Safari Politik ‘Ala’ Romanus Mbaraka

Safari Politik ‘Ala’ Romanus Mbaraka

Cabup Merauke, Romanus Mbaraka sedang dialog bersama masyarakat | IST

Metro Merauke – “Jangan lagi ada penderitaan rakyat di atas tanah ini. Jangan pula  ada  penipuan, omong kosong dan pembodohan dengan uang Rp 100.000-Rp 500.000. karena itu akan merendahkan martabat manusia. Artinya manusia dibeli hanya untuk kepentingan suara. Setelah itu dia lupa seumur hidup dan tak membangun lagi.”

Itulah ungkapan kritis dan tegas yang keluar dari mulut Drs.Romanus Mbaraka, MT ketika melakukan lawatan politik di belasan titik mulai dari Distrik Elikobel, Ulilin sampai Muting pekan lalu.

Kurang lebih satu minggu, tak henti-hentinya ia bersama tim bergerak dari satu titik ke titik lain, sekaligus berdialog langsung bersama rakyat.

Setiap titik yang dikunjungi, ratusan warga setia menunggunya. Karena ada kerinduan besar diharapkan untuk mendengar nasehat, petuah maupun warning langsung dari sosok tokoh ini.

Ketika bincang-bincang dengan Metro Merauke Senin (9/9),  Romanus Mbaraka mengatakan, sebelum melakukan kegiatan politik di tiga distrik, ia diundang masyarakat Suku Yeinan dari enam kampung menghadiri ritual adat di Kampung Kweel.

Masyarakat Kweel bersama Cabup Merauke, Romanus Mbaraka | IST

“Saat itu, masyarakat enam kampung menanyakan rencana saya kedepan. Lalu di hadapan ratusan pasang mata, secara spontan dan jantan saya nyatakan maju dalam pertarungan Pilkada Merauke 2020,” ungkapnya.

Setelah mendengar langsung, masyarakat setempat memberikan dukungan penuh yang ditindaklanjuti pernyataan Wakil Ketua Adat Suku Yeinan, Absolon. Dimana enam kampung secara adat sepakat memberikan dukungan kepada dirinya.

“Ya, pernyataan itu disampaikan saat prosesi adat secara sakral. Bagi kami orang Marind, disaat seperti begitu merupakan acara sacral dan wajib diikuti. Jika ada yang membelot atau keluar, resikonya sangat berat, berkaitan dengan maut,” katanya.

Sementara dalam lawatan politiknya di Kampung Kweel, Distrik Elikobel, ratusan masyarakat setempat baik laki-laki maupun perempuan, meneguk (minum) wati secara bersama-sama.

Bagi orang Marind, wati merupakan minuman yang tak keluar sembarang, kecuali ada acara penting. Ketika wati dikeluarkan dan dikonsumsi bersama, maka bagi masyarakat Yeinan sudah selesai.

Artinya, jelas Romanus, masyarakat menyatakan sistem noken diberlakukan dalam Pilkada Merauke tahun depan. Dimana mereka bulat satu suara memberikan dukungan kepadanya, lantaran telah adanya pernyataan sikap Wakil Ketua Suku Yeinan.

“Khusus untuk di Kampung Kweel, sudah pasti sistem  noken, karena ratusan masyarakat telah minum wati secara bersama-sama,” katanya.

Setelah dari Kampung Kweel, ia bergerak ke sejumlah titik lain. Dari hasil dialog yang dilakukan, umumnya masyarakat mengaku menyesal dalam pilkada lima tahun silam. “Semuanya menyatakan akan kembali mendukung saya,” tegasnya.

Romanus mencontohkan, saat menjabat pada 2011-2015, pembangunan infrastruktur terus digenjot seperti pengaspalan jalan. Hanya saja ketika ia tak menjabat, pengaspalan tak dilanjutkan lagi.

“Saya berpikir masyarakat tak mandi debu dan lumpur lagi. Ternyata sampai sekarang mereka masih mandi ‘bedak kuning’ dari ujung kaki hingga ujung rambut,” tegasnya.

Dikatakan, perjalanan selama kurang lebih seminggu , mendapatkan respon sangat besar dari masyarakat. “Saya diberikan makan gratis bahkan tempat tinggal juga. Semua berkomitmen dan sungguh-sungguh meminta saya maju dalam Pilkada tahun depan,” tegasnya.

Diharapkan masyarakat sadar dan melihat pemimpin yang mempunyai kapasitas, hati serta network. Karena dengan jaringan besar, entah pertemanan maupun kelembagaan serta non organisasi, akan dibawa ke Merauke ketika komunikasi dibangun.

“Saat menjabat bupati, saya komunikasi dengan Kedutaan Inggris dan Australia tentang pemberdayaan aparatur kampung. Sehingga ada dana didapatkan melalui program Ausaid serta Unicef yang dikelola Bappeda. Sehingga membuat daerah maju. Juga membangun komunikasi  ke pusat untuk APBN, agar berbagai program pembangunan dilaksanakan di Kabupaten Merauke,” ungkapnya. (LKF)