Ketika Romanus Mbaraka Menghadiri Ritual Adat Suku Yeinan

Ketika Romanus Mbaraka Menghadiri Ritual Adat Suku Yeinan

Mantan Bupati Merauke, Romanus Mbaraka sedang bersalaman dengan masyarakat

Metro Merauke – Kamis (29/8) sekitar pukul  23.00 Waktu Indonesia Timur (WIT), Mantan Bupati Merauke periode 2011-2015, Romanus Mbaraka bersama rombongannya, melakukan perjalanan menuju ke Kampung Kweel, Distrik Elikobel.

Dua unit mobil digunakan. Perjalanan ditempuh kurang lebih dua jam dari kota hingga Kweel. Memasuki kampung itu, dua mobil sempat ditahan polisi adat serta hansip. Setelah menurunkan kaca mobil, mereka pun kaget, karena yang datang adalah Romanus Mbaraka.

Ketua Adat dari Kampung Miwa-PNG,  Kanibae Mandoa  foto bersama Mantan Bupati Merauke dan Ketua LMA, Ignasius Ndiken | LKF

Setelah menyapa mereka, rombongan bergerak menuju ke rumah salah seorang warga.  Disana romobongan  tak langsung istirahat, tetapi sempat diskusi selama beberapa jam.

Alasan Romanus Mbaraka memilih perjalanan malam, dengan pertimbangan keesokan harinya  yakni Jumat (30/8) tepat pukul 06.00 WIT, harus membaur bersama masyarakat dari Suku Yeinan menyaksikan  ritual adat.

Pagi pukul 05.00 WIT, rombongan sudah bangun dan bersiap diri. Beberapa saat kemudian, Ketua Adat Suku Yeinan secara resmi datang menjemput Romanus Mbaraka. Lalu berjalan menuju ke tempat kegiatan.

Rombongan pun tak langsung diperkenankan masuk. Kurang lebih stengah jam menunggu,  baru diizinkan masuk. Lalu diarahkan menuju ke tenda dan duduk bersila beralaskan daun nipa.

Beberapa saat kemudian, datang Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA), Ignasius Ndiken bersama Ketua Adat Kampung Kaisa, Amandus Kaize. Acara pun dilangsungkan. Puluhan orang dengan mengenakan pakaian adat, keluar dari rumah adat.

Beberapa rangkaian ritual mulai dilangsungkan. Siapapun termasuk tamu, tak diperkenankan masuk dalam areal dimaksud yang telah disterilkan. Bahkan, awak media tak diperkenakan mengambil gambar. Karena panitia telah menyiapkan orang khusus mengabadikan gambar.

Salah satu ritual adat yang dilangsungkan yakni membawa keluar perahu dari dalam rumah adat dengan cara ditarik serta didorong secara bersama-sama. Itu sebagai symbol bahwa orang Yeinan dari enam kampung yakni Poo, Toray, Erambu, Kweel, Bupul serta Baedup berada dalam satu perahu.

Ritual adat dimaksud, tidak lain mengangkat jati diri orang Yeinan yang sesungguhnya. Sekaligus memperkenalkan kepada orang lain bahwa inilah orang Yeinan dengan tradisi adat tersendiri.

Dalam sambutannya, Romanus Mbaraka menyampaikan ucapan terimakasih atas terselenggaranya pesta adat sekaligus mempersatukan yang terpisah.

“Banyak saudara kita dari Papua Nugini (PNG) hadir disini. Mari kita saling menjaga, meski rumah kita berbeda. Kita adalah saudara, karena adat mempersatukan,” ungkapnya.

Romanus kembali mengajak seluruh masyarakat Suku Yeinan dari enam kampung agar harus satu. “Tadi semua orang Yeinan naik perahu. Itu berarti kita sudah satu. Jadi  perlu hidup baik dan terus menjalin persatuan,” pintanya.

“Persaudaraan harus tetap dipelihara sekaligus menjadi aset untuk diwariskan kepada anak cucu. Ini juga mempersatukan kita sebagai saudara. Jika kita semua  taat adat, akan saling menghargai. Karena adat adalah martabat serta harga diri kita masing-masing,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Romanus juga menyampaikan ada  bantuan  beras yang dibawa, jadi bisa diatur panitia. Juga sumbangan babi satu ekor. (LKF)