Ketika Guru Dan Siswa Gotong Royong Bangun RKB di SMAN Plus Satap 4 Senayu

Ketika Guru Dan Siswa Gotong Royong Bangun RKB di SMAN Plus Satap 4 Senayu

Para guru dan siswa bergotong royong selesaikan bangunan sekolah | IST

Metro Merauke – Dengan minimnya anggaran, akhirnya Kepala Sekolah SAMN Plus Satu Atap (satap) 4 Senayu, Distrik Tanah Miring, Kabupaten Merauke, Nikson T Notanubun harus mensiasati agar pembangunan satu unit ruang kegiatan belajar (RKB) tak menyedot anggaran besar.

Dengan tidak menggunakan jasa tukang,  Nikson ‘terpaksa’ menggerakan semua guru termasuk anak didiknya agar dapat menyelesaikan satu unit  RKB itu dari material papan.

“Sudah empat hari, saya bersama guru dan anak-anak bergotong royong menyelesaikan satu ruangan kelas bagi siswa-siswi kelas III. Karena selama ini mereka menggunakan ruang garasi motor untuk proses belajar mengajar,” ujar Notanubun kepada Metro Merauke Selasa (10/9).

Dikatakan, bangunanya juga sederhana. Selain berdinding papan, lantainya juga tak di-semen.  “Hanya lantai tanah saja, karena minimnya anggaran. Prinsip saya, biar bangunan sederhana, namun proses  belajar mengajar harus berjalan,” katanya.

Dia mengaku, kini bangunan sedang dirampungkan. Dinding sudah selesai dan sedang berlangsung pengatapan. “Dalam satu atau dua hari kedepan, sudah bisa dituntaskan. Sehingga segera ditempati siswa-siswi,” ungkapnya.

Dijelaskan, kapasitas ruangan dimaksud menampung sekitar 15 siswa dengan ukuran 6×6. “Kami tak harus menunggu terlalu lama dari pemerintah. Karena beberapa kali dilakukan pengusulan, tak kunjung direalisasikan sampai sekarang,” ujarnya.

Dikatakan, hampir semua anak yang sekolah di SMAN Satap Senayu adalah orang asli Papua. Namun sayangnya, berbagai fasilitas untuk mendukung proses belajar mengajar sangat minim.

“Tidak tahu dengan cara apa lagi saya lakukan. Beberapa proposal dibuat dan dihantar langsung ke provinsi juga, tak kunjung ada jawaban,” tegasnya.

Notanubun menyadari bahwa SMAN Satap Senayu adalah kewenangan pemerintah provinsi. Namun perlu diingat bahwa anak didik maupun aset adalah kepunyaan Pemkab Merauke.

Dengan demikian, katanya, harus ada perhatian khusus dari pemerintah setempat. Apalagi yang dididik adalah anak-anak Papua. “Dengan fasilitas memadai termasuk bangunan, tentunya mereka akan betah untuk sekolah,” katanya. (LKF)