun rakyat harus dilayani. Mestinya kita menjadi cahaya. Dimana satu bola sinar di langkit, menyinari semua. Sehingga hati dan pikiran mereka menjadi cerah,” ujarnya.

John Gluba mengaku, bagi anak Marind kalau sudah  memecahkan  kapur, berarti perang dimulai. Perang bukan dengan saling baku panah, tetapi perang kompetisi untuk saling menjatuhkan. “Kita lihat nanti siapa yang akan jatuh,” katanya. (LKF)

Kirim Komentar