081344567070 metromerauke@gmail.com

Netralisir Aroma Tak Sedap, Kotoran Ayam Dicampur Dolomit, Kapur dan e-4

Sejumlah kandang ayam milik PT Harvest Pulus Papua-Merauke yang beralamat di Distrik Semangga | LKF

Metro Merauke – Gimin, Salah seorang pekerja di PT Harvest Pulus Papua-Merauke yang beralamat di salah satu kampung di Distrik Semangga mengungkapkan, untuk menetralisir aroma tak sedap dari kotoran ayam, setelah dikeluarkan dari kandang, dicampurkan dengan dolomit, kapur, e-4 serta serbuk.

Hal itu disampaikan Gimin kepada sejumlah wartawan Sabtu (11/1) disela-sela kesibukannya di lokasi kandang ayam petelur milik perusahan tersebut. “Memang untuk menetralisir aroma, perlu dicampurkan dengan beberapa zat dimaksud,” ungkapnya.

Setelah kotoran dicampurkan, katanya, dibawa ke tempat pembuangan yang berjarak kurang lebih 2 kilometer dari lokasi produksi. Disana telah disiapkan sejumlah lubang. Selanjutnya ditutup kembali dengan terpal-terpal.

Dijelaskan, kotoran ayam dapat digunakan sebagai pupuk. Hanya saja tidak langsung diambil begitu saja. Perlu dilakukan fermentasi hingga 31 hari kedepan. Setelah itu siapa saja, termasuk petani bisa datang mengambil untuk dimanfaatkan.

“Kita memberikan secara gratis. Tetapi dengan catatan, harus difermentasi terlebih dahulu dengan batas waktu yang diberikan. Setelah itu dapat diambil untuk kebutuhan memupuk tanaman dan lain-lain,” ujarnya.

Dalam sehari, katanya, limbah atau kotoran ayam bisa mencapai satu ton. Namun dua hari sekali baru dihantar ke lokasi pengolahan yang berjarak 2 kilometer itu.

“Memang pada bulan Oktober 2019 silam, kita mengalami kesulitan mendapatkan kapur, lantaran habis. Namun kini  sudah didatangkan dari Jawa dan disimpan digudang untuk dimanfaatkan,” ujarnya.

Manager Pemasaran PT Harvest Pulus Papua-Merauke, David Arinata mengatakan, pihaknya mengundang sejumlah jurnalis datang langsung di kandang ayam sekaligus melihat kondisi sesungguhnya. Juga mencium aroma dari jalan utama  sampai ke lokasi.

“Saya tidak ingin membela diri. Tetapi rekan-rekan bisa lihat dan mencium sendiri. Apakah benar aroma limbah sangat mengganggu aktivitas masyarakat sekitar atau tidak,” katanya.

David juga bersedia jika Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Merauke datang langsung ke lokasi. “Sekaligus kita bisa mencari tahu bersama sumber aroma yang dikeluhkan masyarakat agar menjadi lebih jelas,” pintanya. (LKF)

Tinggalkan Balasan

Satu Pasien Covid-19 Merauke Sembuh, Tersisa Dua Dirawat di RSUD