Beredar Selebaran Provokatif, Polda Papua: Itu Hoaks

Beredar Selebaran Provokatif, Polda Papua: Itu Hoaks

Selebaran provokatif yang beredar di masyarakat Jayapura

Metro Merauke – Kepolisian Daerah atau Polda Papua menyatakan selebaran bernuansa provokatif yang beredar di masyarakat Jayapura adalah hoaks (hoax) atau tidak benar.

Pernyataan itu disampaikan di akun facebook resmi Polda Papua sejak Sabtu malam (21/09). Polda Papua meminta masyarakat tidak percaya terhadap informasi dalam bentuk apa pun yang tidak jelas kebenarannya.

Selebaran itu menyebut terkait adanya rencana demonstrasi oleh Komite Nasional Papua Barat dan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) pada Senin (23/09).

Dalam selebaran itu, juga tertulis ajakan bernada provokatif kepada kelompok warga tertentu untuk berjaga-jaga, karena disebutkan akan ada anarkisme dan penjarahan saat demonstrasi.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Papua, Komisaris Besar Polisi Ahmad Mustofa Kamal mengatakan, masyarakat tidak perlu cemas dengan isu hoaks yang berkembang. Polda Papua dan jajarannya menjamin kemanan di seluruh Papua.

Kombes Pol A.M. Kamal menduga ada pihak yang berupaya memanfaatkan situasi Papua kini.

“Kami mengimbau semua masyarakat tetap berkativitas seperti biasa. Jangan termakan isu provokatif yang berkembang kini,” kata Kombes Pol A.M. Kamal, Minggu (22/09).

Menurutnya, hingga kini kepolisian di Papua terus mengejar pihak yang memanfaatkan situasi dengan menyebar berita bohong.

“Kami imbau semua masyarakat untuk tetap menajaga persatuan dan kesatuan bangsa. Menjaga kedamaian di tanah Papua,” ucapnya.

Sementara itu, Juru Bicara Nasional KNPB, Ones Suhuniap menyatakan pihaknya sama sekali tidak berencana menggelar demonstrasi pada 23 September 2019, seperti yang tercantum dalam selebaran yang beredar di masyarakat.

“Beredarnya informasi tentang demo pada 23 September, itu hoax,” kata Ones Suhuniap dalam pesan tertulisnya kepada berbagai pihak.

Ia menduga, pihak yang mengeluarkan selebaran tersebut adalah kelompok reaksioner dan dibentuk untuk menciptakan konflik horizontal.

“Rakyat tetap tenang dan tidak termakan isu provokatif dari kelompok ini,” ucapnya. (Arjuna/Pademme)